Posts

Showing posts from March, 2026

Na Willa: Slice of Life, Magis, dan Catatan Kecil untuk Film Anak-Anak

Image
Ada film yang terasa seperti cerita besar, penuh ledakan, konflik, dan kejutan. Tapi ada juga film yang dinarasikan secara perlahan, seperti seseorang duduk di samping kita, lalu bercerita tentang hal-hal sederhana, yang justru diam-diam membekas. Film Na Willa ada di kategori kedua itu. Di tangan Ryan Adriandhy, film ini terasa seperti surat cinta untuk masa kecil yang jujur, polos, dan kadang lebih dalam dari yang kita kira. Diadaptasi dari novel karya Reda Gaudiamo, film ini mengikuti keseharian Na Willa (Luisa Adreena), anak 6 tahun yang hidup di Surabaya tahun 1960-an. Dunia Willa bukan tentang petualangan besar, tapi gang kecil, teman-teman, dan rasa penasaran yang nggak ada habisnya. Dan jujur, banyak momen kecil yang bikin kita senyum sendiri karena terasa dekat. Fase awal belajar baca, misalnya—semua tulisan di jalan dieja satu-satu. Dunia seperti papan besar yang harus diterjemahkan. Atau hal-hal yang serba pertama di usia segitu: pertama sekolah, pertama punya teman baru, sa...

[Ulasan Film] Tunggu Aku Sukses Nanti: Mengurai Luka Kelu(h)arga

Image
Skor: 8,5/10 Film keluarga sering terasa sederhana di permukaan, tetapi menyimpan lapisan emosi yang dekat dengan pengalaman banyak orang. Itulah yang saya rasakan saat menonton Tunggu Aku Sukses Nanti. Film ini bukan sekadar cerita tentang kesuksesan, melainkan tentang harga diri, ekspektasi keluarga, dan tekanan sosial yang sering muncul justru di ruang yang seharusnya paling aman: keluarga sendiri. Film ini bercerita tentang Arga (Ardit Erwandha), seorang pemuda yang sudah tiga tahun menganggur. Menjelang usia dewasa, ia memiliki satu ambi si: ingin membuktikan kepada keluarga besarnya bahwa ia juga bisa sukses seperti saudara-saudaranya. Dalam situasi seperti itu, Arga berada dalam posisi yang oleh film ini diplesetkan sebagai “burger generation”, sebuah permainan kata dari istilah Sandwich Generation. Namun secara konsep, istilah ini sebenarnya tidak sepenuhnya tepat. Dalam kajian sosial, sandwich generation biasanya merujuk pada individu usia produktif yang terjepit di anta...

[Catatan] Panggilan Sinema: Dari Rumah Dunia dan Komunitas Bahasa Jawa Serang untuk Yuni

Image
Kalau tak salah ingat, panggilan telepon itu masuk saat siang hari, ketika saya memutuskan untuk merebahkan diri sebentar di sofa lapuk di rumah orang tua saya. Saya tak segera menerima teleponnya karena saya tipe orang yang tidak begitu senang berbicara lewat telepon. Tetapi, kali ini lain. Sebuah panggilan istimewa dari Mang Qizink La Aziva, seorang jurnalis dan pendiri Komunitas Bahasa Jawa Serang. Saya tak bisa menolaknya karena biasanya kalau panggilan dari beliau pertanda ada hal penting yang tidak bisa disampaikan lewat pesan teks. “De, kisuk ming Rumah Dunia, ya. Bantoni suting film.” (De, besok ke Rumah Dunia, ya. Bantu-bantu syuting film). Kurang lebih begitu ucapnya dalam bahasa daerah Jawa Banten atau kami lebih sering menyebutnya Jaseng (Jawa Serang). Sejak seminggu sebelumnya, di komunitas menulis kami, Rumah Dunia─yang didirikan salah satunya oleh Gol A Gong seorang sastrawan ternama dan Duta Baca Indonesia─sedang ramai sekali persiapan casting.  Mulanya saya mengi...

[Ulasan Film] Belajar Mendengar Suara Alam Lewat Film "Hoppers"

Image
  Skor: 8,5/10 Seperti kebanyakan film dari Pixar Animation Studios dan Walt Disney Pictures, Hoppers langsung dibuka dengan cara yang sangat memikat. Beberapa menit pertamanya terasa hangat sekaligus menarik perhatian, membuat kita cepat terhubung dengan karakter utamanya, Mabel Tanaka (Piper Curda). Mabel digambarkan sebagai anak yang punya kedekatan emosional dengan neneknya—sebuah relasi kecil yang justru menjadi fondasi penting bagi keseluruhan cerita. Perkenalan karakter Mabel sejak kecil hingga beranjak dewasa pada usia 19 tahun terasa mulus. Transisinya tidak terasa dipaksakan; justru perlahan kita diajak memahami bagaimana kecintaannya terhadap hewan dan alam tumbuh dari nilai-nilai yang ditanamkan oleh sang nenek. Ada beberapa kalimat yang sering diulang sepanjang film, tetapi yang paling membekas adalah nasihat sederhana dari neneknya: “It's hard to be mad when you feel like you're part of something big.” Kalimat itu terasa seperti benang merah emosional yang terus...

[Ulasan Film] Hamnet: Duka yang Tumbuh Menjadi Panggung Keabadian

Image
Skor: 8,5/10. Hamnet adalah film drama sejarah Amerika Serikat tahun 2025 yang disutradarai oleh Chloé Zhao, diadaptasi dari novel laris karya Maggie O'Farrell yang terbit pada 2020. Film ini membawa kita kembali ke Inggris abad ke-16, bukan untuk menyaksikan kejayaan seorang dramawan besar, melainkan untuk menyelami ruang paling rapuh dalam hidupnya: rumah. Di sanalah kisah tentang kehilangan, cinta, dan kesunyian dipintal perlahan. Alih-alih menempatkan William Shakespeare sebagai pusat kemegahan sastra dunia, film ini justru memelankan langkahnya, menyorot hubungan intimnya dengan Agnes dan bagaimana kematian putra mereka, Hamnet, mengubah arah hidup keduanya. Kita tidak sedang diajak membaca sejarah, melainkan merasakan denyutnya. Karakter Agnes dibawakan dengan sangat meyakinkan oleh Jessie Buckley. Ada sesuatu yang liar sekaligus lembut dalam tatapannya. Ia misterius di awal, seperti perempuan yang menyatu dengan alam dan intuisi, lalu perlahan berubah menjadi ibu dengan perg...