[Catatan] Cerita dari Balik Jendela Kereta

8:09 PM



 
image by liputanbanten.com
Satu minggu lalu saya membuat janji dengan seorang kawan untuk bertemu di Kebayoran Lama, tempat tinggalnya. Hari Rabu, tulis saya sekenanya melalui pesan WhatsApp. Saya sebetulnya tidak benar-benar memberikan jawaban. Karena saat itu saya sedang disibukkan dengan kegiatan Maulid Nabi Muhammad Saw., di kampung saya. Kebetulan saya didaulat sebagai panitia, beberapa hal saya mesti urus sendiri. Jadi, jawaban itu hanya agar kawan saya tidak bertanya lagi dan mau menunggu, sisanya dipikir kemudian, begitu seloroh saya dalam hati.

Acara peringatan Maulid Nabi memang jatuh di Hari Selasa kemarin, (20/11/18). Saya berpikir secara ringkas kalau Hari Rabu pasti sudah mulai lowong—ternyata kenyataannya tidak. Saya harus merekap laporan keuangan selama acara bahkan sebelum acara. Tepat di Hari Rabu, pasca acara, teman saya memastikan lagi. Ia menghubungi saya malam hari, bertanya sudah sampai mana, kok belum sampai? Saya bingung harus mengatakan apa, tapi akhirnya saya meminta ia memaklumi lagi, “Maaf, ya. Besok bagaimana, Hari Kamis?” kata saya kemudian. Sesaat saya mendengar kalimat setuju, lalu sambungan telepon putus. Sebetulnya badan sedang lemas-lelah-letihnya, tetapi saya bereskan semua laporan keuangan malam itu. Walhasil, laporan selesai, meski rada tergesa-gesa. Beruntung saya mengarsipkan nota pengeluaran apa saja selama mempersiapkan acara.

Pukul 02.00 dini hari, saya searching, alat transportasi apa sekiranya yang efisien untuk saya tumpangi. Saya tinggal di Kota Cilegon, Provinsi Banten. Jarak ke Kebayoran Lama tentu tak terlalu jauh, namun bila salah memilih transportasi bisa buang-buang waktu di jalan. Ingin mengendarai motor kondisi tubuh tidak memungkinkan. Naik mobil pribadi, masih dalam mimpi, agak sulit kalau mesti diwujudkan besok. Teman saya pasti makin kesal pada saya kalau saya tak kunjung datang. Ia karib saya sejak kecil, sudah lama juga tidak berjumpa, saya tidak ingin mengecewakannya—karena ini bakal terasa seperti pertemuan pertama. Akhirnya, saya memutuskan untuk menumpangi bus saja. Dari Cilegon naik Bus ke Terminal Kebon Jeruk, lalu naik bus tiga perempat menuju Stasiun Senen. Baru ketika sampai di sana pesan ojek online menuju Kebayoran Lama. (Sejujurnya, saya memang tak pernah pandai mengingat jalan, padahal saya sering ke Jakarta tetapi selalu pakai rute yang gonta-ganti).

Karena masih ragu, saya hubungi kawan yang berada di Daru, Tangerang Selatan. Saat saya kirimkan itenerary, alias rencana perjalanan saya, dia ngakak. Lalu mengejek saya. “Kenapa nggak naik kereta aja, repot banget, sih, lu. Mahal kalau naik bus dan ojek online!” rutuk dia membuat saya melongo sesaat membaca chat-nya. Akhirnya saya menurutinya.

Harga Tiket Murmer (Murah Meriah)

Tunggu dulu, jangan buru-buru menghakimi saya pemirsa. Saya bukannya tidak kenal apa itu transportasi bernama kereta. Saya pernah kok naik kereta, tapi jarang. Di stasiun saya selalu merasa asing, entah mengapa. Kurang akrab gitu perasaannya. Tetapi berhubung saya ingin waktu yang cepat dan efisien, akhirnya saya ikuti saran teman saya itu. Saya meniatkan setelah salat subuh tidak tidur lagi, tapi itu cuma bualan. Mata saya pejamkan lagi dan berhasil bangun, dengan sedikit paksaan, jam 9 pagi. Saya panik, kereta lokal setahu saya jam 6 atau sekitar jam 7. Beruntungnya ketika dicek ke stasiun bakal ada kereta lokal lagi dari Merak pukul 10.46. Saya gegas menaruh motor yang saya bawa ke tempat penitipan motor dekat stasiun. Lalu memesan tiket dan menunggu kereta. Ternyata harganya dari Stasiun Cilegon ke Stasiun Rangkasbitung cuma 3000 rupiah. Rangkasbitung adalah pemberhentian terakhir kereta lokal dari Merak. Saya mesti transit, pesan tiket lagi kereta commuter line jalur Tanah Abang. Stasiun Kebayoran Lama letaknya sebelum Tanah Abang kalau dari Stasiun Merak.

