Jantung (Radar Banten, 31 Agustus 2014)

9:42 PM

Harian Radar Banten

Berbuatlah seperti jantung. Meski tak terlihat, ia tetap berdegup dan degupannya dirasakan oleh tubuh.
Siapa yang tak tergetar mendengarkan kalimat semacam itu? Terlebih bagi orang sepertiku, kalimat itu benar-benar membantu. Kau tahu? Dari kalimat itu aku bisa bertahan sampai sejauh ini. Kau tak percaya?! Mari aku ceritakan segelintir perjalanan hidupku. Duduklah dengan tenang, dan dengarkan kata demi kata yang akan aku sampaikan padamu. Bukannya aku ingin mengguruimu, aku hanya ingin berbagi pengalaman, semoga saja berguna untukmu. Bagaimana, kau siap? Bagus! Anggukanmu sudah cukup mewakili ucapanmu yang terkunci.
Cilegon, 1993
Ketika itu ayam jago belum mengumandangkan kokok-nya. Pagi buta, aku sudah terjaga. Menyusuri sebuah jalanan yang dipadati dengan ruko-ruko para pedagang. Indera penciumanku disambut dengan aroma anyir ikan segar bercampur entah bau apalagi. Yang jelas lalat-lalat berseliweran ke sana kemari. Kau tahu pasar baru di jalan Soedirman Km.5 dekat SMP 3 Cilegon itu? Ya, kau menunjuk ke arah yang tepat. Kau pernah ke sana, kan? Nah, di tempat itu dahulu aku tinggal. Tertidur pada emperan jalan dengan ditilami kardus-kardus bekas.
Di antara jejeran para pedagang pasar, pagi buta itu sudah cukup ramai. Banyak para pembeli berdatangan. Riuh dan padat. Bahkan mungkin kau takkan bisa membedakan mana pembeli dan mana penjualnya. Ya, karena semua berbaur dan melingkari barang dagangan yang dijajakan di sana.
Aku mengendap-endap memerhatikan tingkah laku mereka. Aku tidak mau menampakkan diriku di tengah-tengah keramaian itu. Kau mungkin bisa menebak alasannya. Ya, kan? Oh, tunggu sebentar. Aku membawa air mineral di dalam tasku. Mungkin saja kau dahaga.
Sudah berapa lama di sini? Lima jam?! Wah, lama sekali. Kulihat jarimu cukup besar. Kalau kau kuajak kerja, mau?! Ah, tak usah malu-malu. Atau mungkin aku lanjutkan dulu kisahku, ya?! 
Begini...
Saat melihat kerumunan orang yang sibuk mengurusi keperluan masing-masing. Aku terduduk pasrah di sebuah gang yang
cukup lengang. Kusandarkan punggung pada dinding lapuk di sana. Sudah hampir tiga hari saat itu cacing di perutku belum mendapatkan asupan makanan. Sejak aku diusir dari rumah—tepatnya tempat tinggal ibu angkatku—aku berpetualang tanpa arah tujuan. Kau tahu, sesekali aku berhenti sejenak di salah satu lampu merah. Anehnya beberapa orang menatapku iba. Tak segan sebagian dari mereka malah melempariku dengan uang recehan. Ya, bukan melempar ke wajahku sih, tapi di hadapanku. Lumayan, kugunakan untuk membeli makan. Namun entah apa maksud mereka itu. Apa mungkin aku disangka pengemis jalanan?
Sejak kejadian itu, aku sering bersembunyi. Aku tak mau kalau-kalau orang khalayak ramai memandangku karena kasihan. Aku terima dengan takdir yang Tuhan berikan. Tetapi, aku tidak siap jika hidup dipenuhi dengan rasa belas kasihan. Aku sama seperti mereka. Lebih baik aku bekerja keras untuk mendapatkan uang daripada harus mengemis. Seperti orang-orang yang pernah kutemui. Tubuh mereka kekar. Masih terlihat sehat, tetapi malah memilih menjadi pengemis sebagai profesinya. Mereka sempat mengajakku. Katanya kalau orang melihat fisikku pasti penghasilan mereka akan bertambah. Tentu, aku menolaknya mentah-mentah. Mungkin karena keangkuhanku, sampai subuh di pasar itu, aku bertahan dalam kesendirian.
Tak sedikit anak-anak yang menghina kondisi tubuhku. Mungkin itu pula yang kau alami. Tapi beginilah hidup. Sebelum Ayahku wafat, beliau pernah berpesan bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan makhlukNya. Itulah sebabnya, aku merasa orang yang paling diperhatikan oleh Tuhan. Keberadaanku selalu mendapatkan perhatian yang lebih dari orang di sekelilingku. Bukankah hidup akan terasa bahagia bila kita bisa menerima prosesnya?
