[SELF-DEPRESSION] MENGAPA KITA SALING MEMBENCI?

4:41 PM

image by: google.com

Belakangan saya sedang berpikir kenapa seseorang bisa saling membenci? Apa alasan terkuat mereka untuk membenci satu sama lain? Kedengkian macam apa hingga berhasil menghasut diri sendiri untuk menjaga jarak dari satu orang atau kelompok tertentu? Atau pernahkah kau membenci seseorang sebab ia membenci sesuatu? Bukankah itu bagian dari kebencian itu sendiri?
Pertanyaan macam itu terus saja berkelindan dan datang di waktu-waktu yang tidak tepat. Ia bisa saja datang dengan tergesa-gesa dan dadakan lalu hinggap di benak saya. Memaksa saya untuk mencari jawabannya, atau minimal merasa terganggu agar terus memikirkannya. Sungguh merepotkan!

Cara terbaiknya barangkali dengan menuliskannya seperti ini. Namun sialnya, saya jadi teringat kepada seseorang yang sudah lama tidak bertegur sapa, bertatap muka, melangkah bersama. Dulu kita dekat, amat dekat. Salah satu dari kami memberi jarak seperti spasi atau bahkan tombol enter pada keyboard komputermu. Entah berapa kali tekan hingga sampai detik ini kami benar-benar terpisah jarak, waktu dan rindu. Sudah tidak ada lagi kalimat sempurna yang bisa dibaca.
[Percaya atau tidak, bahkan saat tulisan ini belum selesai, ada chat baru masuk di What’s App saya. Dan itu dari kamu.... Astaga, sedemikian kilatkah doa saya dikabulkan?]

Adakah kebencian antara kami?
Saya tidak bisa memastikannya, yang jelas, di satu waktu tertentu, ia tak berkabar dan disusul dengan hari-hari berikutnya yang kosong tanpa cengkerama darinya. Baiklah, cukup segitu saja tentangnya. Kembali lagi soal kenapa orang gemar membenci?

Banyak hal yang membuat seseorang hingga akhirnya memutuskan untuk saling membenci. Namun kalau ditarik satu garis kesimpulan, maka jawaban yang diperoleh adalah: PERBEDAAN.
Orang-orang saling membenci karena mereka berbeda. Bisa soal cara pikir, cara pandang, keyakinan yang dianut, silang pendapat, dan banyak lainnya yang kemudian mengerucut pada satu simpulan lagi: TIDAK SUKA.

Karena ketidaksukaan kita akan perbedaan itulah yang bisa menimbulkan percik kebencian. Namun, masih ada pertanyaan ganjil; bagaimana bila kita membenci seseorang justru karena satu kesamaan? Misal: mencintai orang yang sama?

Saya selalu menulis sesuka hati. Dan pertanyaan itu menyelinap barusan saat saya sedang mengetik, yang artinya di luar konsep awal dan tujuan saya menulis ini. Dan karena pertanyaan itulah saya jadi ingat seseorang lagi—yang masih ada kaitannya dengan seseorang diawal tadi. But, anyway, jadi, apa kira-kira jawabannya?

Boleh jadi saya salah menempatkan istilah yang tepat untuk hal-hal yang sudah disebutkan tadi? Atau andai itu diabaikan, ada kemungkinan lain. Misal si A benci B bukan karena B cinta si C. Tapi si A benci B lantaran si B cinta si C. Lah, sama saja, ya? Tenang, saya bukan kehabisan ide dan tak bisa memecahkan rumus ini, justru saya menemukan rumus baru. orang saling membenci karena dua hal: pertama, berbeda. Kedua, sama. Sebab, seperti halnya cinta, benci tak butuh alasan. Satu hal yang mesti diingat, di lain kesempatan, kebencian itu perlu. Saya tak usah menyebutkannya, tentu setiap nurani bisa memilahnya. Yang jelas, membencilah sewajarnya, layaknya kita mencintai seseorang.

