[Cerpen] Pohon Mangga di Pekarangan Rumah

3:02 PM

credit by freepik.com

Barangkali, kalau bukan karena orang tua, aku lebih memilih pergi meninggalkan rumah. Aku berani bilang, banyak keluarga bisa rukun itu karena terikat pada orang tuanya. Temanku pernah cerita, kalau ia dan keluarganya sudah tak pernah pulang kampung sejak ayah dan ibunya meninggal dunia. Bukankah itu artinya orang tualah yang membuat kita mau jauh-jauh kembali dari perantauan hanya untuk berjumpa dengan mereka? Kau pernah juga berpikir demikian, kan? Ah, terserah, sih, kalaupun tidak, aku toh tak peduli. Setidakpedulinya kakak-kakakku ketika aku memilih untuk menikahi Airin.

Ini akan terdengar menyebalkan, namun aku sudah tak kuat menahan berlarut-larut kisah ini. Aku mencintai Airin sama besarnya seperti aku mencintai orang tuaku. Masa bodolah dengan kakak-kakakku. Toh mereka juga memilih pergi dari rumah sejak berkeluarga. Maksudku, boleh saja pergi, tapi seharusnya mereka tahu kapan waktunya kembali. Lebaran tahun lalu saja tak pernah ada yang datang. Alasannya, mereka mesti pulang kampung ke rumah mertua. Mentang-mentang aku yang bungsu dan masih bujang, akulah yang diminta menjaga orang tua di rumah. Dan aku dicegah untuk pergi ke mana-mana. Giliran aku bilang mau menikahi perempuan dari pulau seberang, mereka semua melarang-larang. Apa hak mereka?

Ayah dan ibu sebetulnya sudah merestui dan mau menemaniku melamar Airin. Tapi Bagus—aku malas menyebutnya kakak—menghasut ibu kalau watak orang dari pulau asal Airin itu keras dan susah diajak kompromi. Termasuk soal adat-istiadat. “Pokoknya bakal repot keluarga kita ke depannya, Bu. Abang bilang begini juga demi kebaikan Aji!” Ah, omong-kosong! Sebenarnya aku tahu bukan itu alasan sesungguhnya. Kau hanya tak mau repot, kan, mengurus ayah dan ibu sementara aku pergi merantau dan tinggal bersama Airin di kampungnya?

“Kamu masa tak kepincut sama orang kampung sini. Yang dekat sajalah. Teman sekolah kamu masa nggak ada?” Wida, kakak keduaku, ikut bicara. Aku malas menanggapi ucapan mereka. Kalau bukan karena aku mau menikah dengan Airin, mereka mana mau jauh-jauh datang ke sini. Mereka melakukannya karena terpaksa, aku tahu itu. Dan demi keuntungannya sendiri.

“Kalau Ibu, bagaimana kamu saja, Ji. Selama kamu bahagia dengan pilihanmu, Ibu juga ikut bahagia,” ucap ibuku bijak. Ia memang paling mengerti aku. Sementara ayah, ia tak banyak bicara. Pandangannya jauh ke luar rumah, sembari mengisap rokok di jari tangannya. Apa sebenarnya ia juga setuju? Tapi, sejak pernikahan kakak-kakakku pun, ayah tak pernah urun saran atau melarang ini-itu. Ia diam saja tak mau ambil pusing. Keputusan ibu sepertinya keputusan ayah juga.

“Terima kasih Abang dan Mbak sudah memberi saran. Tapi aku sudah besar, bukan lagi adik bungsu kalian yang bisa diatur-atur. Biarkan aku menentukan pilihanku sendiri. Dan kalaupun aku salah dengan pilihan ini nantinya, biarlah aku menyesal karena keputusanku sendiri, bukan karena orang lain,” kataku terdengar cukup keras dan tak memberi celah untuk mereka bicara. Suasana sunyi beberapa jenak. Bahkan bunyi jam dinding bisa terdengar. “Aku ke kamar dulu, ada yang mesti aku kerjakan,” tambahku kemudian, menghindari kecanggungan.

