Kumpulan Cerpen

2:22 PM


“Kecil-Kecil Si Cabe Rawit”
(Karya: Ade Ubaidil)
Kala mentari pancarkan kehangatannya,dalam kegersangan siang yang teramat terik menyingsing,akan terasa berbeda ketika kita menorehkan pandangan ke arah rumah sederhana di persimpangan jalan,tepatnya kediaman Ibu Rina. Seorang wanita paruh baya yang sekiranya berusia 51 tahun.Di dalam rumah yang dikelilingi dengan rumah kumuh jua-lah dia tinggal bersama dua orang anaknya Anisa dan adik laki-lakinya Usman.
Keberadaan Ayahnya masih sering menjadi tanda tanya besar  yang hampir setiap waktu anak-anak tanyakan. Namun tak sedikit Sang Ibu menyangkal dan mengalihkan pembicaraan dengan beribu alasan. Dia memang sebenarnya  tidak tahu pasti kemana sang suami tinggal sekarang,tetapi yang dia ingat sampai saat ini bahwa sang suami pergi meninggalkan dirinya bersama Anisa ketika Usman dalam kandungan dan tanpa alasan yang jelas mengapa Ayahnya pergi meninggalkan mereka.
“Ayah,dimana kini kau berada,Aku ingin sekali bertemu dengan Ayah.”Gumam Usman yang hanya dapat meratapi wajah Ayahnya melalui selembar kertas foto yang sangat ia rawat dengan baik.
“Nis,coba panggilkan Adikmu,Ada yang mau Ibu bicarakan dengannya!” Perintah Ibunya yang terbujur lemah di kasur tak layak pakainya.
“Baik bu.”Sahut Anisa santun sambil menuju ke kamar Usman.
“Tok-tok-tok”
Terdengar suara ketuk pintu.
“Man,Usman!” sembari membuka pintu kamar Usman secara perlahan.
“Man,ada apa? Kenapa kamu menangis ?”Tanya Anisa saat melihat kearahnya seraya menghampiri.
 “Ti,tidak ada apa-apa Kak,hanya saja mataku kemasukan debu.” Jawabnya terbata sambil menghapus air matanya.
“Tidak Man,kamu pasti menutupi sesuatu,ayolah ceritakan saja pada kakakmu ini,dengan senang hati pasti akan Aku dengarkan.” Ujarnya yang semakin penasaran.
“Memang tidak ada Kak!” yang masih berusaha mengelak,namun tanpa sengaja Usman lupa menyembunyikan foto Ayah,yang biasanya ia taruh di bawah bantalnya.
“Itu foto siapa?”
Ucap Anisa yang penasaran dan langsung mengambil kertas foto yang tergeletak tepat disamping ia duduk.
“Ja,jangan Kak!” Usman yang berusaha mencegah namun tak berhasil.
Seketika Anisa terdiam tanpa sepatah kata pun,setelah melihat foto siapa yang ada ditangannya itu. Kini Ia tau apa yang sedang Usman rasakan,tanpa terasa air matanya pun pecah dalam keheningan ruang.
“Hmm,maafkan Kakak yah Man,tadi sudah memaksamu untuk bercerita.” Nadanya lirih sambil memeluk erat Usman.
“Iya Kak. Aku juga minta maaf karena tak mau berterus terang tentang apa yang Aku rasakan saat ini.”Ucapnya tersedu-sedu.
“Astagfirullah,hampir saja Aku lupa tujuanku kemari. Tadi Kakak disuruh Ibu untuk memanggilmu,katanya ada yang ingin Ia bicarakan. Yah sudah cepatlah temui Ibu sekarang!”Ucapnya lega.
“Sungguh kasihan Usman,Ia belum pernah sekalipun melihat sosok Ayah yang sebenarnya,hingga usianya kini telah beranjak 8 tahun.”Bisiknya perlahan dalam hati sembari keluar dari kamar Usman. Memang usia usman terpaut jauh dengan Anisa,kira-kira 13 Tahun dari usianya.
