PIGURA (Majalah UMMI, 30 Agustus 2014)

10:44 PM



Majalah UMMI (Juara 1 Milad UMMI ke-25 Tahun)

Tubuh Misni masih meringkuk seusia salat Tahajud. Ia terlelap di atas sajadah panjangnya dengan kedua tangan yang merangkul sesuatu. Keringat mengucur deras di keningnya yang keriput. Ia merasakan kobaran api tengah menguliti tubuhnya yang masih berbalut mukena. Seketika ia terjaga dari tidur. Hanya terdengar jeritan dari mulutnya yang kering. Lalu gulita, tak lagi ada suara.
***
Apa yang bisa dilakukan seorang anak untuk membahagiakan kedua orang tuanya?
Pertanyaan seperti itu yang kerap kali memenuhi pikiranku. Jika ditanya tentang kebahagiaan, aku selalu kesulitan menggali benakku untuk mencari jawabannya yang cocok. Sebab, sebelum membahagiakan orang lain, aku selalu mencoba menciptakan kebahagiaan untuk diriku sendiri terlebih dahulu.
Beberapa bulan terakhir ini aku selalu resah dengan keinginan ibu dan abah. Aku tahu mereka tidak mengatakannya langsung kepadaku. Tetapi dari raut wajahnya terlukis harapan yang begitu besar yang mampu membuatku memutuskan untuk berhenti kuliah saat menginjak semester lima.
“Ini sudah keputusan Adzim, Bu.”
“Tapi, Nak, sayang jika kuliahmu harus terhenti.”
Hatiku tergetar mendapatkan jawaban dari ibu. Padahal kulakukan ini agar tidak membebani abah dan ibu lebih lama lagi. Gaji seorang Guru agama tentu tidak akan selalu cukup untuk membiayaiku kuliah. Apalagi ibu yang hanya seorang penjahit. Penghasilannya tak menentu. Aku sudah dewasa dan keputusan ada di tanganku. Abah tak banyak bicara ketika tahu aku memilih berhenti kuliah. Namun sikapnya yang dingin serta tatapannya yang menohok hingga relung hatiku telah cukup mewakili apa yang akan dikatakannya.

