[Ulasan Film] Gara-Gara Warisan: Drama Keluarga dan Eksekusi Ending yang Tergesa-gesa

12:58 PM

Poster official by Starvision


Score: 7/10

Seorang bapak bernama Dahlan (Yayu Unru), setelah jatuh sakit akan mewariskan guest house miliknya kepada ketiga anaknya yang tak pernah akur; Adam (Oka Antara), Laras (Indah Permatasari), dan Dicky (Ge Pamungkas). Hanya ada satu anak yang akan mendapatkan warisan tersebut, dengan syarat mereka diberi waktu beberapa hari secara bergantian mengurusi guest house itu. Siapa yang pantas mendapatkannya akan dipilih oleh keempat karyawannya yang super kocak, diperankan oleh Aci Resti, Dicky Difie, Lolox, dan Ence Bagus. 

Secara kemasan komedi, film ini jor-joran enyuguhkan komedi "receh" semisal celetukan dan diksi-diksi yang super kocyak, lebih banyak memang muncul dari kwartet karyawan itu. Sayangnya, ada beberapa yang diselipkan dalam scene yang kurang tepat. Atau saat pergantian scene yang terkesan buru-buru. Belum lagi peristiwa yang dinarasikan terlalu verbal lewat dialog panjang-panjang, padahal bisa disampaikan lewat visual saja. 

Sebagai debut, Muhadkly Acho selaku sutradara dan penulis patut diapresiasi. Sejak lama saya mengikuti awal dirinya berkarir sebagai stand up comedy-an dan memang saya suka dengan persona dan jokesnya. Ernest Prakasa sebagai Produser kreatif pun tampak turut menjaga vibes film ini seperti Cek Toko Sebelah. Dalam sebuah wawancara ia bahkan mengklaim "Ini Cek Toko Sebelah versi Pribumi," candanya.

Akan tetapi, saya masih menjagokan CTS tentu saja. Drama yang disuguhkan di CTS betul-betul terasa pergulatan emosinya, ditambah selipan komedi yang sesuai takaran, berbeda dengan GGW ini, banyak scene yang berpotensi mengundang air mata, terpaksa gagal mengalir lantaran adegan langsung berpindah sebelum scene potensial ini sampai klimaksnya—paling tidak itu yang saya rasakan. 

Saya juga menyayangkan performa Ge Pamungkas. Di film ini, sebagai anak bungsu, dia adalah kunci jalannya cerita. Tapi entah mengapa saya tidak bisa merasakan pergolakan batinnya dan rasanya sulit untuk berempati. Akting dia yang terbaik masih di film "Ghost Writer".

Dan, lagi-lagi PR besar sineas Indonesia adalah ketika mengeksekusi akhir cerita. Terasa sekali di film ini terburu-buru dan mengejar happy ending. Semua pergerakannya begitu cepat, semacam seluruh cerita disimpulkan di akhir. Bahkan beberapa scene terasa artifisial; semisal bandar narkoba yang mudah sekali dilacak polisi dan lain sebagainya. 

Kalau teman-teman mencari hiburan, film ini layak saya rekomendasikan, tetapi kalau mencari film yang selesai menonton kita seolah diajak merenung, film ini belum bicara sejauh itu—bisa jadi premisnya tidak relate dengan saya. 

Cilegon, 5 Mei 2022

You Might Also Like

0 komentar