Sesekali, memang dibutuhkan air mata untuk mengungkapkan sesuatu dalam hati. Kau tak perlu menyembunyikan kepalamu di antara lutut seperti itu. Tidak ada larangan bagi lelaki untuk menangis. Keluarkan saja. Aku siap mendengarkan keluh kesahmu. Bagaimana? Tenanglah, aku tahu perasaanmu. Aku pun lelaki layaknya dirimu. Baiklah, kalau begitu aku lanjutkan dulu ya, ceritanya. Ini minumlah lagi bila memang kau masih haus.
Ketika aku kembali sibuk memerhatikan orang-orang di antara sayur-mayur dan segala macam barang dagangannya, aku dibuat terperanjat saat seseorang menepuk pundakku dari belakang. Jantungku benar-benar terkesiap. Kuputar kepalaku, ternyata dia seorang pria yang kutaksir seusia Ayahku sebelum meninggal. Mulanya aku ketakutan, bahkan mencoba berlari walau tak mungkin. Namun, sepertinya dia orang baik-baik. Dan benar saja, setelah aku mau diajak berbincang dengannya, ia tidak seperti kebanyakan orang yang aku temui selama perjalanan. Ia menganggapku layaknya orang normal pada umumnya. Tanpa ragu bahkan ia menawariku pekerjaan. Kecanggunganku hilang, kemudian mengangguki ajakannya. Ia sepertinya orang kaya. Terlihat dari mobil mewahnya yang terparkir di lapangan pasar yang luas itu. Aku dibantunya menaiki mobil tersebut.
Hingga sekarang, kau tahu? Aku masih bekerja untuknya sebagai administrator di salah satu perusahaan yang dia pimpin. Memang rata-rata yang bekerja di sana kondisinya hampir sama sepertiku. Ia pun sempat menawariku untuk melanjutkan sekolahku ke Perguruan Tinggi.Aku menolaknya halus. Aku malu, karena mengingat usiaku yang sudah berkepala tiga. Sejak saat itu aku merasa beruntung bisa terlahir di dunia ini, meski dengan kondisi yang tidak sempurna. Aku percaya, Tuhan selalu punya tujuan dan hikmah dari apa yang diberikan kepada setiap hamba-Nya.
Hmm..., mentari sudah mulai tenggelam. Apa kau lapar? Mari ikut bersamaku. Tak perlu kau lihat aneh tubuhku yang tanpa sepasang kaki ini. Kau lebih baik dariku. Yakinlah, ada orang yang lebih tidak beruntung di bumi ini. Salah satunya mereka yang terlahir dengan fisik sempurna namun tidak mau memanfaatkannya dengan bijak.
Hey! Kau tak perlu melihat dasar sungai itu lagi. Jarak jembatan ini hingga ke sana itu tinggi sekali. Apa kau masih mau melompat ke sana, hah?! Kau yakin?
Pria tua yang memberikan pekerjaan padaku itu pernah berpesan, “Berbuatlah seperti jantung. Meski tak terlihat, ia tetap berdegup dan degupannya dirasakan oleh seluruh tubuh.”
Jadi, kau tak perlu risau orang-orang mengucilkanmu karena kau hanya penyandang tunawicara. Mereka hanya tak paham keadaanmu dan cara berinteraksi denganmu. Beruntung aku pernah memiliki adik yang terlahir sama sepertimu. Jadi aku pernah belajar cara berkomunikasi dengannya. Naas, ia lebih dahulu dipanggil oleh Tuhan bersama Ayah karena sebuah kecelakaan. Ah, sudahlah. Aku tidak mau kembali meratapi sesuatu yang kadung terjadi.
Lihat di persimpangan sana, sepertinya warung Sate Bebek itu masih buka. Kau sudah pernah mencicipinya? Belum?! Wah sayang sekali. Dari gelengan kepalamu sepertinya kau sangat lapar. Mari makan denganku di sana. Kita menumpangi mobilku yang terparkir di seberang. Sebentar, aku hubungi sopirku yang ada di dalam mobil itu bersama ayahmu, aku akan memintanya segera kemari. Mau bagaimanapun masalah perut tetap nomor satu. Betul, ‘kan? Ha-ha-ha... akhirnya aku bisa membuatmu tertawa juga.[]
Cilegon, 09 Agustus 2014

You Might Also Like

0 komentar