Mereka tak berani mencegah, karena mereka tahu aku seorang jurnalis dan penulis. Kerjaanku kalau malam begini memang banyak dilakukan di dalam kamar. Tiap pagi sampai sore aku memang jarang di rumah. Sebetulnya, kalaupun orang tua kami ditinggal berdua di rumah, aku yakin mereka baik-baik saja. Ayahku seorang pensiunan guru, dan ibu seorang penjahit. Namun sudah lama juga ia tak lagi menerima orderan. Aku yang meminta ibu untuk berhenti bekerja. Biar aku saja, ini memang sudah giliranku untuk mengurus mereka. Sehari-hari, ayah dan ibu menghabiskan waktu di ladang. Aku tak bisa menahan mereka dari hobinya itu. Sejak aku kecil, aku memang sudah sering diajak menanam banyak pohon. Ketika aku beranjak dewasa, pohon-pohon itu juga sudah tumbuh besar dengan buah yang berlimpah.

Ayah bilang, barisan pohon mangga di pekarangan rumah itu adalah jumlah dosa ayah kepada ibu. Waktu ayah cerita itu, aku masih kecil. Aku tak paham maksudnya. Tapi setelah remaja, aku dapat cerita lengkapnya dari ibu. Katanya, ayah adalah lelaki paling jujur yang pernah ibu kenal. Dulu, hidup orang tuaku belum stabil. Untuk membeli beras saja, ibu harus tebal muka karena mesti berani berutang di warung Mbok Darmi. Ibu tak masalah diomeli Mbok Darmi dan jadi omongan tetangga, ibu anggap itu angin lalu saja. Aku ingat betul, setiap kali ibu berkisah soal masa lalu, kedua matanya akan berkaca-kaca. Setelahnya ia akan tersenyum, berusaha tegar di hadapan anak-anaknya.

Pernah suatu hari ibu marah besar, karena saat mengandungku, ibu mengidam mangga muda. Ayah tentu tak masalah, itu hal wajar bagi ibu hamil. Tetapi, yang repot, ibu memintanya saat malam hari. Ayah kewalahan mencari mangga muda di jam satu malam saat itu. Ibu akan tertawa dan memperlihatkan gigi gingsulnya setiap kali bercerita soal ini. Akhirnya, lanjut ibu, ayah pergi ke pasar. Ibu, sih, yakin saja dengan ucapan ayah. Karena tidak lama berselang ia kembali membawa satu kilo mangga muda. Menutupi kecurigaan ibu ayah menunjukkan struk dari sobekan kardus. Ia bilang beli dari pasar kecamatan, warungnya hampir tutup.

Ternyata, setelah aku lahir ayah barulah mengakui kalau kejadian itu adalah hasil karangannya saja. Yang terjadi sebenarnya ialah ayah mengendap-endap ke rumah Pak Lurah. Ia mencuri beberapa buah mangga yang belum masak dari pekarangan Pak Lurah. “Tapi Ayah nggak betul-betul mencuri. Ayah tetap naruh beberapa lembar uang di teras rumahnya,” serobot ayah membela diri. Kisah ini memang sering sekali ibu ceritakan di dapur atau di ladang kepada anak-anaknya.
“Iya, tapi pasti uangnya nggak cukup, kan, untuk mangga satu kilo?” potong ibu cepat, sebal pada ayah. Lalu ayah akan tersenyum kecut sementara aku tertawa puas. Melihat itu ia segera menggelitiki perutku sampai aku keluar air mata.

