[RESENSI] NOVEL: LOVE, LIFE, AND CHOIR KARYA KIKY AURORA AR (STILETTO, 2016)

11:59 PM

PERJALANAN, CINTA DAN SEGALA KERUMITANNYA







Judul Buku      : Love, Life and Choir
Penulis             : Kiky Aurora AR
Kategori          : Novel
Penerbit           : Stiletto
ISBN               : 978-602-7572-53-9
Terbit               : 2016
Tebal               : 236 Halaman
Harga              : Rp. 55.000




“Yogya terbuat dari rindu, pulang dan angkringan.”
       ~ Joko Pinurbo.



Perjalanan, sejauh apa pun kamu pergi, langkah kakimu pasti akan membawamu kembali.  Sama halnya ketika kita berbicara soal cinta. Ia adalah perjalanan tentang perasaan, jarak dan hubungan. Di antara bagian-bagian itu, ada satu hal lagi, yakni tujuan. Dalam novel remaja karangan Kiky Aurora AR berjudul, “Love, Life and Choir” akan Anda temukan apa yang saya maksud. Novel yang terdiri atas tiga keping bab ini, mengisahkan perjalanan cinta antar satu tokoh dengan tokoh lainnya.

Berlatar belakang tokoh yang menekuni paduan suara, juga setting tempat di Jogjakarta, cerita mulai mengalir. Bab pertama, “Kali Ini Bukan Tentang Ariel”—saya akan menyebutnya bab “Rindu”—dibuka oleh tokoh Reni dan kisah cintanya. Mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang belakangan kesulitan berkonsentrasi saat berlatih paduan suara dengan kakak angkatannya, Andromeda. Setiap kali hendak fokus, bayangan Ariel, yang diketahui kemudian ternyata kekasih hatinya, mendadak muncul tiba-tiba menggeser posisi Andro yang ada di hadapannya. Reni sering merasa kesulitan untuk membedakan wajah keduanya. Dua sosok pria berpostur ideal itu sama-sama “charming”. Seperti ada daya magis yang menyedot perhatian Reni. Andro pun ternyata menaruh hati juga pada adik tingkatnya itu. Bisa dibuktikan ketika ia rela berkunjung jauh-jauh dari tempat tinggalnya ke rumah Reni yang berada di Kota Semarang (hal. 75). Sayangnya, sekalipun Reni merasa nyaman dengan Andro, Ariel masih sulit dihilangkan. Kekasihnya yang meninggal akibat kecelakaan itu sering menjadi bayang-bayang di benaknya setiap kali ia ingin membuka hatinya untuk orang lain. Ada rindu yang sulit sekali direngkuh, ia menjerat kenangan yang sulit dilupakan. Di detik-detik bab-lah Widya hadir sebagai sahabat Reni yang selalu mendukung dan berusaha memberikan solusi untuk kisah cintanya yang rumit.

Berlanjut ke bab berikutnya. Barangkali inilah keunikan novel ini, meski setiap bab terkesan berdiri sendiri oleh tokoh-tokoh yang berlainan, namun di beberapa bagian hingga ending terselip potongan-potongan yang saling terkait dan dukung. Serupa tangga nada yang saling topang, menghantarkan kita pada nada puncak dan keintiman serta kesyahduan suara dan perpaduan alat musik yang harmonis. Bab dua ini berjudul, “Akhir Penantian Tara”—saya lebih senang menyebutnya bab, “Pulang”. Mungkin Tara dimaksudkan sang narator sebagai sosok cewek yang gigih dan agresif—sekalipun pemilihan nama Tara saya rasa kurang tepat untuk perempuan; atau malah memang disengaja oleh penulisnya (?). Meski cintanya sudah ditolak oleh Rudi, ia masih berusaha mendekatinya, namun lagi-lagi tak ada respons. Kehampaan hatilah yang harus ia bawa pulang. Hingga akhirnya ia berusaha untuk move on.
Hadirnya Weni dan Dinda sebagai teman dan sahabat membuat Tara tak patah arang untuk memperjuangkan cintanya. Dari bisikan Weni ia tahu kalau ada seorang laki-laki yang menjadi “secret admirer”-nya. Dia adalah Nicko. Pernyataan itu diperkuat oleh Dino, sahabat Nicko. Ia mengatakan kalau Nicko memang menaruh hati pada Tara. Tetapi, sampai berhari-hari kemudian, Nicko tak juga lekas menyatakan cintanya. Hingga akhirnya membuat Tara geram dan tak sabar lagi menunggu lama. Lagi-lagi, sebagai tokoh perempuan, ia menyatakan cintanya lebih dulu kepada laki-laki. Tak ada yang salah, keberanian penulis pada bab ini patut diacungi jempol. Menunggu, meski terdengar romantis, di satu sisi selalu membuatmu jengkel; bahkan tak peduli lagi dengan lengkuas atau daging rendang yang ada di mulutmu, misal. Begitulah Tara, ia tak peduli dengan segala resiko yang didapatinya kemudian, yang penting ia sudah berani “mengunyah” dan menyampaikan isi hatinya.

Sialnya, Nicko benar-benar seperti yang dikatakan Dinda; ia pendiam dan pemalu. Ia menggantung Tara dan tak lekas memberi jawaban, “ya” atau “tidak”. lantas Tara pun dibuat gemas (begitupun juga pembaca), ia memilih pulang—lebih baik pemakaian pulang ketimbang pergi, sebab ia bermuasal dari sebuah titik nol perjalanan cinta, dan ia kembali ke sana. Barangkali dengan begitu ia merasa lebih terhormat ketimbang terus diulur-ulur ibarat layangan nyangkut di kabel atau pohon randu tengah sawah. Padahal, Nicko memiliki alasan kenapa ia tak lekas mengambil keputusan. Di lubuk hatinya, ia masih menyimpan satu nama, cinta pertamanya, yakni Elsa. Tetapi, setelah melalui banyak pertimbangan layaknya para juri di ajang pencarian bakat, akhirnya Nicko memilih untuk move on dan menerima cinta Tara. Nahas, ia terlambat. Kita sama-sama ketahui, inilah akhir penantian Tara, ia memilih pulang. Terlambat sudah semuanya. Pada bab ini bisa ditarik simpulan bahwa lekaslah kejar dan raih segala apa yang pantas diupayakan, sebelum ia pulang (keharibaan-Nya, misal), terlebih bila itu adalah orang terkasihmu.

