[ESAI] WAJAH MUSLIM HARI INI (Radar Banten, 20 Februari 2017)

7:33 PM

koran Radar Banten edisi 20 Februari 2017


Kemarin, seorang teman bercerita soal masa kecil di kampungnya. Suatu kali, ia sedang di dalam masjid tua bersama teman sebayanya. Layaknya surau-surau di kampung lain, di daerah Banten khususnya, mereka bersalawat melalui pengeras suara masjid. Keduanya melakukan itu kira-kira sebelum masuk waktu salat asar. Tentu saja saling bersemangat menyenandungkan salawat yang mereka hafal dari guru mengajinya. Nahasnya, tak lama berselang, dari arah belakang keduanya mendapatkan sambitan keset berdebu dari seorang lelaki tua yang kemudian mereka sadari ia adalah Yai Fulan (sebut saja demikian), tetua yang dianggap kiyai, sesepuh kampung dan sejak dulu dipercaya sebagai pengurus masjid alias DKM di kampung tersebut.

Timbullah pertanyaan kemudian, bahkan ketika teman saya beranjak dewasa. Bukankah hal lumrah, katanya, memakai pelantang suara masjid untuk hal-hal yang jelas-jelas kemaslahatannya? Justru mestinya, kalaupun mereka salah ucap bacaan, mereka diberi pelajaran untuk kemudian berani dan diberi kesempatan lagi untuk salawatan, bukan malah menakut-nakutinya dan menjaga jarak (baca: membuat kapok) datang ke masjid? Yang berakibat menimbulkan kebencian pada sosok Kiyai.
Rupa-rupanya, setelah ditelusuri, di kampung kawan saya itu, pengurus masjidnya sangat keras, kolot dan alot pemikirannya. Beliau tidak membolehkan melakukan aktivitas apapun di masjid kecuali salat. Itu saja. Kita sama-sama tahu, di daerah Banten, budaya riungan, salawatan, musyawarah-mufakat, gotong-royong, muludan, perayaan Hari Besar Islam, dan banyak hal sejenisnya dilakukan di pelataran maupun di aula luar dan dalam masjid. Bagaimana bila hal-hal itu dilarang? Bukankah kita sebagai muslim diminta untuk “menghidupkan” dan memakmurkan masjid?
Belakangan ini, Islam dan penganutnya benar-benar sedang menjadi sorotan. Wajah muslim yang ditampilkan di media-media adalah wajah yang keras kepala, garang, sewotan, banyak omong, intimidatif, menyerang, ingin menang sendiri, arogan, egosentris, tidak bisa berdamai dan selalu ingin dianggap paling benar.
Sejak dahulu, di benua Amerika, Australia dan kawasan Eropa sekitarnya perseteruan dua kubu macam ini pernah berlangsung sampai terjadi perang suku dan ras. Orang-orang yang terlahir sebagai ras white skin (kulit putih) merasa paling tinggi derajatnya dibanding mereka yang ras black skin (kulit hitam). Kaum kulit putih, lantaran kaum mayoritas, merasa perlu melakukan gerilya dan terus-menerus merongrong kaum minoritas hingga terjadi pembunuhan besar-besaran. Mereka merasa berkuasa dan paling layak tinggal dengan jabatan dan posisi tertinggi di tanah tersebut. Menerima perbedaan menjadi barang langka yang sulit ditemukan pada masa itu. Namun, lambat laun semuanya berjalan sesuai sunatullah dan satu sama lain bisa saling berterima—sekalipun penindasan masih sering diperoleh kaum minoritas hingga detik ini.

Sekarang, di Indonesia perlahan-lahan hal serupa sedang terjadi. Ada upaya “adu-domba” yang kemudian menimbulkan perpecahan. Saya bukanlah bagian dari Badan Intelijen Negara (BIN), tidak bisa sembarang asal sebut soal pihak mana yang sedang “bermain-main” dan menggodok para “korban” dengan memakai bumbu agama. Yang jelas, untuk memicu perselisihan, agama adalah satu cara yang paling ampuh.

