Musim Layang-Layang (Pasanggarahan.com, 30 Oktober 2015)

12:29 AM

 http://www.pasanggarahan.com/2015/10/musim-layang-layang.html

Terpaan angin mengepakkan layang-layang beraneka warna buatanmu. Kau menikmati pekerjaanmu sebagai pengrajin mainan tradisional itu. Sejak pagi, kau sudah menempati lapakmu. Kau sadar betul, sainganmu kian bertambah di sepanjang jalan Drangong yang tak jauh dari gerbang tol Serang Barat. Rupanya, orang-orang pun tahu akan hadirnya musim panen padi dan tentu di seperempat tahun ini angin semakin kencang berembus. Orang-orang kampung sangat senang bermain layang-layang, tak menutup kemungkinan pula dengan orang-orang kota yang melintasi lapakmu.
Alat-alat sudah memenuhi tas lapukmu. Bahan-bahan yang tidak terlalu sulit telah kau dapatkan. Bambu tipis yang sudah kau potongi seukuran kurang lebih: lebar 1 sentimeter dan panjang 40 sentimeter. Juga potongan bambu tipis lainnya, yang memiliki lebar 1 sentimeter dan panjang 80 sentimeter. Kau bahkan menerima pesanan tergantung permintaan pembeli. Ada yang berbahan kertas tissue juga kertas minyak. Kau rangkai mengikuti ukuran bambu yang sudah tersedia, seorang diri.
Tentunya dalam tasmu juga telah terisi dengan spidol, pita gulungan yang agak tebal, temali dan benang yang biasa kau kaitkan pada satu bambu ke bambu lainnya, tak luput gunting dan isolasi. Satu lagi, penggaris dan meteran itu yang membuat layang-layang buatanmu bisa terbang stabil. Kau layaknya seorang Arsitek, membuat layang-layang sederhana namun dengan teknik yang setara mahasiswa jurusan Teknik Sipil. Kau ukur satu sama lain bambu dan benangmu dengan cermat dan teliti.
Beraneka bentuk dan warna sebagian sudah jadi. Kau gantung pada tali yang sebelumnya telah kau ikat sejajar dari ujung pohon besar ke pohon besar lainnya. Kau amat terampil merangkai semua layang-layangmu tanpa bantuan orang lain.
Musim layang-layang tak lebih dari tiga bulan, dan kau menyadari itu. Karenanya, pikiranmu sudah menerawang jauh, tentang pekerjaan apa lagi yang nanti akan kau lakoni bila anak-anak sudah tidak tertarik lagi bermain layang-layang.
Ketika tak ada pembeli, kau terkadang senyum-senyum sendiri. Membayangkan saat pertama kali kau diajari cara membuat layang-layang oleh ayahmu. Bahkan kau tak menyangka sampai akhirnya kau berkeluarga dan memiliki seorang anak, kau memanfaatkan keterampilanmu itu. Kau merasa berhutang budi kepada ayahmu. Dan dengan menjajakan layang-layang, kau bisa bernostalgia. Walaupun yang kau tampakkan hanyalah senyum getir.
Bukan sekali dua kali kau meminta anak semata wayangmu yang beranjak remaja untuk menemanimu menjual layang-layang, tetapi bentakan dan tolakan malah yang selalu kau dapatkan.
“Sore nanti kamu temani Bapak menjajakan layang-layang, ya.” Kau mengajaknya di suatu pagi.
“Aku sudah janji main futsal dengan teman-teman, Pak! Lagipula, aku malu kalau harus menemani Bapak menjual layang-layang. Mau di kemanakan wajahku kalau mereka melihatku di jalanan sana?!”
Hatimu bergeletar mendapatkan jawabannya. Padahal apa pun kau kerahkan demi dia dan istrimu, hingga peluhmu berderai di sekujur tubuh. Tetapi kau ayah yang baik. Kau tidak memarahinya, tidak pula mengusirnya. Kau malah berlalu meninggalkannya dengan memberikan sejumlah uang untuk jajan sekolahnya.