Tibalah di bab terakhir. Klimaks dari perjalanan ketiga kisah cinta yang terangkum dalam buku ini, saya rasa patut menjura kepada si penulisnya. Sebab, di bagian ketiga ini akan Anda dapati ending yang pecah dan tak terduga dibanding dua bab sebelumnya. Judulnya, “Mengejar Cinta Nugie”—agar komplit dan sama dengan bab-bab diawal, saya istilahkan bab ini dengan “Angkringan”. Masih soal mengejar-ngejar cinta.

Sebelum saya bicara soal tokoh-tokoh yang mengisi cerita, ada kecurigaan sebagai pembaca bahwa sang narator dalam novel ini adalah suara dari penulisnya sendiri. Entah sedemikian kompleks-kah kehidupan percintaan penulisnya hingga ia tuangkan dalam kisah yang difiksikan? Namun kembali lagi, ini hanya sebuah kecurigaan saya. Sebab bila diperhatikan, bahkan sampai bab ketiga ini pun, tokoh yang “dikambinghitamkan” adalah perempuan. Lagi-lagi dibuat sedemikian agresif soal mendapatkan cinta seorang laki-laki. Tersebutlah Devi, seorang kakak senior, yang berusaha mendapatkan cinta Nugie—yang digambarkan sebagai sosok tokoh yang mengalami broken home—adik tingkatnya di kampus. Di mata Devi, Nugie memberikan respons sesuai harapannya, berbeda nasibnya dengan Reni dan Tara—meski tak menutup kemungkinan masih ada kemiripan dan benang merahnya. Devi sering diajak jalan, makan dan nonton oleh Nugie. sialnya setelah tahu, rupanya Nugie hanya menganggap Devi sebagai kakaknya saja—brother zone [only].

Namun kegigihan Devi terlihat di kilasan-kilasan cerita berikutnya. Ia membeli dua buah tiket konser paduan suara. Tentu ia maksudkan untuk nonton bersama Nugie, sayangnya, pria beger (beranjak dewasa) itu pun menolak. Ia tidak bisa nonton bareng dengan alasan segala macam. Devi sebal, namun tentu ia tak bisa memaksa. Karena tidak ingin sia-sia, tiketnya ia berikan kepada Pram, teman sekaligus juga tetangganya—yang ternyata ia adalah adik dari Andromeda yang ada dalam bab pertama.
Devi pun jalan dengan Pram. Ketika sampai di tempat konser, ia sungguh tidak menyangka. Rumor kalau Nugie gay pun terbukti di sana. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Nugie tengah bermesraan dengan Alvin, bahkan sampai bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih. Hati Devi remuk, pecah berkeping-keping. Saat itulah Pram ambil bagian, ia selalu ada di saat Devi tengah butuh sandaran. Pram ibarat Angkringan bagi Devi. Ia dekat dan menyadarkan kalau bahagia tak harus rumit dan butuh perjuangan. Terkadang ia ada di sekitar kita, hanya saja kita lebih sering kurang peduli, dibutuhkan kepekaan untuk meyadarkan itu semua.

Sepanjang pembacaan, justru yang menjadi poin lebihnya bagi saya adalah hadirnya tokoh-tokoh sisipan yang meski mendapatkan porsi sedikit, namun mereka mengisinya dengan baik. Sehingga cerita berjalan sesuai kehendak sang narator (sudut pandang orang ketiga serba tahu), dan membantu para tokoh utama untuk mencapai “misinya”. Sebut saja semisal: Widya untuk Reni, Weni dan Dinda untuk Tara, Dino untuk Nicko, Pram untuk Devi. Mereka menjadi jembatan kecil untuk para tokoh menyeberang dari satu alur ke alur lainnya. Kepiawaian penulis dalam menghadirkan tokoh-tokoh ini cukup cerdik. Ia tahu bagaimana cara menuntun setiap tokohnya untuk terus melangkah. Ditambah pengetahuan penulis soal Yogyakarta yang lumayan luas; mulai dari Angkringan, pantai Parangtritis, kaki Merapi, sampai ke kuliner Sate Karang. Barangkali memang latar belakang Kiky-lah, sebagai penulis yang hobi ber-traveling, yang memperkuat riset novelnya.
Memang beginilah yang dibutuhkan untuk menopang logika cerita; baik secara alur, setting, penokohan dan segala macamnya. Sayangnya beberapa bagian masih ditemukan kesalahan eja, tulis juga penempatan tanda baca, di sisi lain juga penguatan karakter tokoh yang terkesan kurang mendalam. Namun bagaimanapun juga, sebuah karya adalah sebuah karya adalah sebuah karya adalah sebuah karya yang patut mendapatkan apresiasi dari pembaca. Sebaik dan seburuk apa pun. Setidaknya, Kiky sudah membuktikan ia berhasil menjejak satu tangga nada untuk melangkah ke nada berikutnya—agar terdengar merdu dan tidak sumbang, tentu saja dibutuhkan latihan yang intens, layaknya cinta yang mesti terus diperjuangkan.


Cilegon, 15 September 2016

You Might Also Like

2 komentar