“Jadi aku anak haram, dong, Bu?” kataku sedih. Kalimat itu aku dapatkan dari Bagus, ia tahu kisah ini dan selalu menggodaku dengan ucapan itu. Tapi ayah pasti akan menjawab, “Tentu tidak. Kan setelah Ibu melahirkan kamu, Ayah menemui Pak Lurah dan meminta maaf. Bahkan saat Ayah mau membayarnya, Pak Lurah menolak.” Sebagai bukti betapa menyesalnya ayah, ia berjanji pada ibu, setiap kali ayah berbohong padanya, ayah bakal menanam satu bibit mangga di pekarangan rumah. Konon biar bisa dijadikan pengingat, agar setiap kali ayah akan berbohong, ia urungkan. Ah, malam-malam begini pikiraanku jadi melantur ke mana-mana.

Usiaku sekarang 27 tahun. Tidak terasa sekali. Kalau boleh memilih, aku lebih baik menjadi anak-anak saja. Aku benci menjadi dewasa. Dulu, setiap kali aku penasaran pada sesuatu, pasti aku cari tahu sesegera mungkin bersama kawan-kawan. Tapi sekarang, untuk memikirkannya saja aku tak berani. Banyak pertimbangan ini dan itu. Juga banyak “tapi” dan “bagaimana kalau” serta bejibun pertanyaan lainnya yang menghentikan langkahku. Segalanya seperti terbatas, berbeda dengan masa kecil yang tak banyak aturan.
“Ji....” terdengar suara ketukan pintu. Aku juga mengenal betul suara berat itu. Ada apa malam-malam begini ayah memanggilku? Tanpa buang waktu, lekas saja aku menaruh buku yang niatnya ingin aku baca itu. Lalu berjalan ke balik pintu dan membukanya.
“Apa, Yah?” kataku masih heran.
“Ayah mau ngomong sebentar sama kamu. Tapi sebelumnya tolong buatin Ayah kopi, ya. Nanti kamu bawa di pekarangan. Kita ngobrol di amben aja, ya. Di dalam panas...,” pinta ayah tanpa menunggu jawaban dariku. Setelah itu, ia berlalu lebih dulu dan keluar dari pintu dapur. Akhirnya aku menuruti saja apa maunya. Toh, sudah lama sekali aku tidak membuatkan kopi untuk lelaki enampuluh tahun itu. Tak terasa, ya, ayah sudah semakin menua.

Gegas aku mengambil gelas dan kopi dari rak. Ayah paling suka kopi pahit, jadi aku tak perlu menambahkan gula untuknya, cukup di gelasku saja. Air dari termos segera aku tuang. Dua gelas kopi sudah jadi. Lekas aku membawanya ke balai-balai di pekarangan rumah. Malam ini terang bulan. Langit tampak bersih dari awan dan bintang-bintang. Cahaya rembulan menemani kami malam itu. Barangkali ia siap untuk menguping obrolan kami.

“Kamu ingat kapan terakhir kamu buatkan kopi untuk Ayah?” seloroh ayah setibanya aku di balai-balai. Ia menerima kopi buatanku dengan kedua tangannya. Aku belum memberikan jawaban, masih mencari posisi duduk yang nyaman. Kami saling berhadap-hadapan.
“Sudah lama, Yah. Terakhir kayaknya pas aku mulai kuliah, deh,” jawabku sekenanya. Lalu kami tertawa bersama.
“Rasanya, baru kemarin kamu bantu Ayah menanam pohon mangga itu,” tunjuk ayah di barisan pohon mangga paling belakang. Mangga yang sudah besar dan berbuah. Sudah berapa tahun lamanya ya kira-kira? Aku rindu sekali menghabiskan waktu berdua begini dengan ayah. Sesibuk itukah aku, ya? Setiap kali pulang liputan aku memilih langsung ke kamar tanpa sekadar bertanya apakah ibu dan ayah sudah makan atau belum.

