[ULASAN BUKU] Perihal Perasaan, Kekaryaan dan Kedirian Penulis (Pontang, 30 Juli 2017)

11:01 PM



image by Encep Abdullah

—sekelumit ulasan atas buku: Puisi, Telolet dan Kerikil Sepanjang Jalan
oleh Ade Ubaidil


Mengakrabi Puisi

Herman J. Waluyo mendefinisikan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa, pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya. Untuk dapat membuat puisi dengan baik, kita harus memerhatikan unsur fisik dan unsur batin puisi.

Dalam buku, Puisi, Telolet dan Kerikil Sepanjang Jalan karya Yasimini dkk—atau 18 penulis peserta menulis #KlinikMenulis dan #Komentar (Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa) yang diprakarsai Encep Abdullah—ini berhasil (sedikitnya) menunjukkan unsur fisik dan unsur batin yang dimaksud oleh Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia tersebut.

Mula-mula kita kutip puisi, Kisah Seorang Penyair karya Yasimini yang ditaruh paling awal halaman buku:
....aku menggigil dalam tegukan kekecewaan/penaku tergeletak tanpa berahi. Dalam dua baris puisi tersebut, penulis berhasil memasukkan 3 unsur fisik sekaligus; diksi, kata konkret dan majas. Pemilihan kata bukan berarti harus memasukkan kata yang njelimet. Namun, diksi di sini meminta penulis untuk menempatkan kata secara proporsional dan tepat guna dan kekuatan bahasa itu sendiri. Puisi juga harus konkret, dalam artian kita memahami maksud si penulis—atau tidak sama sekali—melalui petunjuk-petunjuk yang diberikan. Ada logika cerita yang dibangun. Kita boleh tidak percaya kalau manusia bisa terbang, tetapi dalam sebuah karya fiksi, kita bisa meyakinkan pembaca dengan memenuhi struktur logika cerita yang kita buat hingga cerita yang dianggap tidak masuk akal tersebut bisa diterima, contohnya: Harry Potter.

Mari kembali lagi kita masuk ke puisinya. Di sana ia pun memakai majas personifikasi—benda mati disifati seolah manusia atau memiliki sifat seperti manusia. Pena = berahi. Dan itu sah-sah saja kita temukan di beberapa karya sastra. Beberapa juga bisa kita temukan di puisi penulis lainnya. Menariknya, kontrakdiktif dengan puisi Yasimini di atas, Reza Fahlevy, memberikan contoh puisi “tidak konkret” yang saya maksud: .... aku duduk termangu dalam diam/fokus akan kaca datar penuh warna/jari beradu dengan kotak dalam persegi. Saya telah mengutip beberapa baris puisi berjudul, Tugas. Di baris pertama, ketenangan Reza sebagai penulis cukup terlihat. Sayangnya di baris berikutnya ada upaya “nyastra” yang dipahami beberapa penulis pemula dan sialnya diamini sehingga menjadi sebuah stereotip. Coba perhatikan baik-baik pada baris, “fokus akan kaca datar penuh warna/jari beradu dengan kotak dalam persegi”, kira-kira apa yang hendak penulis katakan? Komputer. Ya, atau sejenisnyalah. Kenapa tidak tulis saja secara “konkret” kalau itu adalah komputer atau laptop atau PC atau monitor atau tablet atau kapsul atau gadget dan segala macamnya itu? Untuk apa repot-repot menjabarkan dan membuat pembaca menerawang?

Konkret yang dimaksud adalah bila sesuatu itu sudah dipahami secara umum, tak perlulah repot-repot menggambarkannya dalam kalimat lain. Beda hal dengan penggambaran soal perasaan dengan upaya-perumpamaan majas yang memang berguna untuk menguatkan maksud si pengarang.

Unsur fisik berikutnya adalah pencitraan dan bunyi yang menghasilkan rima dan ritma. Bisa kita temukan dalam baris puisi berjudul, Jalanku karya Ahmad Maulana Azam: walau sesulit diriku/kau penuh kesabaran/menuntun jiwa ini/dalam derap kehidupan. Dalam baris-baris puisi itu, penulis memasukkan unsur fisik berupa pencitraan. Untuk memberikan gambaran yang jelas, untuk menimbulkan suasana, untuk membuat lebih hidup dan menarik, dalam puisi penyair juga sering menggunakan gambaran angan. Gambaran angan dalam puisi ini disebut citraan (imagery). Ada macam citraan, bisa melibatkan 5 indera pada manusia juga melibatkan gambaran aksi dan intelektualitas. Pada baris puisi di atas, tampak betul gambaran aksi; dari pilihan kata, “menuntun” dan “derap”, yang sama-sama bisa kita bayangkan perihal sesuatu yang berjalan dan menuju kepada sesuatu yang hendak dicapai.

