[RESENSI] Air Mata Sang Garuda (AG Litera, 2013)



"MEMBACA PESAN KEHIDUPAN DI MATA SANG GARUDA"

Peresensi: Denni meilizon, Penulis, Penyair, dan Pemerhati Sastra asal Padang, Sumatera Barat




Judul               : Air Mata Sang Garuda
Penulis             : Ade Ubaidil

Penerbit           : AG Litera
Cetakan           : Pertama, Oktober 2013
Tebal               : xiv + 245 Halaman
ISBN               : 978-602-7692-69-5

Mempelajari kehidupan manusia tentu tidak akan ada habis-habisnya sepanjang kehidupan itu masih berlangsung di muka bumi ini. Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik bila kehidupan itu benar-benar dihayati serta direnungkan. Keseluruhannya dimaksudkan Tuhan sebagai pemberi pelajaran bagi manusia yang mau membuka wawasan dan pengetahuannya untuk kemudian berhijrah menuju kesempurnaan yang arif dalam menuntaskan fragmen demi fragmen kehidupan.
Fragmen demi fragmen kehidupan itu sesungguhnya adalah cerita tentang kita sendiri. Kisahnya terserak begitu banyak di sekitar kita. Maka bila kisah-kisah itu kembali dituliskan dalam bahasa sastra niscaya bakal menjadi sebuah cermin, memantulkan wujud yang memberi makna bagi orang lain sehingga menjadi penawar dahaga di tengah terpaan badai kehidupan.
Buku Kumpulan Cerpen “Air Mata Sang Garuda” ini memuat 20 (dua puluh) cerita pendek yang mengajari kita bahwa segala kejadian di atas dunia ini selalu memberikan hikmah dan pesan. Ada kekuatan bercerita yang disampaikan oleh penulisnya. Pesannya tak kering, namun basah dan merayap dari mata kemudian memendam ke dalam hati. Tema-tema dalam buku ini mengangkat tentang cinta, kasih sayang, perjuangan hidup, dan nasionalisme dari sudut padang seorang anak muda yang sedang mekar-mekarnya untuk menghisap bulir-bulir kehidupan.
Ada beberapa cerita pendek dalam buku ini yang memberikan catatan kaki sehingga membantu pembaca untuk lebih memahami istilah yang digunakan. Pada halaman awal setiap cerita juga disisipkan pesan-pesan moral dari penulis terkait isi ceritanya sehingga sedari awal pembaca sudah diajak untuk merenungi dengan tidak meraba-raba, menerka dan menebak jalan cerita. Pesan-pesan moral seperti ini masih sangat jarang disertakan sehingga menjadi hal yang menarik dan sebuah keunikan buku ini.
Puisi-puisi juga disisipkan oleh penulis pada beberapa ceritanya. Puisi-puisi gubahan Ade Ubaidil itu menjadi penguat alur cerita dan menjadikannya manis terasa. Dua bentuk kesusasteraan dijadikan satu tentunya hanya mampu dilakukan oleh penulis yang berbakat dalam mengolah keliaran kata karena jelas membutuh daya imajinasi dan nalar yang tinggi untuk menjadikannya menyatu dan saling membangun.
Buku Kumpulan Cerpen “Air Mata Sang Garuda” ini layak menjadi pilihan anda akan buku-buku cerita yang bernas. Memang cukup tebal untuk sebuah buku kumpulan cerpen namun di dalam ketebalan buku ini tersimpan mutiara-mutiara mutu manikam kehidupan yang pantas untuk disejajarkan dengan koleksi perpustakaan anda. 
Peresensi : Denni Meilizon

Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Film] Muhammad: The Messenger of God

[Ulasan Film] Mengurai Trauma Somatik dan Fatherless Issue dalam "Sore: Istri dari Masa Depan"

[REVIEW FILM] The Words: Buku, Penulis dan Skandal-skandal

Aku Tahu Kau akan Pergi (9 Puisi tentang Pertemuan dan Perpisahan)

Lake Maning Bocah ( 4 Puisi Bahasa Jawa Banten)

[Ulasan Film] One Piece Live Action: Alur yang Dipadatkan dan Ikatan Emosional yang Memudar

[Catatan] Panggilan Sinema: Dari Rumah Dunia dan Komunitas Bahasa Jawa Serang untuk Yuni

TRICK INTERNET GRATIS SEMUA OPERATOR

[Ulasan Film] Tunggu Aku Sukses Nanti: Mengurai Luka Kelu(h)arga

[Ulasan Film] Gadis Kretek: Kisah Cinta Menyesakkan Dada dan Sejarah Kelam yang Menyengsarakan