Cahaya Permata (Kumcer: Air Mata Sang Garuda, AG Litera 2013)

8:37 PM

BERMODALKAN dua puluh enam huruf, ia mampu membiayai sekolahnya hingga jenjang Perguruan Tinggi. Sejak tiga tahun silam, sewaktu ia masih duduk di bangku SMA, ia memulai karir kepenulisannya. Dari sekadar ajang meluapkan hobinya, Intan Nur Afifah yang memiliki nama pena Cahya Permata itu, kini bisa menghasilkan pundi-pundi rupiahnya dengan hasil dari peluhnya sendiri, setidaknya untuk tambah-tambah kebutuhan sakunya.
Nama penanya ia dapatkan dengan mudah, cukup mengartikan nama tengahnya ‘Nur’, yang berarti Cahaya, serta nama depan, ‘Intan’, yang ia sama artikan dengan permata.
Beberapa novelnya pernah menjadi best seller sejak pertama kalinya diterbitkan oleh salah satu penerbit mayor yang cukup ternama. Meski dilahirkan dari keluarga yang bisa dibilang serba kekurangan. Namun, Intan mampu merajut kisah pilunya itu melalui rangkaian kata dan kalimat hingga menjadi sebuah karya yang mampu menginspirasi para pembacanya. Terlebih, sejak kembalinya sang Ayah kepada Keharibaan yang Maha Kuasa. Intan berpikir kritis, demi menghidupi kedua adik perempuaannya yang masih belia dan untuk membantu mengurangi beban Ibunya, karena keadaannya yang mendesak itulah terpaksa akalnya mesti mampu berputar, tidak hanya berdiam diri.
Ibunya hanya sebagai buruh cuci, bisa dibilang, orangtua tunggalnya hanya seorang pembantu rumah tangga. Sekolahnya hampir terhenti karena kekurangan biaya, namun berkat kecerdasannya Intan mendapatkan beasiswa ketika
masih SMA hingga lulus sekolah.
“Syukurlah, Nak. Ibu beruntung memiliki anak sepertimu,” puji ibunya sambil mengelus rambutnya perlahan.
“Tidak, Bu. Aku yang beruntung memiliki orangtua seperti, Ibu. Yang dengan tulus mau mengasuhku serta adik-adikku hingga detik ini.” Senyumnya mengembang penuh ketulusan hati.
***
Tiga tahun lebih telah berlalu, berganti waktu, berganti perilaku. Intan yang pendiam, kini telah terseret pada arus kemewahan. Sejak buku-bukunya laris manis di pasaran, ia seolah disulap menjadi selebriti bak bintang film yang berseliweran di televisi.
Konon, salah satu judul bukunya kini sedang digarap oleh sutradara terkenal di kota, menjadi sebuah film yang akan disukai para penikmat drama cinta. Iya, tiga tahun silam, Intan merantau ke Ibukota, meniti karir kepenulisannya yang sedang menjadi buah bibir di tengah masyarakat.
Pernah suatu masa, Ibunya meminta ia untuk kembali ke desa, menemaninya serta kedua adiknya yang beranjak remaja.
“Sudahlah, Bu. Aku janji akan pulang ke Desa, dan mengajak Ibu untuk tinggal bersamaku di Kota, tenang saja!” sahutnya ringan dari ujung telepon.
“Tidak, Nak. Ibu tidak ingin tinggal di Kota, biarkan Ibu dan adik-adikmu tinggal di sini, kami sudah merasa nyaman, kok. Hanya saja, ibu inginkan kamu tinggal lagi bersama kami, di desa, Ibu merindukanmu, Tan!” lirihnya dengan suara yang gemetar.
“Sudahlah, Bu. Biarkan Kak intan tinggal di sana, mungkin dia tidak ingin kita ganggu, dia ‘kan sedang sibuk dengan urusannya,” ucap Andin adik pertamanya menenangkan, “Lagi pula, ibu ‘kan sedang sakit, sudah tak perlu memikirkan sesuatu yang malah nantinya membuat Ibu bertambah stres, Ibu mesti banyak istirahat!” imbuhnya mengingatkan.
“Sudah, ya, Bu. Aku sedang ada urusan dengan proyek film yang mengangkat karyaku, ini kesempatanku, Bu. Aku tidak ingin menyia-nyiakannya,” Ucapnya antusias, seolah mengabaikan perasaan rindu yang mendera hati ibundanya.
Air mata menetes menyiram wajah keriputnya. Batuknya yang semakin menjadi, menambah sesak pernapasan di kerongkongan tenggorokannya. Tak heran jika hampir dua minggu terakhir, ibunya jadi tidak nafsu makan. Kedua anaknya yang cemas, selalu memaksa ibunya untuk makan dan menyuapinya dengan tulus. Karena mereka takut, akan kehilangan orang tua satu-satunya yang membesarkannya sampai sekarang. Mereka bangga dengan kesuksesan kakaknya, namun, di sisi lain mereka kesal akan sikapnya yang dingin serta menomor-duakan keluarga, dibanding kerjaannya, meski kebutuhan sehari-hari kini meraka merasa dicukupi oleh Intan yang tidak pernah absen mengirimi uang tiap bulannya melalui ATM Ibunya.
***

