[Ulasan Buku] Tradisi Omotenashi dan Anak Panah yang Meleset dari Sasaran (Lensasastra.id, 26 Februari 2022)

February 26, 2022

 



Judul            : Sang Pemanah (The Archer)
Penulis        : Paulo Coelho

Alih Bahasa: Rosi L. Simamora

Ilustrator    : Martin Dima
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan       : Pertama, April 2021
Tebal            : 152 halaman
ISBN             : 978-602-06-5134-7

 

Beberapa waktu lalu, NHK World Japan, sebuah layanan internasional dari organisasi media publik di Jepang, melansir video tentang barang-barang hilang milik penumpang kereta bawah tanah di Tokyo. Setiap harinya ada 2000 barang hilang yang dikumpulkan dari 179 stasiun. Ada ruangan khusus untuk menyimpan barang-barang tersebut dan diperlakukan sedemikian hati-hati. Kita tidak akan tahu betapa berartinya barang-barang yang tertinggal itu, ucap salah seorang petugas.

Ia menyebutnya sebagai Omotenashi, istilah dalam bahasa Jepang untuk semangat menjaga dan memberi pelayanan sepenuh hati kepada orang lain. Konon, istilah ini menjadi populer sejak Christel Takigawa mengucapkannya saat melakukan presentasi untuk menjadi tuan rumah Olimpiade Tokyo 2020.

Membaca novel Sang Pemanah (The Archer) karya Paulo Coelho, mengingatkan saya pada istilah tersebut. Secara makna, Omotenashi selaras dengan keramah-tamahan. Namun arti sesungguhnya tidaklah sesederhana itu. Di Jepang, ini adalah tradisi, sebuah tipe layanan pelanggan dengan tingkat perhatian yang tinggi pada hal-hal detail.

Dalam edisi internasional, tokoh utama novel ini bernama Tetsuya, seorang pemanah berdarah Jepang. Sedangkan, dalam versi bahasa Indonesia, tokoh utamanya bernama Gandewa, lelaki asal Jawa yang diceritakan memiliki kemahiran jemparingan, seni memanah khas Kerajaan Mataram dari Yogyakarta. Ia adalah pemanah ulung yang pernah sangat termasyhur, namun telah mengundurkan diri dari dunia ramai. Menurut Tanti Lesmana, editor buku ini, Indonesia menjadi negara pertama yang mendapatkan izin penyesuaian karakter cerita The Archer dengan budaya tempatnya diterbitkan. 

Novel tipis ini serupa buku Paulo Coelho terdahulu berjudul Kitab Suci Kesatria Cahaya (1997) dan Seperti Sungai yang Mengalir (2013). Ia menuturkan kalimat-kalimat bijak dan sederhana dalam paragraf yang ringkas. Bedanya, dalam buku ini ia menghadirkan tokoh dan jalan cerita, yang kalau dipadatkan akan sangat pendek sekali nyaris seperti cerpen. Ketimbang disebut sebagai novel, buku ini lebih mirip sebagai buku panduan hidup atau pengembangan diri.

Coelho menitipkan pesan kebajikannya lewat Gandewa, seorang ahli memanah yang dalam istilah Malcolm Gladwell dalam buku Outliers sudah menerapkan hukum 10.000 jam hingga menjadi mahir dalam bidang yang ditekuninya, dalam hal ini adalah menjadi seorang pemanah. Sebagaimana Santiago yang mengikuti tuturan Sang Alkemis dalam novel The Alchemist, di novel ini pun Coelho menghadirkan sosok anak lelaki yang mendengarkan petuah Gandewa tentang seni memanah.

Paulo bertutur tentang pokok-pokok penting dalam kehidupan, antara lain kerja keras dan antusiasme, berani mengambil risiko, tidak takut gagal, dan menerima hal-hal tak terduga yang disodorkan oleh nasib lewat pelajaran memanah. Mulai dari cara memegang anak panah, memegang busur, menarik tali busur, memandang sasaran, melepaskan anak panah hingga tentang pengulangan semua hal dari awal. Gandewa memberikan pengalaman yang meskipun ia memilih bekerja sebagai tukang kayu, tetapi jalan hidupnya berlandaskan pada jalan busur.

“Tiap anak panah melesat dengan cara berbeda-beda. Seribu anak panah kautembakkan, dan masing-masing akan menempuh jalurnya sendiri: seperti itulah jalan busur.” (hal. 129)

Ia seolah ingin menunjukkan keterkaitan yang mendalam tentang seni memanah ini dengan cara memaknai kehidupan. Betapa kita harus menemukan gairah dan motivasi untuk menjalani hidup tanpa kesia-siaan. Gandewa serupa seorang guru yang tengah mengajari muridnya. “Suatu hari saat kau tak lagi mencintai kehidupan, bidikanmu akan gelisah, pelik. Kau tak berdaya untuk menarik tali busurmu sepenuhnya, dan kau tak mampu melengkungkan busurmu dengan semestinya.” (hal. 97)

Seperti yang sudah saya jabarkan, lewat novel ini Coelho menunjukkan kedisplinan tinggi dan konsistensi para tokoh dalam menjadi “pelayan” bagi hidupnya sendiri dan orang lain. Bagaimana si anak lelaki ditunjukkan pada detail-detail kecil yang sering dilewatkan oleh pemanah lain. Tetsuya atau Gandewa berbagi tradisi Omotenashi untuk hal-hal yang menurut kita sangat berarti.

Sayangnya, penyesuaian nama tokoh dan ilustrasi khas Nusantara oleh Martin Dima, yang digambarkan menggunakan elemen-elemen lokal, seperti busana beskap, kain lurik, dan blangkon, teh poci, serta penerapan motif batik mega mendung di setiap lembar justru mendistraksi pesan sesungguhnya. Sebab, saya merasakan pesan yang ingin disampaikan Paulo Coelho dalam novel ini jadi sedikit bergeser dan tidak utuh. Iya kalau bergeser ke pemaknaan yang lebih baik, bagaimana kalau malah sebaliknya?

Mengapa kita harus memercayakan tokoh Jawa pada penulis asing sementara kita tidak kehabisan penulis untuk mengeksplorasi tema lokalitas serupa. Anak panah yang dititipkan kepada Gandewa seolah meleset dari sasaran yang sudah disiapkan oleh Paulo Coelho sejak tarikan busur pertamanya.

Cilegon, 29 Januari 2022


Baca selengkapnya di sini:

https://lensasastra.id/2022/02/26/tradisi-omotenashi-dan-anak-panah-yang-meleset-dari-sasaran/

You Might Also Like

0 komentar