Kereta Tepat Waktu

Voila! Kereta tiba pukul 10.35, tidak ngaret macam bus atau angkutan umum. Saya gegas mencari tempat duduk. Ternyata masih banyak yang kosong. Satu kursi panjang saya tempati. Kereta melaju tepat sesuai yang tertera di tiket.

Singkat cerita, saya sampai di stasiun Rangkasbitung. Lekas saya membeli tiket tujuan ke Stasiun Tanah Abang. Ternyata harganya 18.000 rupiah. Tetapi kata teller-nya bakal bisa di-refund kartunya senilai 10.000 rupiah. Jadi, ongkos sebenarnya hanya 8000 rupiah menaiki commuter line dari Rangkasbitung ke Kebayoran Lama. Kereta tiba pukul 12.20 dengan jadwal keberangkatan pukul 12.29 wib. sejauh ini masih sesuai waktu yang tertera, saya semakin senang, tidak ada waktu yang terbuang di jalanan. Sampai di Kebayoran Lama pukul 14.30. saya menukarkan kartu jaminan commuter line. Dan benar, saya diberi uang 10.000 rupiah sebagai gantinya. Lalu teman menghubungi saya kalau dia sudah memesankan ojek online dari rumahnya, karena saya tidak tahu tempat tinggal barunya—ia tidak bisa menjemput karena sedang menjaga ibunya yang sedang sakit. Akhirnya saya bertemu dengan tukang ojek, kami segera meluncur menuju rumah kawan saya. Sampailah saya di rumahnya. Perjalanan dari Cilegon ke Kebayoran Lama cukup merogoh kocek kurang-lebih sejumlah 3000+8000= 11.000 rupiah saja. Berbeda jauh ketika misalnya saya harus menumpang bus. Bisa lebih 50.000 rupiah untuk sekali perjalanan.

Dua Hal Dilematis

Singkatnya, kami bertemu. Saling bertukar cerita dan pengalaman. Saya bermalam sehari di rumahnya. Jumat pagi saya harus balik karena ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan. Dia memaklumi, toh nanti bisa bertemu lagi, atau ia bisa balik mengunjungi saya di Cilegon. Saya pulang pukul 07.00 dari rumahnya menaiki ojek online. Lalu setibanya di Stasiun Kebayoran Lama, saya masih ada kesempatan membeli tiket dengan jadwal keberangkatan sekitar pukul 08.15. Saya tiba di Stasiun Rangkasbitung pukul 10.03, ternyata ketinggalan kereta. Saya panik. Karena ekspektasinya sampai rumah sekitar pukul 12.00 atau jam 13.00. Sedangkan kenyataannya kereta jurusan Merak berangkat pukul 12.45.

Saya memutuskan untuk naik bus saja. Saya keluar stasiun Rangkasbitung, sedangkan waktu terus berjalan. Kata seorang petugas, ada terminal dekat sini. Lurus saja, lalu belok kanan. Saya ikuti dan benar, ada terminal. Tetapi bus jurusan Merak saya cari-cari tidak ada. Ketika bertanya pada petugas, katanya saya harus naik angkot dulu ke Mandala. Baru di sana banyak bus tujuan Serang-Merak. Saya manggut-manggut. Ia pun gegas membantu memberhentikan angkot merah tujuan Mandala. Ketika saya sudah ucapkan terima kasih dan baru beberapa detik di dalam angkot, ada 3 ibu-ibu yang rupanya mendengarkan ke mana saya hendak pergi. Lalu ia menyarankan dan membuat saya dilematis sepersekian detik.
“Kalau mau ke Merak mending naik kereta aja, Dek,” ucap ibu di sebelah saya dengan logat sunda.
“Jam satu, Bu. Saya buru-buru, harus sampai rumah secepatnya,” jawab saya memerhatikan jalanan.
“Lho, naik bus lebih lama lagi, belum ngetem nunggu penumpang. Kalau kereta kan sesuai jadwal,” ucap seorang ibu berkerudung biru gelap di hadapannya. Saya mulai ragu dengan keputusan yang saya ambil usai mendengar perkataannya.
“Iya, Dek, mending turun di sini. Masih dekat stasiun,” saya menjawabi ibu satunya lagi dengan, “saya tadi dari stasiun, Bu.”
Sopir angkot ternyata tidak ada di pihak saya, padahal ia harusnya senang mendapati penumpang yang kebingungan.
“Iya, Dek, turun sini aja, ya,” katanya mengangguk-angguk. Sekira mobil berjalan kurang lebih 15 meter, baru saya mengubah haluan.
“Ya, udah di sini aja, Kang. Makasih, ya,” kata saya tanpa membayar ongkos dan ia tampak menyetujuinya. “Makasih, Bu,” sambung saya ketika sampai di luar. Ketiga ibu itu tersenyum puas seperti berhasil memenangkan sebuah debat sengit. Dengan wajah plongo, saya kembali lagi di stasiun. Itu dilema pertama saya.

