[Ulasan Film] Kokuho: Kabuki, Ambisi, dan Perjuangan Hidup yang Mengorbankan Segalanya

Image by imax.com
Skor: 8,8/10

Setiap kali kelar nonton film tentang seniman yang gigih meraih cita-cita dan impiannya, dada ini rasanya sesak. Tidak bisa tidak untuk membayangkan bahwa tokoh utama di film itu adalah saya, dan memang inilah dunia yang harus dijalani dan layak diperjuangkan—sampai mati. Hingga hari ini perasaan itu masih belum berubah.

Kokuho adalah film drama epik Jepang tentang perjalanan hidup Kikuo, anak Yakuza yang yatim piatu dan dididik menjadi aktor teater Kabuki legendaris. Selama 50 tahun, ia bersaing dengan Shunsuke, putra angkat gurunya, dalam intrik seni, tradisi, dan pengkhianatan demi mencapai gelar tertinggi "Kokuho" yang bermakna Harta Karun Nasional.

Film berdurasi hampir 3 jam ini sepertinya akan lebih baik jika dijadikan serial seperti "Bule Eye Samurai" atau "Shogun" yang mengisahkan tentang seni dan budaya Jepang. Alasannya jelas, karena film Kokuho terlalu banyak bagian yang dipersingkat, bahkan di durasi sepanjang itu. Sebab, menurut saya banyak sesuatu yang mestinya bisa lebih digali lagi kisahnya semisal motivasi Kikuo kenapa ingin menjadi Kabuki padahal ia anak seorang Yakuza yang ditakuti dan disegani di seantero Jepang.


Production designnya patut diacungi jempol. Film ini tidak main-main dan berhasil menjelaskan setiap detail dari kesenian Kabuki ini. Rasa getir, kesedihan, kebahagiaan yang ditampakkan oleh setiap aktornya wajib diberi tepuk tangan dan rasa hormat setinggi-tingginya. Terlihat sekali betapa tulus dan besar dedikasi mereka membawakan perannya. Sebagai penonton dari luar Jepang saja sekagum ini, bagaimana dengan orang Jepangnya sendiri, ya, pasti mendapatkan lapisan emosi yang lebih dalam.

Alurnya memang terasa lambat dan mudah memantik rasa bosan, apalagi yang terbiasa menonton film dengan aksi karakter yang besar. Tapi tampaknya, film ini akan disukai mereka yang senang sejarah, mendengarkan dialog, dan seni teater.

Setiap gerak karakter jelas motivasinya, bahkan ketika Kikuo menyingkirkan Shunsuke dari pilihan ayahnya. Bukan karena disengaja, Kikuo sebetulnya saking fokusnya dengan kesenian ini hingga dia betul-betul menyerahkan hidupnya untuk Kabuki dan membuat Konjiro kagum.


Bahkan ada satu adegan ketika dia bicara dengan anaknya, ia berdoa kepada Iblis. Mereka membuat perjanjian akan melakukan apa saja asalkan berhasil meraih apa yang diinginkan. Ego seorang seniman sungguh ditampakkan di film yang diangkat dari buku berjudul sama karya penulis Jepang, Shuichi Yoshida, yang diterbitkan pada tahun 2018 lalu. Andai saja dibuat serial dan motivasi karakternya jelas di awal, saya akan memberi nilai lebih besar.


Cilegon, 24 Februari 2026

Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Film] Muhammad: The Messenger of God

[Ulasan Film] Mengurai Trauma Somatik dan Fatherless Issue dalam "Sore: Istri dari Masa Depan"

[REVIEW FILM] The Words: Buku, Penulis dan Skandal-skandal

Aku Tahu Kau akan Pergi (9 Puisi tentang Pertemuan dan Perpisahan)

Lake Maning Bocah ( 4 Puisi Bahasa Jawa Banten)

[Ulasan Film] One Piece Live Action: Alur yang Dipadatkan dan Ikatan Emosional yang Memudar

[Catatan] Panggilan Sinema: Dari Rumah Dunia dan Komunitas Bahasa Jawa Serang untuk Yuni

TRICK INTERNET GRATIS SEMUA OPERATOR

[Ulasan Film] Tunggu Aku Sukses Nanti: Mengurai Luka Kelu(h)arga

[Ulasan Film] Gadis Kretek: Kisah Cinta Menyesakkan Dada dan Sejarah Kelam yang Menyengsarakan