***
Dua jam lalu lonceng tanda pulang sudah berdentang. Murid-murid SMA Gemilang berlalu-lalang. Membanjiri pelataran sekolah, menuju gerbang. Tampak dari kejauhan dua orang lelaki tengah asyik berbincang seraya berjalan keluar dari tempat yang bukan dari salah satu ruang kelas. Di depan pintu tempat itu bertuliskan, “Rental Playstation”. Ya, sepertinya mereka tahu kalau jam pulang sekolah telah berlalu.
“Jadi, kan, main futsalnya, Yar?” tanya lelaki sebelah kiri yang mengenakan tas selempang dengan celana seragam abu-abu yang robek di bagian lututnya.
“Tentu, dong. Nanti kamu ajakin yang lainnya, ya. Aku mau pulang dulu, mau minta uang lagi. Jajan sekolahku ludes gara-gara kalah taruhan sama kamu,” sanggah lelaki lainnya yang memakai kaca mata hitam dan membawa tas ransel di punggungnya. Wajahnya terlihat jengkel. Rokok di tangannya sesaat ia sesap hingga tulang pipinya tampak jelas, kemudian ia menghempaskan asapnya kuat-kuat sampai mengepul ke udara.
“Hahaha....” Ia terkekeh. “Aku juga mau pulang dulu, Yar. Mau ganti sepatu.”
Lelaki yang mengenakan sepatu kets warna biru mengkilap itu pamit di persimpangan. Sejak kelas satu SMA mereka selalu bergaya layaknya kaum borju. Padahal, orang tua mereka hanya orang biasa yang tengah memeras peluh demi menghasilkan uang yang digunakan untuk membiayai kehidupan mereka sehari-hari. Mereka terlahir di desa, akan tetapi kerap kali mereka bergaya layaknya orang kota.
Hari itu lelaki yang bernama Tyar memilih untuk berjalan kaki. Di kantong celananya sudah tidak ada lagi uang yang tersisa. Ia ingin meminjam kepada temannya yang tadi, tetapi karena gengsi yang begitu tinggi ia memilih untuk mengurungkan niatnya.
“Terpaksa aku harus melewati jalan itu. Ah, sial sekali nasibku!” umpatnya merutuki diri sendiri.