Dilema kedua saya ketika membeli tiket jurusan Rangkasbitung. Saya bertanya pada kasir, “Mbak masjid dekat sini di mana, ya? Mau solat Jum’at.”
“Jauh, Mas. Kereta berangkat jam 12.45, nggak bakalan keburu juga.” Saya memikirkan ucapannya, ada benarnya juga, saya bisa terlambat. Lalu saya memberi tiket pada petugas dan saya masuk peron pukul 10.50, dengan perasaan tak keruan. Apakah benar keputusan yang saya ambil? Memilih tidak solat jumat demi agar tidak tertinggal kereta?

Lama saya berpikir, jam terus bergerak. Satu pesan masuk dari seorang kawan di Serang. Dia tanya saya sedang di mana, setelah melihat foto di status WhatsApp saya; sebuah gerbong kereta, tanpa teks menyertai di bawahnya. Ketika saya jawab sedang di Stasiun Rangkasbitung, dia memastikan apakah saya tidak solat Jumat dulu? Saya jelaskan kronologinya, juga waktu keberangkatan sedetil mungkin. Omong-omong, dia seorang Kristen. Tetapi, ucapannya membuat saya sadar. “Solat Jumat selesai jam berapa? Pasti keburu, kereta kan jam 12.45. Udah gih, ibadah dulu. Nggak boleh ditinggal.” Andai yang dimaksud situasinya saat itu ibadah solat fardu lainnya, yang waktunya panjang, pasti saya abaikan. Tetapi saat itu posisinya solat jumat yang harus dikorbankan, waktunya hanya ada di Hari Jumat. Memang boleh diganti dengan solat dzuhur yang waktunya lumayan panjang, tetapi ada perasaan ragu untuk meninggalkannya. Dilema kedua timbul. Beruntung berkat saran kawan saya itu, saya ambil keputusan untuk pesan ojek online mencari masjid terdekat. Saya memang hanya butuh untuk diyakinkan.

Tak lama dapat driver, ternyata ada masjid yang dekat stasiun. Saya paham, ucapan kasir tadi hanya sebentuk kekhawatirannya kepada pelanggan. Ia hanya tidak ingin mengecewakan penumpang. Tetapi saya sudah mengambil keputusan. Solatlah saya di sana, setelah sebelumnya membayar ojek seharga 4000 rupiah, sesuai aplikasi. Harga dari Rangkasbitung ke Merak dengan menaiki kereta cuma 3000 rupiah, ini jarak kurang dari 500 meter saja lebih mahal 1000 rupiah. Tapi tidak apa-apa, ini demi ibadah.

Sigap Menangani Masalah

Solat selesai, saya buru-buru mengecek jam digital yang ada di ponsel. Ternyata sudah pukul 12.20. Saya bersyukur masih ada waktu yang tersisa. Saya tidak boleh terlambat lagi!

Tepat ketika saya sampai stasiun dengan berjalan kaki, kereta tiba. Pukul 12.45 kereta berangkat menuju Stasiun Merak, saya turun di Stasiun Cilegon. Tetapi, di perjalanan listrik dalam kereta padam. AC mati. Ruangan terasa panas. Kereta berhenti di salah satu stasiun untuk mengecek genset yang katanya rusak. Sekitar hampir setengah jam, listrik berhasil kembali menyala. Penanganan yang semacam ini patut diapresiasi. Penumpang kembali nyaman dan tidak kegerahan lagi. Satu hal yang bisa diambil hikmahnya adalah, penumpang satu dan lainnya, yang tidak saling mengenal, akhirnya saling tegur dan mengobrol. Persis seperti penumpang remaja ramah—yang sejak tadi terkesan begajulan—yang ada di sebelah saya. Ia mengaku habis nonton pertandingan Sriwijaya FC melawan Persija di Gelora Bung Karno bersama rombongan. Sesaat setelah pertandingan usai, ia gegas menumpangi kereta menuju Stasiun Merak. Setelah itu ia akan berlanjut menaiki Kapal menuju Palembang. Jam segini, seharusnya dia dan teman-teman sudah sampai di rumah masing-masing dan sedang membaca cerita ini.

Cilegon, 23 November 2018


You Might Also Like

0 komentar