(Esai) Pamitnya #CokiMuslim adalah Kemenangan #GolonganKami

10:00 PM


image by @iyddesign

Saat lagi asyik berselancar di Instagram, tiba-tiba postingan Coki Pardede muncul di news feed saya. Dia mengunggah video berjudul, “Debat Kusir - Episode Terakhir” dengan tumbnail bertuliskan “Coki Muslim Pamit” dan dua topi tergeletak di meja. Segera saya klik, karena video yang ada mereka biasanya jaminan kelucuan nan HQQ. Tapi, sepanjang video berdurasi 7.05 menit itu tak nampak tektok jokes dari mereka. Keduanya bicara serius dan mengklarifikasi soal kasus yang sedang santer menimpa mereka.

Di menit terakhir mereka menyampaikan undur diri dan pamit dari dunia per-standup-an. Di beberapa detik terakhir, saya masih menunggu “tapi boong” dan #hiyahiyahiya dari mulut jail Muslim maupun Coki—seperti video sebelumnya ketika membahas Atta Halilintar. Sialnya nihil. Saya kembali ke akun instagram mereka, rupanya semua postingan mereka yang berkaitan dengan MLI telah mereka hapus/disembunyikan. Bahkan cuma ada satu video itu di galeri Instagram Coki. Menyedihkan sekali....

Penganut agama Islam makin hari makin dikenal sebagai agama yang mudah mara-mara. Hampir semua media mencitrakan itu. Untuk mengerti ilmu agama, kini seolah tidak perlu lagi bertemu dan meng(k)aji langsung ke para ahli, ulama dan kiai. Cukup sediakan kuota internet, ketikkan keyword pada kotak pencarian browser kamu, lalu tekan enter. Semua hadist, penggalan ayat Alquran berikut terjemahannya deras muncul di layar monitor atau smartphone kamu.

Tak perlu pendalaman ilmu agama, kamu telah menjelma umat paling cerdas seantero dunia maya. Misal, ada seorang teman ketika salah sedikit dalam mengeluarkan pendapat lewat statusnya, kamu datang dengan sigap mengutip ayat-ayat Alquran dan menyampaikan lo salah gue yang bener, di kolom komentarnya. Bulian-demi-bulian datang, bahkan kamu sendiri yang sengaja mengundang orang-orang yang dalam #golongankami untuk nimbrung menceramahi. Persekusi di media sosial sudah bukan lagi barang langka. Justru toleransi beragama dan berpendapatlah yang telah pudar. Terus saja begitu, tanpa mau menghadirkan diskursus yang serius atau membuka ruang diskusi di dunia nyata.

Di grup-grup WhatsApp misalnya, ada satu anggota yang meneruskan artikel soal PKI. Ketika itu saya bilang jangan bahas di grup chat, kalau mau mari ketemu, kita bikin diskusi khusus membahas tema tersebut dan undang semua anggota grup, kita hadirkan para pakar yang mengerti soal sejarah PKI yang ada di Indonesia. Tapi apa jawabannya, dia bilang saya cuma meneruskan dari grup sebelah, intinya jangan biarkan PKI bangkit kembali. Di akhir balasannya dia menulis, “biar rame aja grupnya”, lalu dia menghilang dan tak tahu arah jalan pulang dan tidak menanggapi tawaran awal saya.

Banyak orang-orang di sekitar kita, atau bisa jadi kita sendiri, telah menjelma monster itu. Kita membatasi banyak sekali ide kreatif orang lain hanya karena cara berpikirnya berbeda dengan orang kebanyakan. Yang terjadi kemudian, ketika ada pernyataan atau candaan yang tak lazim mencuat, semua kaget, tak percaya, dan meyakinkan diri kalau ia salah—dan tak pantas mendapatkan maaf. Itulah yang dialami Coki Pardede dan Tretan Muslim, dua orang sahabat lintas agama yang dipersatukan oleh Stand Up Comedy Indonesia.

Nama mereka santer terdengar saat bersama-sama membuat akun @majelislucuindonesia (MLI) di Twitter. Fokus awalnya adalah menilai jokes-jokes content creator lain menggunakan alat ukur yang mereka standardisasikan sendiri. Beraneka label mereka buat, semisal untuk jokes yang dianggap buruk selera komedinya, mereka memberi cap “Titik Terendah Kelucuan”, sedangkan untuk yang membuat mereka terkekeh-kekeh sampai ngakak diberi cap “Ultimate!”. Awalnya menarik, salah satu pembuat konten lucu-lucuan macam @dagelan jadi lebih berhati-hati saat membuat jokes.

Kemudian MLI merambah ke dunia per-yutub-an. Menggaet banyak komika lain yang diangkat sebagai hakim untuk genre-genre komedi tertentu, semisal dark komedy, absurd, asmara, dll. MLI semakin dikenal dan digemari. Aplot-an pertama mereka video roasting sesama komika. Rupanya itu meledak, dan memang jokes-jokes yang muncul sangat sensitif, tak heran bila sepanjang video bertebaran sensor pada bagian punchline-nya.