Hari ketiga jumpa fans pun sebagai hari terakhir di salah satu kafe ternama di Ibukota.
Benar-benar sebuah kenyataan yang tidak pernah Intan duga sebelumnya. Jalan hidup yang menyenangkan dalam pandangannya kini tengah ia jalani. Sungguh sulit dipercaya, katanya dalam hati. Antrian panjang lurus berbanjar ke belakang, mungkin ada juga yang sampai bermalam di cafe itu, hanya demi mendapatkan tanda tangan serta bisa foto bersama sang penulis idolanya yang saat itu tengah menjadi “Rising Star”.
Tepat pukul 08.00 pagi, jumpa fans dibuka kembali. Berjubel pengunjung tak terelakan, bahkan sempat ada yang hampir baku hantam, karena hal sepele dan salah paham, seperti hari-hari sebelumnya.
Intan duduk di kursi kehormatannya, dengan senyum simpul menghiasi wajahnya nan ayu. Lelah yang ia rasakan, seolah hilang saat melihat antusiasme para fansnya yang rela datang, demi untuk bertemu dengannya. Satu-persatu fans maju bergantian, dengan pengawalan bodyguard yang menjaga keamanan situasi.
Nada dering ponsel Intan, tak henti-hentinya berbunyi. Sesekali ia lihat dari siapa panggilan itu, dan rupanya itu dari Andin, adik pertamanya. Karena jengkel, ia mematikan ponselnya. Lama ia menonaktifkan ponselnya. Tiga jam sudah berlalu, dan waktu istirahat pun tiba. Ia mencoba mengaktifkan lagi ponselnya. Masuk sebuah pesan, yang tertera nama Andin, sekitar dua jam yang lalu.
“Kak Intan, maaf. Mungkin aku tadi mengganggu aktifitas kakak, sampai kakak tidak mau menerima telepon dariku, tetapi ada yang ingin aku sampaikan kepadamu, yang selaku kakakku. Ibu sedang sakit di desa, dan sudah hampir satu bulan belum juga membaik. Jika kakak ada waktu luang, tolong sempatkan menjenguk ibu. Dengan sangat berharap kakak bisa segera berkunjung ke rumah ini.” Pesannya penuh pengharapan, namun Intan membalas dengan sangat singkat.
“Iya, tapi aku sedang sibuk. Salam saja pada Ibu, semoga cepat sembuh.”
“Kak Intan!” Tegur seorang fans.
“Hai!” Ia memasang paras bahagianya lagi. Ia geletakkan ponselnya di atas mejanya.
Gak nyangka, aku bisa bertatap muka langsung dengan Kakak. Aku fans beratmu, Kak! Kakak adalah penulis favoritku,”
“Terima kasih, ya,”
“Tahu gak, Kak. Aku dari kemarin lo ada di kafe ini, Aku bela-belain demi untuk bertemu langsung dengan Kakak. Aku dari Banjarmasin, jadi Aku tidak pulang dari kemarin, terpaksa deh, Aku menginap di sini,” tawanya ceria, seraya menjelaskan hal yang tanpa ada yang memintanya.
“Wah, terima kasih banyak, ya. Kamu masih sekolah? Kelas berapa?” tanyanya mencairkan suasana.
“Ya, Aku masih sekolah. Kelas 2 SMP. Aku ke sini bareng teman-temanku, he-he-he... kita bolos bersamaan,” ujarnya polos, diiring tawa sipunya.
“Wah, jadi merasa bersalah. Oh, ya, berarti kamu seumuran dengan adikku...” sejenak ia menghentikan ucapannya.
“Kak, minta tanda tangannya dong, di sini,” sambil menyodorkan salah satu buku karya Cahya permata. Selesai itu, gadis polos itu pun meminta foto bersama. Namun, tiba-tiba orangtuanya datang menjemput.
“Shena! Astaga... Ibu mencarimu dengan Bapak. Tahunya kamu ada di Jakarta. Sudah tiga hari kamu tidak pulang, ibu khawatir, Nak, dengan keadaanmu. Kenapa tidak mengabari Ibu jika ingin menghadiri acara ini, kan Ibu bisa antar. Jakarta-Banjarmasin itu jauh lo, untung saja temanmu memberitahu Ibu!” ucap seorang ibu berbadan besar itu cemas.