“Ada apa Bu,tadi kata Kak Anis Ibu memanggilku?”
“Iya Man,Ibu mencarimu karena Ingin meminta tolong.”Jawabnya disertai batuk ringan.
“Baiklah,memang Ibu mau minta tolong apa?”
“Tolong belikan obat batuk yah Man,di warung Pak Yanto di perempatan jalan sana,kamu tahu kan ?” Ujarnya sambil memberikan uang kepada Usman.
“Oh,Iya Bu Usman Tahu kok!”dengan senang hati ia bergegas untuk pergi.
***
            Dalam  setiap derak langkahnya,tak henti-henti  Usman merenung akan  keberadaan Ayahnya yang sampai detik ini belum pernah sekalipun ia temui.
“Meskipun Aku hanya di besarkan dengan dekapan Ibu  saja,dan Kak Anisa,namun Aku harus tetap kuat dan tegar .Aku tidak boleh mensia-siakannya.Aku akan menjaga Ibu dan Kak Anisa semampuku,seperti bagaimana mereka menjagaku.Meskipun Aku hanya anak kecil,tetapi Aku tak boleh cengeng  hanya karena rinduku terhadap Ayah.” Janjinya dalam hati. Perkataan yang tidak sewajarnya dapat dilontarkan dari anak ingusan berusai 8 tahun,tetapi memiliki tekad yang begitu besar dan dewasa bukan pada waktunya karena semua faktor  keadaan yang mendesaknya berfikir kritis.
Usman tetaplah Usman. Ia adalah anak yang periang,semangatnya kembali  bersemi dan Ia melanjutkan perjalanannya untuk membelikan obat guna Ibundanya yang sedang sakit. Namun tak disangka Usman yang sedang asiknya berbincang sendiri,ia tidak menyadari langkahnya beralih hampir ke tangah jalanan,yang memang sedari tadi sepi. Berselang hanya beberapa detik hingga saatnya Ia menyadari,terdengar  suara deru kendaraan bermotor yang melaju begitu kencang,ketika Ia menolehkan kepalanya,terlihat sepintas dalam pandangannya seseorang berbadan besar,mengenakan jaket kulit dan celana jeans panjang robek-robek, dan mengenakan topeng sejenis penutup kepala yang biasanya dikenakan para penjahat yang sering Usman lihat di televisi. Hampir saja menyerepet badan Usman yang kecil,tetapi untunglah Ia dapat dengan cepat menghindari pengendara motor yang ugal-ugalan itu.
“Huh,hampir saja Aku tertabrak!” helaan nafas lega sembari mengusap keringat di keningnya.
“Bangsat,siapa anak itu? Menghalangi jalanku saja.”Gerutu pengendara motor misterius itu,yang tetap melaju dengan teramat kencang.
***
Tibalah Usman di tempat yang Ia tuju,tepatnya warung Pak Yanto,meski banyak rintangan yang harus Ia lalui. “Apa yang terjadi?”Tanyanya dalam hati. Dalam keheningan jalanan berganti suara kegaduhan yang didengarnya dalam rumah Pak Yanto.Ketika Ia mencoba untuk mendekat,terlihat sesosok Laki-laki dewasa bertopeng yang sama persis ciri-cirinya dengan orang  dipersimpangan jalan yang hampir mencelakakan  dirinya  tadi. Benar saja kecurigaannya tentang orang itu,Lelaki misterius itu merampok dan merampas sebagian besar harta Pak Yanto,terlihat dari barang jarahannya yang sedang digenggam olehnya. Terjadi tarik-menarik antara Pak Yanto dengan Perampok itu yang berusaha mencegahnya,tetapi apalah daya perampok itu-pun mendorong Pak Yanto yang memang sudah berusia senja hingga terjatuh,sungguh teramat keji.
