[Cerpen] Percakapan di Pesisir (Rakyat Sultra, 27 Desember 2018)

10:07 PM


“SEMAKIN banyak orang mengutip ucapanmu, itu menandakan bahwa kau sudah terkenal!”
“Berhenti menggodaku.”
“Aku serius!”
“Aku juga serius!”
Kau tahu? Ketika dua orang tengah berbincang dan melontarkan kalimat dengan nada kencang, yang terjadi di detik selanjutnya adalah saling diam. Membungkam. Rumah-rumah warga kampung ditelan malam. Laut tampak hitam, legam. Dua orang yang duduk bersisian itu tak saling pandang. Lebih tepatnya mereka mulai tak saling peduli. Kalaupun ada seseorang di tengah laut yang tenggelam atau kapal yang karam, mereka pasti tak akan menggeser posisi duduknya barang satu depa. Sungguh suram. Sungguh runyam.

Ketika jam kantor usai, mereka berjanji bertemu di pesisir pantai kota C. Pantai yang terkenal dengan panorama alamnya. Biasanya mereka menghabiskan waktu untuk memuaskan matanya menikmati mentari terbenam (bermaksud menghindari kata asing: baca, sunset). Tetapi sore itu berbeda. Ada yang harus diselesaikan, kata lelaki yang masih mengenakan dasi. Orang yang ada di sebelahnya bersetuju. Jadi, dari dua tempat bekerja yang berbeda, mereka bertemu di sana.
“Sampai kapan kita harus menjalani ini?”
“Sampai laut mengering.”
“Konyol.”
“Sama konyolnya dengan pertanyaanmu.”

Mereka kembali membisu. Jutaan kata-kata seolah telah habis mereka ucapkan. Burung-burung saling mengepak menyeberangi lautan. Mereka kembali pulang menemui keluarganya di sarangnya masing-masing. Penjaja makanan di sepanjang bibir pantai berbenah. Merapikan barang dagangan yang hari itu tak disentuh barang secuil oleh pengunjung. Satu per satu jiwa manusia di lingkup pantai menyublim. Perlahan menjauh, benar-benar jauh, hingga seolah tak akan kembali lagi sebab langkahnya sudah teramat jauh.
Dalam pikiran lelaki berdasi, dia tengah bingung menghadapi orang-orang. Setiap kali apa yang ditulis dalam buku-buku karyanya, selalu banyak yang mengutip. Dia membenarkan ucapan orang yang berada di sebelahnya, tetapi justru semakin orang memakai kata-kata rangkaiannya maka semakin besar pula ketakutan yang menjelma dalam hatinya.
“Aku kotor.”
“Tak ada manusia yang benar-benar bersih.”
“Aku mengajakmu kemari untuk membantuku mencarikan solusi. Bukan semakin mempersulitku.”
“Lantas, apa yang harus aku katakan padamu?”
“Katakan sebuah solusi.”
“Solusi,” katanya polos. “Sudah?”
“Aaarrgghhh!!!”
Lelaki berdasi geram. Tak dinyana orang di sebelahnya justru semakin memperumit keadaan. Sudah tigapuluh enam purnama mereka lalui bersama, namun kali itu dia dibuat benar-benar dongkol. Pikirannya semakin diliputi bayang-bayang menakutkan. Dia memutuskan untuk tidak menulis lagi. Sebab bila dia melanjutkan, maka hatinya berontak. Aku seperti bermuka dua, keluhnya.
“Baiknya aku sudahi karir kepenulisanku.”
“Maksudmu?”
“Aku ingin hidup tenang. Aku tak mau mati dalam ketakutan.”
“Aku tak paham....”
“Kau…” Jari telunjuk lelaki berdasi mengarah ke wajah orang di sebelah yang memasang wajah tak bersalah. Giginya saling beradu menahan kekesalan. Akhirnya dia tak sanggup melanjutkan. Pandangannya redup sesaat memalingkan wajah dari orang di sampingnya. Bumi terus berputar. Waktu kian berjalan. Malam berkelindan. Di sepanjang pantai hanya dijatuhi lampu temaram dan cahaya rembulan.
Seperti ada yang ingin disampaikan oleh lelaki berdasi itu namun lidahnya tertahan. Orang di sebelahnya menjatuhkan kepala pada kedua paha lelaki berdasi. Lelaki berdasi bergeming. Dia tengah memikirkan sesuatu yang selama ini ditulisnya. Apa mungkin itu bagian dari dosa? Dia banyak menulis perkara agama samawi. Menjelaskan soal hukum agama dan larangannya. Itu semua tak terlepas dari jurusannya di masa kuliahnya dahulu. Namun sejak minggu-minggu kemarin, namanya semakin melejit. Mendapatkan undangan dari sana-sini untuk mengisi seminar motivasi dan mengisi kuliah meski dia pun memiliki pekerjaan tetap di sebuah perusahaan sebagai seorang Manajer. Semua yang dituliskannya dengan apa yang dikerjakannya selama ini, hanyalah kemunafikan belaka.
“Aku mau menikah.”
Mendengar ucapan yang tiba-tiba itu sontak membuat orang yang bermanja di kedua pahanya terlonjak. Dia tak percaya apa yang baru saja didengarnya. Sementara lelaki berdasi menundukkan kepalanya dalam. Seperti ada beban yang harus segera dia lepaskan hari itu juga.
“Aku belum siap….”
“Bukan….” Lagi-lagi lelaki berdasi tercekat. Dia menangkis cepat. Kepalanya berulang-ulang menggeleng. Tiba-tiba dia tak sanggup mengendalikan air mata yang jatuh berlinang. Dia membiarkan sang ombak di hadapannya berdebur berkali-kali membentur karang, kemudian melanjutkan ucapannya. “Semua ini tentang pilihan.”
“Apa maksudmu? Sejak tadi kau bertingkah aneh. Ucapanmu tak jelas. Apa sebenarnya tujuanmu mengajakku bertemu di sini. Apa sesungguhnya yang ingin kau katakan, Wisnu?”
“Aku…, aku akan menikah dengan seorang gadis. Dia teman kerjaku di kantor. Aku ingin merasakan kehidupan yang sebenarnya.”
“Apa selama ini hanya kepura-puraan saja yang sedang kita jalani? Hah?!”
“Hidup adalah tentang pemakluman-pemakluman. Dan anggaplah hubungan kita ini sebagai pencarian jatidiri.”
Hanya desauan angin yang terdengar berikutnya. Isak tangis datang menyusul. Kali ini giliran orang yang mengenakan kemeja lengan pendek itu. Lelaki berdasi kesulitan menghadapi ini semua, namun dia sudah berani mengambil keputusan. Berhari-hari dia menantikan hari itu tiba dan terjadilah sudah. Dia memberikan pelukan terakhirnya. Berbisik tentang rencana-rencana yang akan dilakoninya dalam kehidupan barunya nanti.