“Iya, nggak kerasa, ya, Yah. Waktu cepet banget berlalu,” kataku malu-malu. Ayah menyesap kopinya yang masih mengepulkan asap. Lalu ia menyalakan rokok yang sedari tadi sudah ia jepit di jarinya. Meski sudah tua, ayah masihlah perokok aktif. Setiap kali aku paksa untuk berhenti, ayah menolak. Apa kamu mau merenggut satu-satunya kebebasan yang ayah punya? Itu kalimat andalannya setiap kali aku larang. Tapi bagi perokok aktif sejak remaja, aku tahu perasaan ayah seperti apa. Aku pun begitu, setiap kali mengisap rokok dan mengembuskan asapnya, ada semacam kelegaan yang sulit untuk digambarkan. Tetapi, aku tak pernah berani merokok di depan ayah, sampai usia sekarang.

“Oh, iya, Ayah tadi katanya mau ada yang diomongin sama aku?” Ayah tersenyum. Sekali lagi ia mengisap rokoknya lalu melepaskan asap-asap putihnya ke udara.
“Nggak ada, Ji. Ayah cuma pengen ngobrol begini aja sama kamu sebelum kamu nikah nanti.” Aku diam untuk beberapa saat. Ada tatapan yang dalam di mata ayah. Ia tak berani menatapku langsung. Ia melemparkan pandangannya ke ladang dan bulan. “Kenyataan begini yang belum bisa sepenuhnya Ayah relakan. Dulu kakak-kakakmu yang pergi dari rumah. Sekarang, nggak lama lagi bungsu Ayah ini. Rumah pasti bakal sepi.” Ia menghela napas berat. “Tapi memang beginilah seharusnya hidup, Ji. Ayah nggak soal sama pilihan kamu. Wong perkara cinta, masa iya mau dicegah-cegah. Itu urusannya hati, nggak bisa diatur-atur.” Aku tertegun. Tak menyangka kalimat itu bakal keluar dari mulutnya.

“Kalau boleh milih, Aji juga mending jadi anak-anak aja, Yah. Mau ngapa-ngapain bebas. Paling kalau diomelin tinggal nangis aja, kelar urusan,” aku terkekeh, berusaha mencairkan suasana.
“Waktu itu fana, Ji,” ucap ayah cepat. Melihat responsku yang terkesima, ia melanjutkan, “Sudah tua begini, Ayah masih ingat, kok, penggalan puisi Pak Sapardi itu, Ayah ubah dikit. Dulu, saat masih mengajar bahasa Indonesia, itu puisi favorit Ayah, lho,” katanya membela diri. Aku mengangguk-angguk. Kalau diingat-ingat, hobi menulisku ini juga bisa dibilang karena campur tangan ayah, ia mengoleksi banyak buku di rumah.
“Kalian belum tidur?” tiba-tiba suara lembut ibu terdengar. Seketika kami menoleh ke pintu dapur.
“Belum, Bu. Lagi ngajarin Aji biar jadi Bapak yang baik,” jawab ayah terkekeh. Aku tersipu malu. Betapa beruntungnya aku masih bisa bergurau seperti ini bersama mereka. Ibu tersenyum, tampaknya ia ingin bergabung tetapi masih ada kantuk di matanya. Lalu ia meminta kami lekas ke dalam karena waktu semakin larut.
“Terima kasih, ya, Yah,” ucapku singkat, tak bisa melanjutkan kata-kata. Ada air mata yang berusaha aku tahan.
“Ayah bangga sama kamu, Ji. Juga sama kakak-kakakmu. Tugas Ayah dan Ibu sudah selesai, sekarang tinggal bagaimana kamu tanggung jawab dengan setiap keputusanmu, Ji. Ayah sudah tak bisa ikut campur lagi. Pesan Ayah cuma satu, jaga ibadahmu,” katanya tulus. Sekali lagi ia menatap ladangnya yang ditumbuhi banyak tanaman. Lalu ia mengisap habis rokoknya. “Kamu lihat pohon mangga itu, Ayah harap kamu bisa jadi suami yang jujur, lebih baik daripada Ayah.” Aku mengangguk kecil sembari tersenyum. Seketika, meski malam ini di luar udara terasa dingin, tapi di dalam dadaku ada hangat yang menjalar, dan menenangkan hati.

Cilegon, 5 Maret 2020

You Might Also Like

2 komentar