Aku mencari informasi dari teman-temanku yang sudah bekerja. Setidaknya kemampuanku dalam mengoperasikan komputer bisa dijadikan pertimbangan dari perusahaan yang nantinya menerima lamaran kerjaku.
“Kapan, ya, Ibu dan Abah bisa berangkat ke Mekah,” ucap ibu suatu malam. Aku memerhatikan kedua bola matanya yang berbinar. Ya, aku menangkap sebuah harapan besar di dalam sana. Abah hanya tersenyum menanggapi perkataan ibu. Namun tatapan yang dalam dari mata Abah jua tak bisa disembunyikan lagi. Aku lelaki pun anak abah. Aku tahu apa yang sedang ada dalam pikiran abah saat melihat ibu memegangi pigura berukuran 25 x 38 sentimeter itu yang menyimpan foto sebuah pusat dari arah kiblat umat muslim sedunia.
Ini bukan pertama kalinya aku melihat ibu memeluk pigura itu. Pernah suatu waktu, ibu sampai meneteskan air mata sambil mengumandangkan Talbiah[1] layaknya orang yang sedang menunaikan haji dan umrah di Mekah.
“Labbaika... Allahumma Labbaik....”
Ayat itu sudah melekat pada pangkal lidah ibu. Setiap hari setiap waktu. Di saat sendiri, aku selalu terpikirkan bagaimana caranya memberangkatkan ibu dan abah ke kota kelahiran Nabi Muhammad Saw itu. Menunaikan rukun Islam yang kelima. Kota suci yang selalu diidam-idamkan banyak umat muslim untuk bertandang di sana. Pipiku basah dihujani air mata. Aku ingin sekali membahagiakan mereka.
***
Teriknya mentari tak sedikit pun menyurutkan langkahku untuk berjalan kaki menuju Bank. Ya, aku memilih berjalan kaki dari kantorku sampai ke Bank. Kebetulan tempatnya tidak terlalu jauh. Lebih baik uangnya aku tabung untuk memberangkatkan ibu dan abah ke tanah suci Mekah.
Aku melewati kampusku. Delapan tahun lalu tepatnya aku berada dalam ruangan itu mendengarkan materi perkuliahan yang membosankan. Ya, beginilah kehidupan. Bersyukur aku tidak menganggur terlalu lama saat memutuskan untuk berhenti kuliah. Sudah hampir tujuh tahun aku bekerja sebagai Administrator di sebuah perusahaan sederhana. Aku ingat pesan abah sewaktu kecil. ‘Syukuri apa pun yang kau dapat, karena belum tentu orang lain merasakan apa yang kita terima dari Allah.’
Fabiayyi alaa irobbikumaa tukadzibaan....
Gaji yang lumayan, sedikit demi sedikit bertambah memenuhi tabungan haji untuk ibu dan abah. Sengaja aku pisahkan tabungan haji dengan tabungan pribadiku. Aku masih menyembunyikan tabungan haji ini dari ibu dan abah. Meski sebenarnya aku sudah tak sabar ingin menceritakannya. Akan tetapi, aku lebih senang bila uang yang ada sudah mencukupi untuk memberangkatkan haji kedua orangtuaku. Kira-kira empat sampai lima tahun lagi akan aku ceritakan tentang tabungan haji ini kepada ibu dan abah.
Aku pulang larut malam. Hari ini aku mendapatkan jadwal lembur. Tak apalah, uang lembur bisa aku masukkan dalam tabungan haji. Aku mengetuk pintu pukul 01.30. Abah datang dan membukakannya. Aku mencium punggung tangan abah. Sejuk sekali. Aku tahu itu efek dari kebiasaan abah yang menjaga wudhunya. Terkadang aku rindu masa kecilku. Aku merindukan saat diajari mengaji oleh Abah.
Aku melintasi kamar ibu dan abah. Terlihat siluet lengkung tubuh ibu. Aku penasaran dan berjalan mendekat. Aku mengintipnya dari balik tirai. Tubuh ibu yang dibaluri mukena tengah menggenggam pigura yang tentu tak perlu aku ceritakan lagi foto apa yang berada di dalamnya. Lagi, ibu melantunkan Talbiah dengan suara seraknya yang bergetar. Dadaku turut bergeletar. Entah mengapa seakan ada sengatan listrik yang menjalar di sekujur tubuh ini. Aku terdiam beberapa menit di balik tirai—yang menjadi pemisah antara ruang kamar ibu dengan ruang tamu— dan ibu belum menyadari itu, sedang Abah telah membaringkan kembali tubuhnya di atas kasur. Tanpa menghiraukanku.
Segera aku putuskan untuk melangkah menuju kamar. Aku tidak ingin air di mataku menguar terus-menerus. Lagi pula tubuhku rasanya lelah setelah seharian bekerja. Mungkin malam ini aku absen dari salat tahajudku. Ya, kuakui, aku tidak serajin ibu dalam melaksanakannya.
***
“Kebakaran!!! Kebakaran!!! Kebakaran!!!”
Teriakan demi teriakan menelusup hingga lubang telinga Adzim. Kelopak matanya terbuka. Tak ada yang dipikirkannya lagi selain menyelamatkan diri ketika melihat ke arah luar melalui jendela, lidah api menjalar menuju kamarnya. Ia berkelebat mencari jalan keluar. Beberapa ruangan dalam rumahnya telah dilahap si jago merah. Disela larinya terdengar kumandang azan. Ia tersadar waktu masih subuh. Tak kurang kiranya pukul 04.30, pikirnya.
Adzim selamat. Ia berhasil meloloskan diri dari kepungan api yang merah menyala. Sekitar tiga rumah telah hangus menjadi abu. Adalah korsleting listrik dari rumah tetangganya, muara dari kebakaran yang tengah terjadi.
“Ibumu mana, Dzim? Aku hanya melihat Abahmu tadi berada di surau. Seseorang sedang menjemputnya untuk mengabari hal ini.”
Adzim terdiam. Satu persatu ia teliti wajah-wajah yang berada di sana.
“Ibu! Ibu! Ibu!”
Berulang kali ia berteriak hingga serak. Tak ada satu orang pun yang menyahutnya.
Jangan-jangan....
Batinnya tebersit dugaan ibunya masih berada di dalam rumah yang tengah dirangkul api. Ia berlari, namun kepungan tangan warga berhasil mencegahnya.
“Tunggu pemadam datang! Kobaran api semakin membesar, bahaya!”
“Tapi Ibuku di dalam! Lepaskan aku! Lepaskan!”
Lengan berotot dan tubuh kekarnya tak mampu melawan orang-orang yang mencegahnya. Wajahnya basah dikerumini peluh dan air mata.
“IBUUUU!!!”
Teriakan Adzim di sambut kobaran api yang semakin melangit beserta kepulan asap hitam pekat. Dalam benaknya hanya satu: ingin memberangkatkan ibu dan abah ke Tanah Suci.
Selang tiga puluh menit pemadam datang. Salah seorang petugas bersaksi saat berada di dalam rumah. Ia turut berduka dan menyesal sebab datang terlambat untuk menolong. Hanya ditemukan sebujur tubuh perempuan yang telah kaku meringkuk di atas sajadah yang telah hangus. Perempuan itu menggenggam sebuah pigura berbingkai kayu, samar-samar gambar yang terlukis di sana sebuah Kota tempat menunaikan haji dan umrah umat muslim sedunia.
Abahnya mendekap tubuh Adzim yang tersungkur lemas mendengar berita itu. Tangisan demi tangisan tak terbendung mengiringi kepergian Ibundanya. Satu buah mimpi terpaksa kandas dengan kejadian yang tidak bisa seorang pun mencegahnya. Mentari menampakkan wujudnya di antara rumah-rumah keluarga yang sedang berkabung.[]

Cilegon, 20 Mei 2014


[1] pengucapan kalimat ‘Labbaika Allahumma labbaik’ ‘aku menyerahkan diri kepadaMu, ya Allah’, diucapkan waktu memulai ihram haji dan/atau umrah

You Might Also Like

0 komentar