Oh, iya, hampir terlewat. Yang membedakan antara, ‘tidak suka’ dan ‘benci’ barangkali terletak pada titik tekannya. Semacam, ‘hitam’ dan ‘hitam pekat’ atau ‘hitam metalik’. Hitam, ya, sebatas warna gelap saja. Namun hitam metalik adalah warna gelap yang bercahaya—ini agak rumit sendiri saya menguraikannya. Hitam metalik dapat memantulkan cahaya, sebab nama metalik merujuk pada benda atau sesuatu yang berbahan dasar dan mengandung metal. Namun karena sedari awal saya bicara soal kata sifat (manusia), maka untuk poin pertama berkenaan dengan perasaan. Berbeda soal amsal kedua itu. Titik tekan yang saya maksud adalah ketika kita ‘tidak suka’ pada sesuatu, kita memilih untuk ‘tidak peduli’ dan tak banyak bercakap soal sesuatu hal tersebut. Sedangkan, ketika kita ‘benci’ pada sesuatu atau seseorang, justru kita akan jauh ‘lebih peduli’ dengan cara yang berbeda. Bukannya menjauhi, karena ‘kebencianlah’ kita akan terus berusaha mendekatinya. Hanya saja, yang kita bawa untuknya adalah ‘api’ dan segala sesuatu yang berlawanan dan bersifat negatif. Lebih-lebih yang membuat sesuatu/seseorang yang kita benci itu menjadi semakin buruk dan hancur atau terbakar di hadapan kita dan khalayak ramai. Semakin ia tersiksa dan tampak tak berdaya, maka si pemilik kebencian itu akan terpuaskan dan berhasil ‘orgasme’, sesuai yang dikehendakinya.

Adakah tujuan dari memupuk kebencian pada seseorang?

Tak bisa disembunyikan tentu saja, saya sendiri pernah atau bahkan masih (tanpa saya sadari) membenci seseorang. Akan tetapi, kemudian saya berpikir seperti pertanyaan-pertanyaan diawal, untuk apa membenci? Alasan terkuat apa sampai saya membenci orang tersebut? Pada akhirnya, kita kembali padaNya dengan tanpa membawa apa-apa. Bahkan, seingat saya, dulu waktu masih usia belasan, saya pernah membenci kawan dekat saya sendiri. Setelah bertahun-tahun terlewati, dia dan juga saya tak pernah bertegur sapa. Kalaupun ada kesempatan bertemu di satu acara, sebisa mungkin kami menjaga pandangan agar tak saling tatap dan terus saja menyibukkan diri. Namun saya sampai pada sebuah pertanyaan, “kok bisa saya benci sama dia? Dulu karena apa, ya?” dan pertanyaan begok lainnya yang membuat saya terkekeh sendiri. Karena pertanyaan itulah saya membuka diri. Sejahat dan sesakit apa pun ia melukai saya, saya sudah berterima dan berlapang dada. Kata, “maaf” dengan sendirinya meluncur dari masing-masing kami saat saya beranikan diri untuk menegurnya lebih dahulu ketika bertemu. Dan ternyata, hanya soal komunikasi saja. Dia pun sudah hampir lupa alasan kami saling menjauhi dan membenci. Jadi saya rasa, kebencian adalah sebuah perasaan yang dimiliki oleh orang-orang yang tidak punya tujuan.

Hal-hal yang berkawan baik dengan kebencian adalah ke-egosentris-an. Contoh kasus di atas menunjukkan kalau saja ‘keakuan’ yang ada dalam diri kita sedikit melonggar, maka perasaan dan perilaku membenci itu dengan sendirinya akan lenyap dan sirna. Ibarat sampah yang kita buang bukan pada tempatnya. Kalau terus menerus kita menjaga perilaku buruk itu, orang-orang akan mengikuti kita karena sudah menganggapnya lumrah. Padahal, sekali saja ada inisiatif untuk membuatkan tempat sampah atau mengarahkan dan membersikan sampah-sampah itu, lambat laun semua akan menjadi indah. Bukan lagi indah pada waktunya, tetapi indah karena kita yang menentukan keindahan itu ingin ditaruh-letakkan di mana.

Yang sering terlupa sebagai sesama manusia adalah kalau kita diciptakan bukan sebagai pengatur. Barangkali kebencian pun bertalian dengan kata itu. Seakrab dan sekarib apa pun kita dengan seorang teman, kita tidak bisa mengendalikan cara berpikir dan perilakunya. Kita hanya dianjurkan untuk mengingatkan dan menegur, kalaupun boleh lebih dari itu, kita bisa mengarahkan atau menunjukkan jalan lain di antara banyaknya jalan yang bisa ia pilih. Pada akhirnya, kehidupan tidak menyuguhkan penyelesaian. Ia hanya pilihan-pilihan yang bertebaran.
Cilegon 16 Januari 2017

You Might Also Like

0 komentar