Lain hal yang bakal kita temukan pada puisi, Daun Dadap karya Siti Bagja Muawanah. Dalam baris puisinya, ia bermain-main dengan rima dan ritma yang enak didendangkan. Puisi macam ini biasanya cocok untuk dipentaskan dan dilafalkan: ah, diamku sediam dinding/tubuhku bertambah kering/setiap waktu mengingatnya/sadar diri tak sempurna. Bisa kita lihat dari setiap penggalan huruf di ujungnya. Rima dan ritma sendiri ada banyak macamnya: a/a/a/a, a/b/a/b, a/a/b/b, b/a/b/a, b/a/a/b, a/b/b/a, dst. Dalam contoh ini, Siti menggunakan rima dan ritma: a/a/b/b atau setelah diterapkan menjadi: g/g/a/a.
berdiskusi di kediaman Encep Abdullah, Pontang-Banten.

Satu lagi struktur fisik yang belum disebutkan adalah tipografi atau lebih dikenal dengan istilah lisentia poetica. Ini pencapaian yang barangkali, untuk saat ini belum berhasil diterapkan dan ditemukan dalam buku karya peserta menulis #KlinikMenulis dan #Komentar ini. Dalam KBBI/EBI sendiri pengertian ringkas soal tipografi adalah ilmu cetak atau seni percetakan. Namun, dalam puisi dipahami sebagai perwajahan puisi (puisi tipografi). Yakni bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Puisi Tipografi lebih mementingkan pada keindahan semata. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi. Bisa ditemukan puisi macam itu pada karya  sastrawan seperti: Sutardji Calzoum Bachri, Joko Pinurbo, Goenawan Mohamad, dls.

Lepas dari struktur fisik, kita memasuki struktur batin. Adapun bagian-bagiannya menurut Herman meliputi: perasaan, tema, nada dan amanat. Barangkali, soal yang demikian para penulis punya cara tersendiri dalam menyampaikan gagasannya dan bisa merasainya ketika sedang dituliskan. Sebab, apa yang ditulis dengan sepenuh hati, akan diterima pembaca dengan kadar yang kurang lebih sama seperti perasaan yang penulisnya tuangkan ketika menuliskannya; baik itu soal kekuatan emosi, perasaan, hal-hal empirik dan sebagainya.

Mengakrabi Esai
Buku antologi ini, selain memuat puisi rupanya menyisipkan juga beberapa cerpen dan esai. Usai bertemu puisi kita disuguhkan dengan esai-esai yang salah satunya dijadikan judul buku ini, Telolet. Entah apa yang melatarbelakangi penggagas dan para penulis sampai akhirnya memilih judul buku; Puisi, Telolet dan Kerikil Sepanjang Jalan(?). Namun, bila bicara fenomena, sebagai sebuah esai, judul, Telolet boleh dibilang sangat aktual dan kekinian. Penulis, yang lagi-lagi Yasimini sebagai pembuka, menyodorkan esainya dengan cukup satu kata tersebut. Mulanya, sebagai pembaca, saya dibuat penasaran dengan apa yang bakal dibahas dalam esainya. Adakah melibat-kaitkan dengan fenomena lain? Saat membaca paragraf awal saya sudah senang sebab penulis menyebutkan perihal berita Ahok yang tak surut-surut, dan juga keriuhan Pilkada di Provinsi Banten. Pertanyaan tiba-tiba timbul dan memantik dugaan-dugaan yang kemudian putus setelah membaca esainya sampai selesai.

Esai, Telolet ini rupanya tidak mengaitkan hal apa pun dengan sesuatu isu yang sedang hangat. Padahal akan menjadi menarik ketika membenturkan dua hal yang berlainan lalu menyimpulkan perihal kesamaan antara dua kutub yang berbeda dan berhasil membuat pembaca mengangguk-angguk. Ia tidak melakukan itu, atau minimal ada upaya melahirkan pertanyaan dan kegelisahan baru. Ia hanya bicara soal telolet, bunyi-bunyian klakson dari kendaraan (baca: bus) yang kemudian menyamakannya dengan lagu anak-anak yang bermain-main dengan bunyi-bunyi juga seperti, “kukuruyuk”, “guk-guk-guk”, “cit-cit-cit-cuit”, “wek-wek-wek” dan sejenisnya.

Usai membaca esai ini seolah kita tidak terusik oleh sesuatu dan lewat saja sambil lalu. Semestinya, meski tidak dipahami sebagai sebuah patokan, esai adalah perwakilan personal seseorang tentang sesuatu yang mengusiknya, yang banyak tidak ditangkap oleh orang kebanyakan. Ia bisa menjadi unik bentuknya, menarik temanya, berisi kritik sosial dan penuh pertanyaan serta permenungan-permenungan. Bukan dibaca sekali lalu sudah dan dilupakan—sebab penulisnya juga sampai lupa memasukan gagasannya di tulisannya tersebut.

