CERPEN

1:29 PM



“Teguran dari Tuhan”

Dalam mimpiku, aku terbangun untuk pergi ke toilet karena tak tahan ingin buang air kecil. Malam itu tak seperti biasanya, terasa dingin gelap serta suasana yang mencekam. Semua aku hiraukan karena aku tidak ingin berpikiran yang tidak-tidak, sebab aku takut itu akan membuatku semakin was-was. Setelah selesai dari toilet, aku bergegas untuk beranjak tidur lagi, namun sesuatu yang janggal aku dapatkan. Di dekat pintu ruang tamu ada dua sosok bayangan laki-laki sedang jalan perlahan menuju ruang keluarga ---sebutanku untuk ruangan menonton televisi. Tapi tidak seperti biasanya aku yang penakut ini, mendekat untuk mendatangi dua sosok misterius itu, seketika matanya menyorot serta menoleh kearahku. Bibirku rasanya kelu untuk mengucapkan kata-kata. Aku coba mengindahkan dan beranjak untuk tidur kembali, yang memang aku lihat jam masih pukul 01.30. karena hal tadi aku tidak dapat melanjutkan tidurku. Lalu akhirnya kucoba membangunkan Ibu yang kamarnya bersebelahan denganku.
“Kamu lihat yang
tadi itu?”Ujar seorang pria yang ada diruang tamu tadi kepada temannya.

“Iya Sam aku melihatnya, sangat mengerikan!” sahut temannya yang badannya mulai gemetar.
“mungkinkah ini yang banyak orang katakan tentang rumah Nomor  13 di blok 13. Aku tadinya tidak percaya, tetapi mengalami kejadian ini semua Aku jadi merasa  takut Jon!” menarik baju temannya.
“Iya Aku juga, apa kamu mau melanjutkan ini, atau pergi sekarang juga. Kakiku tak berhenti gemetar.”
“Jangan! ini rumah besar, pasti menyimpan uang yang banyak dan barang-barang berharga. Sudah terlanjur kita sampai disini, aku tidak mau pulang dengan tangan kosong.” Ucapnya yang berniat ingin mencuri di rumah itu.
Mereka setiap melangkahkan kaki terasa berat, wajah pun terlihat sama pucat. Suasana dalam rumah itu terasa seperti ada angin badai yang menerpa tubuh mereka bertubi-tubi, tetapi kegigihan mereka tetap tidak pupus.
“Bu, bangun Bu! Aku melihat ada dua bayangan yang misterius di ruang tamu kita. Saat aku lihat, mereka membalas tatapanku, tapi entahlah mereka terlihat diam saja, seperti ketakutan.” Ucapku tergesa-gesa  setelah sampai di kamar Ibu.
“Kamu bicara apa sih, jangan berisik ah. Ayahmu nanti terbangun. Bilang saja kamu mau tidur dengan Ibu, kamu takut kan?” ejeknya  yang tidak meladeni  ucapanku.
“Apa sih Ibu ini, gak percaya sama Rasyid. Aku sudah 18 tahun Bu, aku bukan anak kecil lagi. Aku berkata sebenarnya, percayalah!” Aku yang mencoba meyakinkan Ibu.
“Aaarrghh, panasss...tolong, tolong!!!” terdengar seruan orang minta bantuan di ruang tamu. Sontak Aku dan Ibu pun kaget, begitu pula dengan Ayah. Dengan muka yang cemas dan ketakutan Aku, Ayah dan Ibu menuju sumber suara. Aku tersentak dan kaget bukan kepalang, kami menyaksikan dua orang ---yang sepertinya dua sosok misterius  yang aku lihat di dekat pintu ruang tamu tadi--- sedang mengerang kesakitan karena disekujur tubuhnya terlihat melepuh seperti terbakar api yang amat panas. Wajah mereka memerah dengan lingkar hitam di mata yang terlihat semakin dalam.
“Ada apa ini, siapa kalian?” bentak Ayah.
“Ampuuunn, maafkan kami tolong jangan apa-apakan kami. Hilangkan kutukan ini..!!!”Ucap kedua pria itu memohon.
“Bicara apa kalian, kutukan apa? Aku tidak mengerti maksud ucapan itu.” Tanya Ayah kebingungan.
“Maafkan kami Pak! Kami berniat untuk mencuri di rumah ini, banyak yang bicara rumah ini angker  karena bertempat di blok 13 dan no.13. Kami tidak percaya sebelum akhirnya semua ini terjadi. Di banyak rumah yang sudah kami curi tak pernah terjadi kesialan seperti ini.” Ujar salah seorang pencuri itu sembari teriak kesakitan.
“Anak itu, dia...” sambil menunjuk kearahku dengan muka yang ketakutan dan melanjutkan ucapannya. “Dia Berjalan didepan kami, tubuhnya memancarkan cahaya hingga terlihat tiga rombongan pasukan perang berlari kearah kami.” Terang pencuri itu dengan tubuh yang terus mengeluarkan asap, padahal tidak ada api ditubuhnya. Kontan aku terhentak dengan apa yang diucapkannya. Mendengar itu aku teringat hal sebelumnya, pantas saja mereka memandangku seperti orang ketakutan saat itu.
“Aku tekankan, ini bukanlah sebuah kutukan, mitos, atau apalah yang kalian ucapkan sedari tadi. Ini jelas ‘adzab dari Allah untuk kalian yang senang mencuri. Dengan kebesaranNya Dia tunjukan ‘adzab itu di rumah kami sekarang, untuk kalian berdua.” Ayah yang menjelaskan persepsi menyimpang mereka. Tiba-tiba salah seorang dari mereka menghilang dari pandangan mata, belakang leherku terasa panas, saat aku menoleh terlihat seorang pencuri tadi siap mencengkram leherku. Aku ketakutan saat jari melepuhnya melingkar dileherku, ketika dia mau mencekikku lalu... seketika aku terbangun dari tidurku. Nafasku tak karuan, terasa cepat dan jantungku berdegup keras sekali.
“Astagfirullah, syukurlah semua itu hanya mimpi.” Aku mengusap keringat yang deras di keningku. Istighfar terusku tasbihkan. Terdengar adzan shubuh telah sampai di telinga. Kurasa mimpi tadi adalah sebuah teguran dari Allah. Aku yang jarang mengingatnya saja digambarkan seorang yang bercahaya dengan rombongan perang yang dapat melindungi keluarga dari pencuri itu, begitu Maha Pengasihnya Dia. Aku sungguh sangat malu dengan diri ini, mulai pagi itu juga, Aku berjanji akan selalu beribadah kepada Allah SWT.
Cerpen ini bisa kawan-kawan baca juga di buku antologi FF berjudul : "Misteri Angka 13 (Penerbit Harfeey,2013)"

You Might Also Like

0 komentar