“Maaf, Bu. Habis waktu Aku mau berangkat kemari, Ibu tidak ada di rumah,” jawabnya menyangkal.
“Maaf ya, Bu. Mungkin ini juga salahku, jadi anak Ibu melakukan itu!” ucap Intan merasa bersalah.
“Oh, tidak apa-apa. Ini bukan salah Mbak, kok. aku senang jika anakku ada di acara ini, dia banyak cerita tentang, Mbak Intan. Hanya saja dia tidak pamit denganku.” Sambil menunjuk anaknya.
Percakapan mereka terpaksa disudahi, karena bodyguard mulai menyuruh mereka turun dari panggung itu, sebab saat itu masih jam istirahat dan antrian semakin ramai.
“Sekhawatir itukah seorang ibu? Padahal baru tiga hari, namun dia rela mencari anaknya dengan susah payah. Aku jadi merasa bersalah dengan tingkahku,” katanya, “Ada apa denganku? Ibu yang benar-benar merindukanku, tapi malah aku abaikan. Bahkan sampai adikku mengabari bahwa ibu sakit, aku pun masih membiarkannya, malah memilih profesiku yang akhirnya benar perkataan Andin, aku seolah menomor-duakan keluargaku.” Intan mulai terdiam, ia izin sebentar untuk keruangannya. Air matanya membuat wajah penuh make-up-nya itu berantakan. Raut penyesalan terlukis jelas tanpa bisa ia sembunyikan lagi.
“Bodohnya diriku,” Ia memaki diri sendiri. “Aku ini wanita, mau bagaimanapun  aku pasti akan menjadi seorang ibu. Merasakan apa yang ibuku kini sedang rasakan. Mengapa jiwa ini tertutupi dengan kemewahan, keglamoran dengan kejayaan yang malah membutakan mata hatiku. Maafkan aku, Bu. Maafkan aku, ya Allah. Aku anak yang tidak tahu diri, tidak tahu terima kasih. Tanpa Ibu, mungkin aku tidak ada di sini, merasakan kegemilangan yang luar biasa.” Tangisnya pecah membanjiri wajahnya.
***
Sehari setelah itu, Intan segera berbenah diri. Ia mengambil keputusan yang orang lain tidak menyangkanya. Intan memutuskan untuk kembali tinggal di desa, bersama keluarga tercintanya. Keputusannya sudah bulat, bahkan tawaran untuk membintangi film yang mengadaptasi cerita dari novelnya, sebagai peran utama, ia tolak. Kini Intan mencoba menjadi Intan yang dahulu. Wanita desa, yang penuh pendirian dan komitmen.
Pekerjaan wanita yang paling mulia adalah melayani keluarga dan suaminya kelak. Menjadi Ibu rumah tangga adalah tujuan akhirnya kini. Ia berjanji akan mengabdikan hidupnya untuk keluarga, dan calon pendamping hidupnya nanti. Cita-cita sebagai wanita karir yang sukses dan populer, seolah ia simpan dalam kotak kayu, membungkusnya, lalu menimbunnya dengan seuntai penyesalan.
Kedatangannya di sambut meriah dengan Ibu serta kedua adiknya. Mereka mengiyakan keinginan Intan untuk kembali menetap bersama di desa yang penuh aroma kenyamanan.
Meski begitu, Intan tidak meninggalkan dunia literasi yang sudah pernah membesarkan namanya, hanya saja ia mengurangi porsinya antara sebagai penulis dan selebriti. Intan hanya ingin berbagi pengalaman melalui karyanya, dan berharap dapat terus menginspirasi para pembaca setianya. Ia hanya ingin kembali menjadi sosok Intan Nur Afifah yang dahulu, bukan sebagai Cahya Permata yang ‘pernah’ menimbun hati nuraninya dengan keglamoran duniawi belaka.[]

You Might Also Like

0 komentar