Esai berikutnya yang ada kemiripan dengan esai pertama berjudul, Gertam Cabai dan Rumah Tangga yang Mandiri karya Niky Wulandari. Esai ini bagus dalam teknis penulisan, namun ia terlalu dijejali banyak data sampai lupa memasukkan gagasannya dan alasannya ia menulis itu. Tidak jauh beda dengan penulisan berita. Ia menyodorkan fakta-fakta, data akurat dari berbagai lembaga survei perihal produksi cabai dalam dan luar negeri tetapi ia seperti hilang arah. Ia seperti tidak tahu apalagi yang musti dituliskan dalam esainya. Esai adalah opini. Penulis musti menunjukkan pendapatnya dalam karya tulisnya tersebut. Bukan hanya menyajikan data yang orang lain pun bisa mengaksesnya. Pembaca minimal mendapatkan sesuatu dari penulis, bukan dari apa yang penulis rangkumkan.

Satu contoh yang memenuhi gairah pembaca barangkali pada esai, Urgensi Membaca Karya Sastra karangan Faridatun Hasanah. Sejak judul ia sudah menyodorkan tentang kegelisahannya sebagai penulis (maupun pembaca). Kemudian ia menunjukkan sekelumit bukti-bukti melalui, story telling dan pengalaman (empiris) yang ia sendiri terlibat di dalamnya. Semisal tentang ia bergabung di grup kepenulisan, Komunitas Bisa Menulis, lalu ketika ia mendapatkan sesi sharing-sharing dengan Remy Sylado, sastrawan Indonesia dan segala macam. Setelah itu, barulah kedirian penulis masuk dalam karya tulis esainya dan menjabarkan sekian opini kepada khalayak pembaca.

Berikutnya, esai yang cukup berhasil bisa kita temukan dalam judul, Pemimpin: Pelayan Kelompok atau Pelayan Masyarakat? karya Miftahul Islam. Ia memulai paragraf—bahkan judulnya—dengan pertanyaan. Hanya ada dua kemungkinan esai ini diselesaikan; pertama, menjawab pertanyaan yang dibuatnya sendiri, atau kedua, tidak menjawabnya tetapi malah menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lain—meski tetap, memasukkan opini penulis sebagai mana esai seharusnya ditulis. Miftahul menyodorkan berbagai pertanyaan dari berbagai sudut pandang, kemudian ia menunjukkan data-data yang proporsional dan berhasil diurai di akhir dengan memasukkan opini-opininya yang bertebaran di setiap paragraf.

Mengakrabi Cerpen
Setelah beberapa esai, kita akan di hadapakan dengan beberapa cerpen. Mari mulai dengan cerpen yang diambil sebagai judul, Kerikil Sepanjang Jalan karya Dadi Naangmendengar judulnya saya tiba-tiba teringat dengan judul novel karya Mochtar Lubis, Jalan Tak Ada Ujung, namun entah, tidak ada korelasi antara keduanya. Dadi Naang menghadirkan tokoh yang bermonolog dengan dirinya sendiri. Tantangannya adalah bagaimana cara ia mempertahankan pembaca dari rasa bosan. Dan rupanya ia berhasil. Satu per satu petunjuk-petunjuk ia tampilkan. Sejak pembukaan, pembaca langsung dilibatkan dan merasa perlu untuk tahu si tokoh sedang berada di mana dan mengapa ia mencari-cari Ibunya (emak):
Mak, di sini dingin sekali. Dan gelap. Kepalaku juga rasanya pening. Aku di mana, Mak? Ah, aku tahu! Tanah yang kupijak ini, aku hapal sekali. Meskipun di sini gelap aku tahu aku ada di sekolah. Tanah ini yang tiap hari kupijak di ruang kelasku yang tak ada alas lantai....

Semacam sedang bermain-main layaknya cerita detektif, penulis lihai menarik-ulur rasa penasaran pembaca dan mendapatkan ledakannya di akhir cerita. Judulnya akan terjawab, kegelisahannya akan terlihat ketika cerita menyentuh ending. Dan begitulah cerita pendek bekerja. Ia tidak bertele-tele, tidak pula membuang-buang waktu pembaca. Ia cukup dibaca sekali duduk, namun setelahnya menyisakan pertanyaan dan rasa “kepuasan” tersendiri.