Indonesia didiami oleh berbagai suku, agama, ras, budaya, adat yang begitu beragam dan terikat. Perumusan Pancasila, UUD 1945, peraturan-peraturan yang berlaku di negara ini bukan sembarang tulis dan putuskan secara serampangan. Semuanya berdasarkan pertimbangan para tokoh besar yang membangun negara ini dengan melihat perbedaan yang ada di Nusantara. Maka adanya isu bangkitnya PKI, simbol Palu-Arit di mata uang, berdatangannya warga asing seperti China, Korea, Amerika dan segala macam adalah salah satu bumbu pemicu konflik lainnya—khususnya untuk memancing orang-orang bersumbu pendek yang kelewat banyak itu.

Orang-orang awam, yang menelan bulat-bulat informasi melalui media cetak dan elektronik tidak sungguh-sungguh menelusuri kebenarannya. Sebagian besar mereka bahkan adalah tim hore semata dan merasa paling mengerti soal apa yang terjadi dengan bangsa tercinta kita ini. Mestinya kita memahami dahulu, seperti kata seorang kawan, bahwa jangan mengagamakan budaya, tapi budayakanlah agama.

Problem terbesarnya tentu saja dengan “menggunakan” mayoritas sebagai kendaraan. Bukan bermaksud sepenuhnya menyalahkan media, sejak dahulu penyampai isu dan fakta terbaik ya tentu saja media. Sayangnya sebagian sudah beralih fungsi. Berita bukan lagi menunjukkan satu kebenaran (fakta) di dalamnya. Semua mengandung unsur-unsur politis dan bermain-main dengan sudut pandang tertentu. Membaca berita hari ini seperti sedang membaca karya sastra yang tafsirannya bisa beragam. Karenanya, sebelum kita benar-benar menjatuhi kepercayaan penuh pada media, kita mesti mempelajari dahulu siapa orang yang berada di belakang media itu? Kredibel-kah selama ini? Apalagi perpecahan antar warga semakin meningkat sejak Pilpres hingga hari ini menjelang Pilkada.

Akan sangat disayangkan andai kita terpecah-belah hanya karena satu momen tertentu. Seribu teman kurang, satu musuh kebanyakan. Sebagai makhluk sosial tentu kita tidak akan bisa bertahan hidup hanya dengan mengandalkan diri sendiri maupun kelompok. Ada saatnya kita memerlukan uluran tangan kelompok lain. Saya percaya wajah muslim hari ini hanyalah segelintir dari banyaknya wajah berseri nan tulus lainnya, yang belum sepenuhnya terekspos media. Terlebih sebagai pribumi Banten, wajah-wajah sesungguhnya ulama, para pewaris Nabi, masih bisa kita dapati di surau-surau, pesantren, kobong, pondok, juga dari para santri, penerus-penerus tonggak Islam yang damai, yang dibawa Rasulullah sejak kedatangannya di dunia ini.

Bukankah kisah-kisah Nabi Muhammad SAW masih sering kita dengar hingga saat ini? Cara beliau mengingatkan, cara beliau menegur, hingga cara beliau mengajak seseorang untuk memeluk Islam yaitu dengan perilaku yang lembut dan santun. Bagaimana cara beliau menyentuh hati seorang Kafir Quraisy yang gemar meludahinya setiap kali akan berangkat ke masjid dan sewaktu ia tidak ada beliau malah mencarinya, lalu setelah tahu sakit beliau mendatangi rumahnya, menjenguknya dan membawakan buah-buahan? Siapa yang tidak tersentuh dengan ketulusan yang Nabi tunjukkan itu? Islam adalah agama yang fleksibel dan tidak kaku, sayangnya hal demikian belum banyak yang menyadari.
Wajah muslim hari ini, yang selalu ditunjukkan media adalah wajah “para pemula”. Ulama, Kiyai serta Ustad yang ditampilkan, sebagian besar, menunjukkan kalau mengajak seseorang untuk menganut ajaran Islam mesti dengan cara kekerasan, pemaksaan dan sindiran-sindiran yang nyelekit sekaligus melukai hati. Pada akhirnya, ketika mereka berhasil “mengislamkan” dan mengajak seseorang mematuhi syariat Islam bukan lantaran ketulusan yang datang dari hatinya, melainkan karena paksaan dan berpikir bila ia tidak menurutinya maka ia akan dibenci dan dijauhi. Padahal Islam adalah agama yang penuh sayang dan cinta kasih. Wallahu’alam bissawab.


Cilegon, 05 Februari 2017

You Might Also Like

0 komentar