Sialnya, ungkapan sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh, itu benar. Coki dan Muslim yang selama ini aman-aman saja menyinggung dan mengkritik agama, ormas, dan oknum-oknumnya lewat komedi sarkasme, akhirnya “tercyduk”. Kasus video memasak daging babi dengan saus kurma kemarin pungkasnya. Perkataan mereka diolah-alih sampai kemudian dianggap menyinggung, menghina dan menistakan agama.

Saya heran, apa yang #golongankami pahami dengan istilah menistakan agama? Kalau kita percaya pada Kemahabesaran Tuhan, harusnya kita bisa sewoles Almarhum Gusdur yang mengatakan, “Tuhan Tidak Perlu Dibela”. Atau kita bisa bercermin dari ucapan Mbah Sudjiwo Tejo, “untuk menghina Tuhan itu tidak perlu dengan umpatan atau membakar kitabNya, khawatir besok tidak bisa makan saja itu sudah menghina Tuhan”.
Lantas sudah berapa kali kita menistakan Kemahaagungan Tuhan? Dan herannya, ormas-ormas yang jago demo berjilid-jilid itu, tak sekalipun mau turun menyuarakan hukum apa yang pantas bagi pelaku korupsi. Mereka lebih fokus ke sesuatu yang berbau “politik”.
Coki dan Muslim bagi saya bisa dimaafkan, karena mereka berdua tak bermaksud menistakan agama, konteks dari konten yang mereka buat lebih mengacu ke ajakan untuk saling bertoleransi dalam beragama. Sialnya kita tidak mau berterima soal itu. Sekali salah tetap salah. Bukan lagi #golongankami. Padahal, menurut Raditya Dika, di channel-nya sewaktu "Ngomongin Standup Comedy Indonesia" bareng Pandji, pernah bilang kalau MLI (baca: Coki dan Muslim/red) sedang masuk ke sekat-sekat yang selama ini kita batasi sendiri, bahkan tak berani kita sentuh. Seandainya batasan itu berhasil mereka dobrak, perlahan-lahan mereka akan membuat batasan baru; dalam hal ini batasan bercanda mengenai agama.

Harusnya, tegur mereka, beritahu letak kesalahan dan mana saja yang perlu diperbaiki. Bukan membatasi mereka berkarya dengan mempersekusi kehidupannya bahkan keluarga terdekatnya. Ancaman tidak akan menyelesaikan apa pun. Selesaikan masalah dengan kepala dingin, layaknya Nabi Muhammad SAW yang rela menjenguk si kafir yang sedang sakit, padahal ia yang sering menghina bahkan meludahi Rasulullah.

Mundurnya dua komika dari dunia per-standup-an Indonesia adalah duka kita semua. Ketika Indonesia mengalami banyak sekali goncangan, musibah dan cobaan, salah satu hiburannya adalah dengan berterima dan “menertawai” keadaan sendiri. Itu bisa jadi wujud syukur kita. Tetapi dua orang bertalenta, yang pandai menghibur itu mesti pergi entah kapan bakal kembali.

Lucunya, selain Coki dan Muslim yang mendapatkan persekusi, orang-orang di sekitar mereka pun mengalaminya, begitu pengakuan keduanya di video yang diunggah MLI di youtube channel-nya. Mereka menyatakan pamit dari dunia hiburan yang membesarkan namanya, karena alasan itu, bahkan tour stand up #dewakomedi Ananta Rispo yang bakal dilaksanakan di beberapa daerah pun kena imbasnya dan dibatalkan secara sepihak.

Padahal, lewat klarifikasi Muslim, video memasak itu diunggah di channel pribadinya, Tretan Universe, bukan channel MLI. Video itu di luar kehendak MLI, pure atas keinginan mereka berdua. Tapi lagi-lagi hal demikian menjadi sia-sia bila harus dijelaskan. Yang kini sudah jelas adalah kreativitas mereka harus putus di sini dan menciptakan sesuatu yang baru entah itu kapan akan terjadi dan kapan bisa kita nikmati?

Satu hal lagi yang jelas adalah ini sebuah kemenangan #golongankami.

Cilegon, 31 Oktober 2018


***
Penulis:
*) Ade Ubaidil pecinta sten-ap yang belum berani openmik~

You Might Also Like

3 komentar

  1. Replies
    1. Malah baru tahu kalau ada MLI, heee

      Tapi makin miris seh liat sikap2 kaum agamis akhir2 ni,

      Nice writing de 👍☕️😊

      Delete
    2. Rudi: Allahu akbar!

      Eka: Ya begitula, tetap waras, ya~

      Delete