[Ulasan Film] The Queen's Gambit: Kisah Dingin yang Menghangatkan

5:31 PM


Score: 8/10.

Sudah lama sekali saya tak pernah bermain catur. Orang pertama, seingat saya, yang mengajari saya bermain catur adalah bapak saya ketika saya masih sekolah dasar. Untuk anak-anak yang bisa memainkan catur saat itu tampak keren sekali.

Lalu ketika bermain dengan sepupu, saya dikalahkan dalam tiga langkah. Saya kesal. Lalu saya pelajari polanya tapi karena masih sedikit yang saya tahu, saya menyerah. Saya meminta sepupu saya untuk mengajari saya, beruntungnya dia tidak pelit ilmu. Dia beri tahu caranya; dan kalian bisa menebak apa hal berikutnya yang saya lakukan.

Tepat, saya ajak kawan-kawan seusia saya bertanding, dan pola skakmat dalam tiga langkah begitu ampuh sehingga pujian dari teman-teman tak bisa saya tolak.

Saya lupa kapan terakhir main catur lagi, sampai kemudian saya mendapati rekomendasi film The Queen's Gambit ini di Netflix. Kenangan-kenangan masa lalu seketika bermunculan. Saya berasa nostalgia saat menyaksikannya. Namun, saya bukan hanya terkagum-kagum karena film ini berkisah soal pemain catur, tapi bagaimana si penulis skenario memunculkan karakter utama Beth Harmon, yang sedemikian kuat, dibungkus alur cerita yang menarik, ditambah setting lokasi dan sinematografi yang memanjakan mata.

Saya semakin takjub ketika tahu serial ini diangkat dari novel. Berkisah tentang perempuan yatim-piatu yang tinggal di panti asuhan, dan karena penasaran dengan seorang cleaning service yang bermain catur sendirian di basement, akhirnya dia meminta Tuan Shaibel, pria tua itu untuk mengajarinya, sampai dia mahir.

Penceritaannya sangat padat dan berhasil membuat penasaran scene by scene-nya. Apalagi bagian ketika Harmon bermain catur dalam pikirannya sendiri setelah mengonsumsi obat penenang. Sebagaimana rutinitas di panti asuhan di Amerika, setiap anak akan diberi obat penenang untuk meredam perasaan anak dari traumatik. Namun, rupanya Harmon kecanduan dan tak bisa lepas dari obat-obatan tersebut. Sampai suatu ketika ia mendapatkan dorongan untuk mencurinya dari ruang penyimpanan.

Penggambaran tokoh yang tenang, sedikit bicara dan lebih banyak memerhatikan itu menjadi daya tarik penonton sebab kita seperti dipaksa untuk lebih fokus mencari petunjuk dari hal-hal kecil yang dilakukan ketimbang yang dibicarakan.

Bagian paling membuat saya pecah ketika sampai di bagian akhir episode. Dari awal saya tak mau terpengaruh dengan review teman-teman saya yang bilang endingnya nyess atau bagus dan lain sebagainya. Tapi waktu saya tonton sendiri, semalam saya nanges sendirian di sudut kamar. Kok, bisa sih film sebagus ini? Beruntunglah saya bisa menontonnya.

Ketika dua orang berbicara dengan gaya yang sama-sama dingin, tapi siapa kira ternyata mereka saling dukung di antara kesunyian. Jolene, sahabat Beth di panti datang membawa kabar kalau Tuan Shaibel meninggal dan lusa pemakamannya. Beth akhirnya datang ke panti asuhan lagi untuk menghadiri pemakaman.


Siapa sangka, saat Beth meminta waktu sebentar untuk melihat basement, dia menemukan secarik foto saat awal belajar catur (cuplikan scene di atas) dan semua kliping majalah tentang perjalanan karier dan prestasinya selama mengejar cita-citanya meraih juara dunia dipajang oleh Tuan Shaibel di dinding kamarnya. Kemunculan Jolene di akhir menurut saya memang cukup porsinya. Dia sampai disebut "my guardian angel" oleh Harmon meski Jolene memaki setelahnya.

Beth kembali ke mobil Jolene dan tangisnya pecah tak bisa dibendung lagi, sahabatnya memahami hal itu dengan memeluk Beth erat. Apalagi Beth masih ingat, sewaktu tidak ada cukup uang untuk mendaftar lomba catur, ia pernah mengirim surat dari rumah orang tua angkatnya (Beth diadopsi oleh sepasang suami-istri) kepada Tuan Shaibel untuk meminjam 10 dolar, dan ya meski tak membalas dengan kata-kata, uang itu ia terima di dalam sebuah amplop. Meski agak sedikit mengecoh karena saat Beth berkisah soal itu ke Jolene, sahabatnya itu hanya tersenyum-senyum sendiri. Sungguh ending yang nyessss bingit~


Overall, saya suka sekali dengan series 7 episode ini. Meskipun masih satu tingkat di bawah series Reply 1988 (yang belum saya tulis ulasannya)~

You Might Also Like

0 komentar