***
“Pa, aku mau yang warna hijau itu.”           
Ucap seorang bocah buyarkan lamunanmu. Ayahnya mengulang permintaannya padamu ketika turun dari sebuah mobil mewah yang terparkir tepat di hadapanmu. Wajah lelahmu di sore itu sedikit terbayar. Ini pembeli ketiga di sepanjang hari sejak kau membuka lapak. Kau tetap tersenyum. Kau tetap bersyukur dengan apa yang Tuhanmu berikan. Satu buah layang-layang kau ambil.
Kemudian, senyummu hanya tertuju untuk bocah berusia empat itu. Seraya memberikan layang-layang hijau yang diinginkannya.
“Berapaan, Pak?”
“Seribu lima ratus.”
Kau polos menjawab pertanyaan Ayah si bocah lucu itu. Padahal sejak awal kau sudah melihat ia menggenggam uang kertas yang seharga 50 layang-layang yang sama. Jika saja orang itu berhenti di pedagang layang-layang sainganmu, tentu mereka akan membandrol layang-layang semacam itu seharga lima ribu lebih. Kau bisa seperti mereka, tetapi kau masih percaya akan dosa. Kau mampu mencegah hati dan pikiranmu. Lidahmu kau kendalikan supaya berkata jujur kepada siapa pun.
“Maaf, Pak. Nggak ada kembaliannya.”
Kau tampak bingung, uang dari mana untuk memberi kembalian padanya. Sedangkan uang di dompetmu hanya ada tiga lembar seribuan, itu pun untuk kau gunakan membeli makan.
“Biar aku tukarkan dulu, Pak. Di warung sana.”
Tiga puluh lima meter samar-samar terlihat warung dari pandangan Ayah si bocah itu. Kau meninggalkan mereka juga lapakmu hanya untuk menukarkan uang di warung yang cukup besar di seberang sana.
Waktu semakin sore, kau memutar lagi langkahmu. Beberapa lembar uang kertas dan koin telah berada di tanganmu. Wajahmu masih menampakkan senyum yang tulus. Meski hatimu terus bergumam; anak dan istriku makan apa nanti malam.
“Maaf, membuat Bapak menunggu.”
“Oh, tak masalah.”
“Ini kembaliannya, silakan dihitung lagi.”
Kau menyerahkan seluruhnya. Bahkan uang seribu lima ratus hakmu masih berada di genggaman tangannya. Kau menjelaskan padanya, kemudian ayah dari bocah itu pun memberikan hakmu. Ia membayar sesuai apa yang sebelumnya telah kau sebutkan padanya.
Bocah lucu itu masih bermain-main dengan layang-layang. Ia tidak menghiraukan percakapanmu dengan Ayahnya. Angin semakin berhembus kencang di sepanjang jalan. Secara tiba-tiba, layang-layang hijau pada tangan kecil itu terlepas hingga ke tengah jalanan. Beruntung kau bisa mencegah bocah itu berlari mengejarnya. Rasa tanggung jawabmu begitu tinggi; sama seperti Ayahmu dulu.
Sorot matamu terkunci pada layang-layang itu. Seketika kau sudah berada di tengah jalan dengan layang-layang di tanganmu. Kau angkat lagi dadamu, kemudian matamu menangkap seorang anak berseragam putih abu-abu tengah berjalan mendekat ke arahmu. Lamat-lamat kau perhatikan wajahnya.
Dia Tyar, Anakku....
Batinmu yakin.
Kau tersenyum bangga mendapati wajah anakmu di seberang sana. Sesegera kau memanggilnya.
“Tyaaarrr!!!”
Lelaki itu menoleh ke arahmu. Seketika ia langsung membuang batang rokok yang terselip di sela jarinya. Ia takut kalau kau memergokinya sedang menghisap racun itu. Namun, kau kemudian dibuat bingung saat melihat ekspresi berikutnya dari anakmu. Ia melambai-lambaikan tangannya seperti memberikan isyarat padamu. Mulutnya berkomat-kamit seperti sedang menyampaikan sesuatu. Namun karena faktor usia, pendengaranmu lambat laun semakin berkurang.
Kau baru menyadari maksudnya saat suara klakson membuatmu memalingkan wajah ke arah belakang punggungmu.
“Awas Paaaakkk!!!”
Teriakan dari anakmu tak berhasil membuatmu berlari ke tepian trotoar. Tubuh bungkukmu terlanjur dihantam tanduk besi kuat dari kepala Truk yang melaju cepat. Kau terpental jauh melewati langkah anakmu. Kopiah hitam yang bersila di kepalamu turut terlepas meninggalkanmu. Pun sepasang sandal jepit yang hampir putus ujungnya terlontar ke pematang sawah samping trotoar. Anak-anak yang tengah mengejar layang-layang putus di sawah itu sesaat terpaku melihat kejadian yang baru saja menimpamu.
Masih ada sisa senyuman yang kau siapkan untuk anak lelakimu sejak pagi tadi. Suara remang-remang dari anakmu semakin tenggelam. Kedua kelopak matamu pun perlahan terkatup. Napasmu yang tersengal terbebas melalui kerongkonganmu yang kering. Tak ada lagi yang kau ingat, seketika hampa dan gelap.
Anakmu terus-menerus meraung dan air mata bening menguar hangat membanjiri wajahnya saat menghampiri tubuhmu yang sudah tak berdaya.
“BAPAAAKKK!!!” Ia mendekap tubuhmu. Berusaha menghentikan aliran darah segar yang mengucur bak keran air dari kepalamu akibat benturan keras pada sisi trotoar. Wajah penyesalan meliputi paras anakmu.
***
Satu tahun berlalu. Terlihat seorang anak lelaki tengah sibuk merangkai layang-layang di sisi jalan Drangong, Serang. Sejak pagi ia berangkat dari rumah untuk menempati lapak yang beberapa waktu lalu orang yang sangat menyayanginya berada di sana. Sesekali ia termangu dan tanpa terasa wajahnya telah dihujani air mata. Bukan perkara satu pun layang-layang yang belum berhasil dijualnya, yang ia buat sendiri dengan sangat buruk, akan tetapi sesuatu hal yang membuatnya menangis dan merutuki nasibnya adalah saat batinnya bergumam lirih:
Pada siapakah aku harus bertanya cara membuat layang-layang yang baik dan benar?[]


Pinggir Trotoar Serang, Mei-Juni 2014



*Ulasan cerpen Musim Layang-Layang dimuat di titiktemu.co klik: http://titiktemu.co/2015/11/01/motif-dalam-cerita/

You Might Also Like

4 komentar