            Rupanya Usman tidak terima dengan perlakuan perampok itu,yang sangat tidak manusiawi dalam pandangannya. Bergegas Ia membantu Pak Yanto untuk bangkit,bersamaan dengan kaburnya Perampok itu.Tanpa rasa takut,Usman justru berteriak kencang sekali.
“Maling..maling..!!!” Serunya lantang.
Perampok itu-pun takut bukan kepalang,belum sempat menaiki motornya karena ketakutan,Ia langsung berlari tanpa menghiraukan sepeda motornya,mungkin saja warga kampung akan datang dan menangkap lalu memukulinya,fikirnya yang  terlintas dalam benak  Usman ketika itu.
“Maling..maling..!!!” Ucap Usman semakin keras hingga beberapa warga sekitar keluar dari rumahnya masing-masing. Usman berteriak sembari berlari berusaha mengejar perampok misterius itu,tanpa rasa takut langkahnya pasti bak seorang jagoan.
“Sialan itu anak mau ngapain lagi,bukankah anak itu yang hampir Aku tabrak tadi ?”gerutu sang rampok yang terus bertanya-tanya. Sementara Usman hafal betul dengan jalanan yang dilalui rampok itu,tanpa buang waktu langsung saja di memotong jalan dan berlari melalui jalan pintas yang dengan yakin bahwa rampok itu pasti akan melaluinya.
“Wah kemana larinya anak yang mengejarku tadi ?semoga saja Ia sudah lelah dan pergi meninggalkanku.”nadanya sedikit bingung namun sudah nampak terlihat lega.
Benar saja apa yang sudah di rencanakan oleh Usman,perampok itu melalui jalan yang sudah Usman persiapkan beberapa jebakan,dan tak lama kemudian akhirnya dia terkena perangkap. Dari mulai tersandung  tali yang diikat menyebrang,hingga jebakan balok kayu yang membuat Ia tersungkur dan jatuh menimpanya.
“Hore… akhirnya Aku berhasil!”Sorak sorai terdengar dari balik tempat sampah.
“Sialan anak kecil tadi,ini ulahmu yah ? awas kamu!!!” kesal sang rampok yang mengancam tetapi tak mampu berbuat apa-apa,karena tertimpa balok kayu dan langsung diikat dengan beberapa utas tali yang Usman temukan dijalan sempit itu. Dengan penasaran Usman terus menatap matanya,tanpa ragu Ia langsung membuka topeng yang dikenakan oleh Perampok itu,ketika melihat parasnya,Ia seketika termenung seperti sedang mengingat sesuatu.
“Ayah..? ini Ayahkan? ” Ucapnya spontan.
“Bicara apa kamu,Aku bukan Ayahmu! Seenaknya saja kau berkata.” dengan sontak Perampok itu mengelak.
“Aku Usman Yah,mungkin Ayah tidak kenal siapa Aku,tetapi Aku tahu siapa Ayah!” dengan tersedu-sedu Ia menjelaskan.
“Ayah sudah tega meninggalkan Ibu cukup lama,dan pada saat Ibu sedang mengandung.Harusnya Ayah tahu,itulah Aku yang ada didalam kandungan Yah,Aku adik Kak Anisa. Ibuku Rina. Pasti Ayah mengetahui ini semua! Kenapa Ayah tega melakukan ini semua kepada kami?” Ujarnya yang terus memaksa perampok itu untuk mengakui bahwa Dialah Ayah kandungnya. Begitu keras kepalanya sang Perampok itu,cerita Usman tidak langsung membuat Ia mengakui semua itu.Namun Usman tidak mau mensia-siakan kesempatan,terus dan terus Ia menceritakan semua yang Ia ketahui meski tak jarang perampok itu berontak dan berusaha keras untuk melepaskan diri dari ikatan tali yang Usman lakukan tadi,meski tak pernah berhasil.Akhirnya karena kegigihan Usman,Permpok itu mengakui bahwa memang benar apa yang Usman katakan,bahwa Dialah Ayah biologisnya. Paras penyesalan kini nampak terlihat dari wajahnya yang nampak sudah tua. Mereka-pun saling berpelukan. Namun tak lama kemudian polisi datang yang rupanya mendapati laporan dari Pak Yanto.Usman tak bisa berkutik saat melihat Ayahnya diseret paksa dengan Polisi,dan terdengar kabar  ternyata Ayahnya adalah buronan polisi yang selama ini sedang dicari.
