[Ulasan Buku] Bijaksana dengan Bersikap Bodo Amat

5:02 PM

image by: www.shopee.co.id


Judul      : Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat
Penulis   : Mark Manson
Penerbit : Grasindo
Cetakan : ke-7 Agustus, 2018
Tebal      : 258 halaman
ISBN     : 978-602-452-698-6


Banyak sekali dengan mudah kita temui buku-buku motivasi yang mengajarkan pembacanya agar menjadi sukses, kaya raya dan hidup berkecukupan. Seolah kebahagiaan manusia adalah menjadi sukses dengan harta dan material belaka. Sebagian lainnya memang ada yang menulis tentang kiat menjadi bijaksana dan mapan. Namun, selama ini, perspektif yang dipakai selalu sama, yakni kacamata positif. Kita seolah bersepakat untuk mengatakan bahwa satu perilaku negatif tetap akan bernilai negatif. Beruntungnya, Mark Manson menemukan perspektif lain dari satu kata negatif: bodo amat.

Dalam buku pertamanya ini, Mark melihat bahwa sikap bodo amat adalah sebuah seni. Dengan memakai tagline, “pendekatan yang waras demi menjalani hidup yang baik” Mark berhasil menduduki ranking pertama buku terlaris versi New York Times dan Globe and Mail. Bukan hanya itu, bukunya pun diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia.

Blogger kenamaan yang tinggal di New York ini membagi 9 bab dalam bukunya. Pendekatan yang dipakai adalah bentuk narasi seperti novel. Tidak serupa dengan buku motivasi kebanyakan, Mark tampaknya lebih senang berbagi dengan teknik bercerita. Ia selayaknya kawan di kafe atau kedai kopi pinggir jalan, lalu bercerita apa pun yang ia kehendaki. Terlepas ada pesan moral maupun tidak dari apa yang disampaikan, ia terus saja berkisah secara jujur tanpa menutup-nutupi dan terkesan ingin dipuji.

Di bab pertama, Mark memberikan satu pandangan kepada pembacanya melalui kisah Bukowski penulis besar asal Amerika. Bukowski dipandang sukses, pantang menyerah, percaya diri dan gigih melawan rintangan. Kenyataannya, di atas batu nisannya, Bukowski meninggalkan pesan: “Jangan berusaha”. Meski bukunya laris, sosoknya terkenal, mendapatkan kegemilangan sebagai penulis, Bukowski dulunya adalah pecundang.

Keberhasilannya bukan hasil kegigihannya untuk menjadi seorang pemenang, namun dari kenyataan bahwa ia tahu kalau dirinya pecundang, menerimanya, dan kemudian menulis secara jujur tentangnya. Ia tidak pernah mencoba untuk menjadi selain dirinya sendiri (hlm. 3).
Berbeda dari motivator kebanyakan, Mark tidak berusaha mengajak orang lain untuk berusaha keras dalam meraih sesuatu. Di sanalah letak bodo amat yang seolah ingin ia sampaikan. Alih-alih menulis “jangan menyerah”, ia malah memilihkan frasa “jangan berusaha” untuk diterapkan para pembacanya di kehidupan yang keras ini. Menerima keadaan diri sendiri, seburuk apa pun, dengan setulus hati adalah bentuk pertama dari kebijaksanaan.

Sering kali, orang-orang di lingkungan sekitar kita, seolah memaksa kita untuk menjadi orang lain, menjadi apa yang mereka inginkan, bukan yang kita maui. Di lain bab Mark mengatakan kalau kita tidak istimewa. Sejak sekolah dasar, kita selalu diminta untuk meyakinkan diri kalau kita semua terlahir istimewa, padahal, kalau semua istimewa artinya tidak ada lagi yang istimewa, karena kita semua sama dan setara.

Meyakinkan diri sebaga makhluk yang spesial, merupakan sebuah strategi yang gagal. Ini hanya membuat Anda “tinggi” / nge-fly. Tapi, itu bukan kebahagiaan. Pengukuran yang benar tentang penghargaan diri seseorang bukan pada bagaimana seseorang merasakan pengalaman positifnya, namun lebih pada bagaimana dia merasakan pengalaman negatifnya (hlm. 55).

Jujur pada keadaan diri sendiri, berkata apa adanya pada siapa pun tanpa melebih-lebihkan pencapaian kita adalah bentuk dari kebijaksanaan. Pada satu titik, kita mesti berani memutuskan untuk berkata “bodo amat” untuk hal-hal yang memang tidak kita senangi.

Bahkan, dalam bab 8 Mark menyampaikan pentingnya berkata “tidak” kepada orang yang mengajak kita pergi ke suatu tempat atau bergabung ke satu kelompok tertentu. Penolakan membuat hidup Anda lebih baik (hlm. 197). Mark berhasil mematahkan pendapat dan merobek-robek buku motivator lain lewat bukunya ini.[]

Cilegon, 31 Oktober 2018

You Might Also Like

2 komentar