Cerpen berikutnya karangan Vera Hastuti berjudul, Langit Amaravati. Saya cukup familier dengan nama yang tertera di judul itu. Barangkali, cerpen ini dibuat atas dasar kekaguman pada si tokoh “nyata” atau bisa jadi semacam persembahan untuk seseorang yang spesial. Hal yang berat dari sebuah karya dengan mengambil nama tokoh atau nama apa pun yang sudah sebagian orang kenal adalah isinya itu sendiri. Para pembaca akan sama-sama mengenal dan memiliki daya imaji sendiri di benaknya tentang tokoh tersebut. Namun sayangnya, cerpen ini terlampau pendek dan kurang berhasil memenuhi ekspektasi dan hasrat pembaca (baca: saya).
saya bersama para peserta #KlinikMenulis dan #Komentar

Seandainya nama dalam judul itu diganti dengan nama orang lain pun, misal: Markonah, isi dalam cerpen tersebut tidak akan mengalami banyak perubahan. Dan itulah yang membedakan mana “tempelan” dan mana “karakterisasi”. Kita bisa menghidupkan, “Soekarno” sebagai seorang zombie, tetapi kita kudu punya alasan logisnya. Ada karakter tersendiri yang bila kita ganti sosok tersebut tidak akan work. Misal soal tempat dan latar, judul yang kita buat, “Singapura”. Isi dalam naskah kita membahas soal patung Merlion, Marina Bay Sands, Orchard Road, dls. Maka, tidak bisa dengan semena-mena kita ganti judul, “Singapura” tadi dengan “Singaparna”, misal. Karena judul mewakili isi dalam karya tulis yang kita buat. Ada karakter dan sesuatu yang melekat yang tidak bisa lepas dan dipisahkan. Jadi hal demikian, sebagai penulis, bisa menjadi tantangan yang kudu kita taklukkan atau kita hindari sejak dalam pikiran.

Dan lagi, beberapa memang, sejak halaman pertama, sudah banyak ditemui beberapa typo/kesalahan ketik, namun lagi-lagi bisa dimafhum, karena seiring berjalannya waktu dan disiplinnya berkarya, hal demikian akan bisa dihindari atau minimal dikurangi. Sayangnya, ada kesalahan eja yang semestinya jangan sampai terjadi. Dalam cerpen Vera ini ditemukan typo soal nama. Di awal tertulis nama panggilannya, “Amira” namun di paragraf berikutnya jadi, “Amara”. Barangkali ini perlu mendapatkan perhatian yang lebih detil, khususnya juga dari editor/first reader.

Selanjutnya, Moh. Syahril Romdhon dalam cerpen, Datang Bulan rupanya bermain-main dengan unsur komedik. Di awal ia menyuguhkan cerita kekinian, dalam arti sesuatu yang dikhawatirkan terjadi pada generasi remaja. Sepasang muda-mudi yang berpacaran kemudian memadu kasih sampai kelewat batas dan berhubungan intim layaknya suami istri. Sampai di suatu ketika si perempuan terlambat datang bulan. Tentu hal ini membuat gusar dan galau, upaya-upaya pencegahan dilakukan. Sampai berusaha menggugurkan “dugaan” cabang bayi yang terkandung di dalamnya. Meski lumayan panjang, rupanya cerpen ini cukup fokus dan mengena. Ia tidak melebar ke mana-mana selain soal kewas-wasan tokoh-tokohnya, pada judul intinya dan pembaca terlibat di dalamnya. Di akhir—setelah konsultasi pada dokter—ia menyuguhkan kalau apa yang diduga-duga dua muda-mudi itu rupanya hanya sebuah kekeliruan. Karya sastra dalam cerpen ini dibuat sebagai hiburan, meski tak melepas tugasnya sebagai kritik sosial.

Karena terlampau banyaknya karya yang termuat di antologi ini, barangkali cukup segelintir saja yang bisa saya jabarkan. Namun sekali lagi saya mengapresiasi atas lahirnya karya ini sebab pencapaian tertinggi dari kelas penulisan dan peserta menulis adalah menelurkan karya. Terlepas karya itu baik atau buruk, tentu lain hal adanya.

Selamat kepada Kang Encep Abdullah dan teman-teman #KlinikMenulis dan #Komentar!

Cilegon, 29 Juli 2017



You Might Also Like

3 komentar

  1. Ka maaf kalo saya boleh tanya soal puisi, gimana caranya supaya makna puisi yg kita maksud bisa sampe kpada si pembaca?

    ReplyDelete
    Replies
    1. "Kalau mau makna puisi nya sampai ke pembaca, ya tuliskan puisi itu. Sebab makna yang kamu ingin sampaikan tidak akan sampai kalau tidak dituliskan. Biar tugas pembaca nanti yang membaca dan menangkap maksud puisi kita. Maaciew"

      jawaban: Eko Ragil~

      Delete

  2. After looking over a number of the blog posts on your web site, I seriously appreciate your technique of blogging. I book marked it to my bookmark webpage list and will be checking back soon. Please visit my website as well and let me know what you think. gmail login email

    ReplyDelete