“Terimakasih yah Dek,kamu telah membantu menangkap Perampok ini,kamu memang Anak kecil yang tangguh!” puji seorang Polisi dengan senyum mengembang di wajahnya. Usman hanya dapat termenung dan tetap diam.tak seutas katapun keluar dari bibirnya,Ia hanya dapat memandang Ayahnya dengan tatapan yang kosong,begitu pula sebaliknya,hingga mereka berpisah dari persimpangan jalan itu.
***
Tanpa berfikir panjang,Usman lekas berlari pulang.Dia lupa akan tujuan semulanya,jusru Ia bergegas pulang Untuk segera mengabarkan kejadian yang baru dialaminya kepada Kak Anisa dan Ibundanya yang sedang sakit.Sungguh malang beribu sayang,Usman kecil harus dihadapkan dengan kehidupan yang penuh akan cobaan. Dalam kesedihannya justru sekarang Ia melihat kepulan asap dan memarnya api menyelimuti hampir seluruh rumahnya. Percikan dan kobarannya terasa begitu membara dalam pandangannya yang berlinangan air mata.Disekitar rumahnya sudah terlihat orang-orang berkerumun menyaksikan dan tak sedikit yang berusaha membantu memadamkannya.
“Apakah Kak Anisa dan Ibu ada didalam rumah ?”Pertanyaan besar yang terbesit dalam benaknya.
Usman terus mencari,dan berusaha mendekati rumahnya. Berdesak-desakan Ia dalam gang sempit itu. Ia terus memberikan harapan besar dan berharap semoga saja Kak Anisa dan Ibunya sudah tidak ada didalam rumah.  Tidak lama kemudian Ia melihat Kak Anisa,namun dimana Ibu ? Ujar hati kecilnya seraya berlari menghampiri Kak Anisa.
“Kak ini ada apa? Ibu dimana Kak?”Tetesan air mata yang terus membanjiri lesung pipinya yang manis.
“Maafkan Kak Anisa Man,ini semua salahku. Kakak tadi sempat pergi sebentar ke rumah teman,tetapi karena asyiknya mengobrol Kakak tidak segera pulang dan Kakak lupa bahwa sedang memasak air untuk Ibu. Mungkin api itu menyambar kabel lampu yang memang berdekatan dengan kompor tempat Kakak memasak.Tetapi entahlah,yang pasti sekarang Ibu masih terperangkap di dalam rumah.”Sembari menahan isak tangisnya.Tempat mereka tinggal memang teramat jauh dari jangkauan pemadam kebakaran,sebab jalanannya tidak cukup untuk dilalui sebuah mobil,itu sebabnya api tak kunjung padam karena kurangnya bantuan yang datang.Tanpa seizin Kak Anisa,Usman langsung melepaskan pelukannya dan segera bergegas masuk menuju rumahnya yang terbakar.
