[ESAI] Waspadai Krisis Generasi

1:14 PM

image by klik

Ulama Pewaris Para Nabi
Ketika Rasulullah SAW memberikan salam terakhirnya, ada para sahabat yang mewarisi segala keilmuan dan penyebaran agama Islam ke segala penjuru dunia. Setelah satu per satu para sahabat berguguran dan wafat, para ‘ulama-lah yang mengambil peranan. Pasca-wafatnya Rasulullah SAW., dan para sahabat, ulamalah yang menggantikan posisi beliau dalam membina umat dan menjaga keutuhan ajaran Islam sejak dahulu hingga detik ini, sebagaimana sabdanya, “Al-‘ulama warasatul anbiya”. Ulama adalah pewaris para Nabi.

Secara etimologi, ulama merupakan bentuk jamak dari kata ‘alim. Sedangkan kata ‘alim itu sendiri merupakan bentuk ism al-fa‘il dari kata dasar ‘ilm. Secara sederhana dapat dipahami bahwa ‘alim adalah orang yang berilmu, karenanya ulama disebut sebagai orang-orang yang memiliki ilmu dalam artian generiknya. Secara terminologi, kata ulama ini dapat dipahami bahwa sebutan ulama adalah untuk orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan, terang Ziaulhaq, Dosen Fak. Agama Islam UISU.

Dalam hal ini bukan hanya paham dalam satu cabang keilmuan saja, sekalipun sedang membahas konteks agama. Namun ‘ulama kudu mengerti juga soal ilmu politik, sosial, budaya, kemanusiaan dan cabang ilmu pengetahuan lainnya secara meluas. Maka menyandang julukan ulama pun terbilang berat dan ada tanggung jawab moral serta perilaku di mata masyarakat dan umat.

Kelebihan seorang alim dibanding ahli ibadah adalah seperti keutamaan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang, ucap Teungku H. Faisal Ali, Ketua Umum PWU Aceh. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Warisan nabi yang sangat berharga dan mulia di sisi Allah SWT adalah ilmu, karena dengan ilmu bisa membuat manusia hidup bahagia di dunia dan akhirat. Selalu ada jalan bagi mereka yang berilmu.
Kesalehan dan kebahagiaan seseorang ditentukan oleh kualitas ilmu yang dimilikinya. “Siapa yang ingin bahagia di dunia, maka mesti dengan ilmu, siapa yang ingin bahagia di akhirat, maka mesti dengan ilmu, dan siapa yang ingin bahagia pada keduanya, maka mesti dengan ilmu.” Sekalipun hadist ini menjelaskan kemuliaan ilmu agama di atas segala-galanya, namun sedikit di antara umat yang mau merebutnya. Hanya para ulamalah yang senantiasa bergelut siang-malam dengan ilmu agama.

Peran Pemuda bagi Masyarakat
Barangkali bisa sama-sama kita pastikan, bahwa sedikit sekali masyarakat, khususnya para pemuda, di daerah tempat kita tinggal yang masih bergelut dengan ilmu agama. Banyak dari mereka fokus mengejar gelar akademik dan keilmuan umum lainnya. Tak jadi soal, segala apa yang ada di dunia ini adalah milik Allah semata, termasuk semua cabang ilmu yang kudu kita pelajari. Namun, sebagaimana penganut agama, khususnya agama Islam, sudah sepatutnya kita menjaga dan menyebarkan nilai-nilai keislaman dengan cara mempelajarinya dengan tekun dan istiqomah, sesibuk apa pun.

Sekadar menyebutkan, Banten dikenal dengan kereligiositasannya. Dahulu banyak melahirkan ulama-ulama dan para kiyai yang dikenal hingga ke seluruh nusantara, tak pelak pula hingga mancanegara. Siapa tak mengenal Syekh Nawawi Al-Bantani Tanara? Beliau bahkan dijuluki Bapak Kitab Kuning Indonesia. Hasil buah pikirnya dipelajari dan dikaji hingga saat ini. Namun akan sangat menggiriskan sekaligus memilukan andai tidak ada lagi penerus beliau yang terlahir dan besar di tanah jawara ini untuk sekadar mengaji pun tak sanggup, bahkan membaca Alquran pun tak bisa lantaran tiada mengenal ilmu tajwid, mantiq, nahwu dan sharaf. Na’udzubillah.

Maka peran pemuda untuk keberlangsungan kampungnya sangat diperlukan. Ada sebuah regenerasi yang harus tumbuh sebagai tonggak estafet atas perjuangan ulama dan kiyai yang sudah susah payah menyebarkan dan menjaga keutuhan ajaran Islam sejak dahulu. Sungguh akan merugi bila seorang muslim tak mengenal seluk-beluk agamanya sendiri, termasuk soal ajaran-ajaran yang telah disampaikan oleh para nabi dan ulama.

Krisis generasi sudah di depan mata. Masuknya segala informasi bisa menjadi sebuah anugerah sekaligus bencana. Kita bisa mengetahui keberadaan seseorang, kegiatannya, interaksi dan lain sebagainya sekalipun ia jauh dari pandangan kita. Namun akan menjadi bumerang pula ketika kita disibukkan dengan hal-hal yang lebih banyak mendatangkan midharat tersebut hingga membuat kita lalai untuk belajar ilmu agama, khususnya. Pernahkah terbayang dalam benak kita bagaimana jika pondok-pondok pesantren, para ulama, kiyai, ustad di kampung dan daerah kita tinggal telah tiada? siapa yang akan meneruskan dan menjaga kestabilan kampung kita kalau bukan kita sendiri? Betapa akan hancurnya sebuah peradaban di suatu daerah jika tanpa berpegang teguh pada agama Allah. Kita harus mewaspadai dan mencegah terjadinya krisis generasi ini.

Respons Krisis Generasi
Mendapati fenomena itu, para pemuda di Desa Cibeber, Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon, berinisiatif untuk menyentil hati nurani kita dan mengangkatnya dalam sebuah drama religi. Barangkali akan berhasil sedikitnya membangunkan kesadaran kita akan pentingnya belajar ilmu agama. Drama yang ditulis dan disutradarai oleh Ade Ubaidil itu mengangkat tema Krisis Generasi berjudul, “Kampung Cibelenger: Si Mekah Cintil”. Bersama teman-teman anggota Remaja Islam Masjid (RISMA) At-Ta’awwun Cibeber, saban malam mereka berlatih. Selain itu, di Cibeber sendiri ada agenda rutin menyambut datangnya Bulan Ramadhan yakni acara Nuzulul Quran. Diselenggarakan sejak tanggal 13-17 Juni nanti. Banyak perlombaan yang diadakan seperti MTQ, Marawis, Shalawatan, Cerdas Cermat, juga ceramah (mengundang kiyai kondang), dll. Drama sendiri akan dipentaskan pada Sabtu malam Minggu (malam puncak) tanggal 17 Juni 2017 pukul 21.00 WIB nanti. Acara ini untuk umum dan siapa pun dipersilakan untuk hadir dan menyaksikannya.

Apa yang hendak dilakukan oleh pemuda Cibeber tak lain untuk mengamalkan apa yang Allah SWT telah sampaikan pada Alquran surat An-Nisa ayat 9, yang artinya: “Dan hendaklah takut (Kepada Allah) orang-orang yang sekitaranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan)-nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”

Wallahu a’lam bissawab.[]

Cibeber, 15 Juni 2017/
20 Ramadhan 1438 H.

You Might Also Like

0 komentar