[ESAI] API KECIL ITU BERNAMA BIEM.CO (Biem.co, 25 April 2017)

9:10 PM

API KECIL ITU BERNAMA BIEM.CO


image by: biem.co


Cerita pendek saya berjudul, Congk(l)ak adalah tulisan pertama yang tayang di media online, biem.co. Sekitar pertengahan tahun 2015 lalu. Setelah tulisan tersebut muncullah tulisan-tulisan saya lainnya. Peran biem.co cukup baik dalam menjadi wadah kreativitas para penulis muda khususnya di Provinsi Banten ini. Sebab, kolom sastra dan budaya di media cetak satu per satu berguguran bak daun kering yang tersapu angin dari rantingnya. Sedangkan, kelas-kelas menulis, pelatihan jurnalistik dan sebagainya terus bertumbuhan baik formal maupun informal. Bahkan kini sudah merambah di jam luar sekolah juga pelajaran tambahan di pesantren-pesantren. Tentu saja kita membutuhkan media pendukung, paling tidak untuk menunjukkan eksistensi kita melalui sebuah karya.

Biem.co adalah satu di antara banyak media online lainnya di Banten. Hanya saja, sebagai orang yang menggeluti dunia tulis-menulis, khususnya fiksi, saya merasa kesulitan untuk memublikasikan apa yang sudah saya tuangkan ke dalam tulisan. Tidak semua media, baik cetak maupun online memberikan ruang sastra dan budaya di dalamnya. Bahkan kolom gagasan ataupun esai nyaris tidak ada. Kalau dibilang mengirim saja ke media luar daerah atau nasional, itu hal lain. Karenanya saya berharap akan kembali bertumbuhan tunas-tunas muda yang, kalau bisa, fokus di satu tema saja, yakni sastra, di tanah jawara ini.

Ini menjadi persoalan yang pelik. Sebab, salah satu alasan media cetak meniadakan kolom sastra dan budaya tak lain dianggap kurang menarik—dan menjual. Saya menyatakan demikian lantaran tahu, pengganti kolom sastra dan budaya tadi adalah iklan. Apa tidak ada sedikit ruang untuk pembaca agar lepas dari kepenatan tema seperti sosial, politik, gosip, agama dan semacamnya? Atau paling tidak berikan kami, para warga untuk memberikan suara melalui gagasan-gagasan sekaligus urun pendapat atas berita atau kejadian serta peristiwa yang akan, sedang dan telah terjadi?

Saya pikir, kolom sastra-budaya ada tergantung bagaimana ideologi awal terbentuknya media tersebut; apa yang melatarbelakanginya, alasan membuat media itu, tujuan-tujuannya dan apa yang hendak dicapai setelah media tersebut dibangun.

Kalau ditinjau beberapa tahun ke belakang, biem.co memang sudah fokus ke arah sana, bahkan lebih dulu “bertarung” sebagai tabloid alias media massa cetak dengan nama awal, “Banten Muda”. Alasannya pun jelas, “mewadahi kreativitas tanpa batas dari semangat para remaja dalam berkarya di bidang apa pun (biem.co/red)”.

Ibaratnya, biem.co ini hanya sebuah api kecil. Ia memantik api-api kecil lainnya untuk membuat sebuah api besar. Api, dalam representasi hal positif, tentu saja perlu didukung. Ketimbang menyirami bensin pada “api” yang menyulut pertengkaran dan permusuhan, lebih baik berada di lingkaran api semangat ini.

Meski tak begitu banyak tulisan yang pernah tayang di biem.co, saya cukup senang dan bergembira lantaran turut andil menjadi api kecil itu—tepat di paragraf ini, saya malah baru tersadar ternyata logo biem.co memang berupa api membara (koreksi saya bila keliru). Kalau begitu, sudah seharusnya kita membakar habis segala bentuk putus asa, hilang semangat, depresi dan segala macam yang sering kali dialami para kaum muda. Kemudian tugas berikutnya adalah menyalakan lilin hati atau menerangi jiwa-jiwa hampa itu dengan merangkulnya, memberinya dukungan serta motivasi untuk berani berkarya.

Ya, berani. Karena kembali lagi, ketika wadah itu sudah ada, kadang persoalan berikutnya timbul atas dasar ketiadaannya memiliki keberanian untuk memulai. Baik soal memulai menulis sebuah gagasan, atau bisa juga ragu ketika hendak memulai untuk mengejawantahkan gagasan yang lama mendekam di pikiran kita. Kalau sudah demikian, satu-satunya yang bisa mendorongnya tentu diri kita sendiri. Harap garisbawahi kata, “resiko” itu dan perhitungkan dengan matang. Setiap dari kita pasti memiliki bisikan hati nurani. Apa yang pantas dan tidak, yang bisa dan tidak, yang bakal gagal dan tidak, nurani kita yang bisa menilainya. Yang tahu akan kemampuan dan bakat terdalam dari diri kita, ya, diri kita sendiri.

Sama halnya seperti yang sudah dilakukan oleh Kang Irvan Hq dan kawan-kawan. Resiko itu sudah pasti ada, bentuknya pun beragam; bisa cibiran, ucapan yang melemahkan, benturan, kerugian (kalau bicara soal ekonomi manusia), dan banyak hal lainnya yang membuat kita ragu untuk memulai. Namun begitu, nyatanya, 2 tahun sudah Tabloid Banten Muda bertransformasi ke media online biem.co dan tetap eksis hingga hari ini.

Tidak ada yang salah dengan perubahan ini (from luring to daring), sebab sejatinya kehidupan akan terus bergerak secara dinamis. Perkembangan teknologi digital tidak bisa lagi dielakkan. Tinggal bagaimana ia mempertahankan ideologi dan segala pernak-pernik visi-misinya ke depan; apakah akan redup atau semakin menyala. Lagi-lagi, kalau alasannya meraup keuntungan dan menjadikan lahan basah atas segala kreativitas pemuda Banten, saya rasa Anda salah mengira, lantaran biem.co bukan terbuat dari itu.

Dirgahayu, wahai api kecil....


Cilegon, 20 April 2017


----------------------------------------------------

logo baru biem.co




You Might Also Like

0 komentar