“Man,jangan Man! Berbahaya,kamu hanya Anak-anak,Aku takut nanti terjadi sesuatu denganmu.”teriak Kak Anisa yang mencoba mencegah langkah Usman,tetapi tidak Usman hiraukan. Teringatlah Ia dengan kejadian tiga hari yang lalu,sebelum Ibunya jatuh sakit. Dia sedang bermain sepak bola bersama teman-temannya di belakang rumah.Namun tanpa sengaja Usman menendang dengan keras dan meleset lalu mengenai dinding pojok dari pintu dapurnya.Kebetulan pada hari itu Ibu dan Kak Anisa sedang pergi berbelanja di pasar. Robohlah dinding itu, dengan lubang yang cukup besar untuk dilalui anak kecil seukuran Usman yang memang sudah amat rapuh dan belum pernah direnovasi ulang semenjak ditinggal pergi Ayah mereka.Teman-teman Usman langsung berlari meninggalkannya,Usman semakin ketakutan,Karena takut akan ketahuan lalu dimarahi.Usman segera berfikir untuk menutupinya dengan tumpukan kardus dan meja yang ada didapur.Hingga kini Ibu dan Kak Anisa belum mengetahui hal itu.
Sekarang Usman berfikir untuk melalui lubang itu,karena sudah tidak ada jalan masuk lagi,semua sudah hangus terbakar. Dengan tergesa-gesa Ia mendorong meja dan tumpukan kardus yang sebelumnya pernah Ia perbuat sendiri.Di dalam Ia bingung,semua ruangan sudah terpenuhi dengan kerumunan asap hitam yang amat tebal,tetapi tidak lama Usman mendengar teriakan lirih meminta bantuan.”Tolong…tolong!” Usman hafal betul suara itu. Dia terus mencoba mencari dari mana asal sumber suara tersebut,hingga akhirnya Ia menemukan Ibunya tergeletak lemah dalam ruang kamarnya.
“Ibu! Apa kau baik-baik saja?” memeluk Ibunya dengan erat. Tanpa menbuang waktu Usman segera mengajak Ibunya keluar dan mencoba menuntunnya meski Ia terlihat kelelahan.Ibunya mengikuti jalan yang Usman arahkan walau langkahnya tertatih-tatih.Usman menuju lubang yang tadi Ia lewati,tetapi diatap terlihat kayu yang terbakat,dan hampir saja menimpa Usman dan Ibunya.Sampailah Ia dilubang tadi,dengan susah payah Ibunya melewati lubang Itu,namun terus dipaksakan karena tidak ada jalan keluar lagi,selain lubang itu.
“Al-hamdulillah,syukurlah Ibu dan Usman selamat!”Ujar Kak Anisa lega dan menghampiri mereka.
“Ibu maafkan Aku yah,Aku telah meninggalkan Ibu sendirian di rumah.”Sambungnya dengan kata penyesalan sambil memeluk Ibunya erat.Ibunya menganggukan kepala saja,karena belum dapat berkata apa-apa.
“Man,kamu memang Adikku yang tangguh dan ksatria. Kamu sangat pemberani,Aku bangga padamu Man.”Memuji Adiknya dan mendekat untuk memeluknya.
***
Sebulan sudah berlalu dari kejadian itu,meski kini mereka tinggal bersama saudaranya,sementara rumahnya sedang diperbaiki,namun cahya mentari senja mengiringi langkah mereka menuju bui dibarengi dengan  pengakuan akan kesalahan yang telah Usman lakukan. Dedampainya di penjara mereka saling bercerita,lalu Ayahnya meminta maaf dan menyesali perbuatannya yang  telah menelantarkan mereka semua hanya karena masalah ekonomi,dan Ibu Rina beserta Anak-anaknya menerima kesalahan Ayah mereka dengan lapang dada,Ayahnya berjanji setelah keluar nanti akan tinggal bersama Ibu dan Anak-anaknya. Mereka menjadi keluarga yang harmonis dan utuh kembali dengan memegang prinsip bahwa keberlimpahan materi bukanlah sebuah acuan sebagai tolak ukur suatu kebahagiaan,melainkan kuncinya adalah bersyukur sebagai alternatif menuju sebuah kebahagiaan.



terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membacanya.


Silahkan post-kan komentar anda,dan berikan tanggapan serta pendapat tentang cerpen tersebut.

You Might Also Like

0 komentar