“Aku sekarang mengerti. Dalam hidup memang selalu ada pilihan. Aku terima keputusanmu meski berat.”
“Kau tetap akan menjadi sahabat terbaikku. Hadapi segala kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nantinya.”
“Boleh aku meminta sesuatu padamu? Mungkin ini menjadi permohonan terakhirku.” Dia menghela napas. Kemudian mengembuskannya dengan teramat berat.
“Katakan saja, Chris…”
“Masih banyak orang yang mencintaimu. Maksudku…, mencintai karya-karyamu. Kumohon, janganlah berhenti menulis. Aku percaya bahwa segala sesuatu di bumi ini hanyalah tentang pilihan-pilihan yang sulit. Tetapi, menulis bukanlah sebuah pilihan. Kau yang lebih paham itu, sayang…”
Raut muka lega terpancar seketika dari lelaki yang bernama Chris itu. Dia mendekapkan tangannya di bahu Wisnu yang kekar dan tegap. Lalu memeluknya erat, seolah belum siap untuk kehilangan sosok tinggi besar itu dalam hidupnya.
“Aku akan penuhi permintaanmu. Terima kasih, Chris!”
Angin membawa terbang pasir-pasir pantai. Pohon nyiur yang berjajar tak henti melambai-lambai. Mereka seperti merestui keputusan yang Wisnu ambil. Lelaki berdasi biru itu mengangkat tangan kiri di hadapan wajahnya. Jarum jam menapaki angka sembilan. Perahu-perahu cadik mengapung mendekati pesisir. Orang-orang kampung keluar rumah. Mereka menghampiri perahu seraya membawa pelita. Saling bahu-membahu mendorong perahu ke daratan. Suhu dingin menjalari tubuh besar dua orang yang memiliki warna kulit saling berlawanan itu. Keduanya masih menghadap ke hamparan laut nan tenang.

Aroma ikan asin yang dijemur warga pesisir sejak pagi tadi masih merebak. Mengusik naga di perut mereka yang lapar dan memaksanya untuk segera bangkit. Keduanya perlahan melangkah menjauhi pantai. Meninggalkan jejak kisah yang sudah dibangun sejak tiga tahun silam. Dari sana bermula dan dari sana pula berakhir. 
Wisnu tersenyum lapang: ada cerita baru yang nanti akan aku tulis, batinnya. Esok. Lusa. Hingga nanti waktu yang akan menghentikannya.[]

Cilegon, 03 Desember 2014

You Might Also Like

0 komentar